Kabuyutan Galunggung, Misteri yang belum terkuak

Oleh :
Hamdan Arfani
Keturunan ke-13 Batara Gunawisesa

Jika masyarakat Arabia mengenal Mekkah dan Yerusalem sebagai wilayah keramat, maka di tatar Sunda orang mengenal Galunggung sebagai sebuah kabuyutan. Di Mekkah terdapat 'maqom' (bekas petilasan) Ibrahim, maka di Galunggung terdapat 'sanghyang tapak Parahyangan' (bekas petilasan para leluhur awal). Seorang sesepuh bernama Aki Anang alias Raden Anang Daryan Jayadikusumah (1926 -- 2000), pemimpin kelompok kebatinan 'jati Sunda' yang juga keturunan Batara di Galunggung, pernah menuturkan berita turun-temurun kurang lebih sebagai berikut : Bahwasanya pada jaman yang telah lampau sekali, tatar Sunda adalah daerah perairan yang hanya terdapat satu daratan yang tidak terlalu luas (jaman air). Daerah tertinggi dari daratan itu adalah puncak dari sebuah gunung yang kini disebut Galunggung. Pada jaman itu puncak Galunggung adalah daratan tertinggi di tatar Sunda. Pada hari yang diberkahi, tibalah sebuah perahu besar yang memuat banyak sekali manusia dan hewan peliharaan. Sebagian orang-orang perahu itu turun dan tinggal menetap membangun komunitas manusia yang baru. Itulah nenek moyang manusia Sunda sekarang, dan menjadikan Galunggung sebagai sebuah kabuyutan atau 'sanghyang tapak Parahyangan'.

Galunggung sebagai sebuah kabuyutan nyata disebut dalam guratan naskah lontar yang temukan di Ciburuy, Garut, yakni sebuah naskah yang setelah diteliti merupakan naskah lontar tertua di Indonesia dengan kode Kropak 632. Kropak 632 ini diperkirakan dibuat pada tahun 1030-an masehi. Dalam naskah itu diberitakan bahwa Rakeyan Darmasiksa memberikan petuah kepada anak cucunya tentang pegangan hidup, dan bahwa kabuyutan di Galunggung harus dijaga dan dipertahankan agar tidak dikuasai oleh orang asing (Danasasmita, 2006). Pesan Sang Darmasiksa bahwa Galunggung jangan sampai dikuasai orang asing nampaknya mirip dengan larangan bagi kaum non muslim memasuki tanah al Haram di Makkah (tanah larangan di Mekkah, Arab Saudi). Mengapa kabuyutan perlu dijaga, tentulah karena kabuyutan adalah cikal dan simbol jatidiri. Rusaknya kabuyutan Galunggung berarti pudarnya jatidiri dan nilai-nilai asli yang khas dari masyarakat Sunda! Pesan Rakeyan Darmasiksa yang termuat dalam Kropak 632 dibukukan oleh Atja (1929--1991) dan Saleh Danasasmita (1933--1986) dengan judul 'Amanat Galunggung' (diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Musium Jawa Barat).

Wibawa Galunggung sebagai sebuah kabuyutan, nampak pula dari petikan 'Babad Tanah Jawi ' dan 'Carita Parahyangan', bahwasanya putra sulung Raja Galuh yang bernama Sempak Waja menjadi Batara (raja pandita) di Galunggung dengan gelar Batara Dangiang Guru, yang melantik raja-raja yang akan berkuasa. Kedudukan Batara di Galunggung yang amat tinggi didukung pula oleh penemuan naskah kuno lain dengan kode Kropak 406, yang isinya menerangkan kurang lebih sekitar tahun 1030-an, datanglah Darmasiksa (Sri Jayabupati) menghadap Batara keturunan Batara Dangiang Guru Sempak Waja, meminta wilayah yang kemudian diberi nama oleh Batara yang berkuasa itu sebagai 'tempat tinggal Sang Karma' (Saunggalah). Darmasiksa atau Sri Jayabupati menurut Carita Parahyangan adalah anak dari Sang Lumahing Winduraja. Sedangkan menurut naskah Pangeran Wangsakerta, Jayabupati adalah Raja Sunda ke-20 yang memerintah tahun 1030--1042 (Ekadjati, 2005).

Demikianlah Galunggung disebut sebagai kabuyutan, sebagai 'sanghyang tapak Parahyangan' yang sangat dikeramatkan dan dijaga oleh para 'raja pandita' (Batara) yang memiliki kekuasaan yang sangat tinggi di atas raja-raja biasa.

Kabuyutan-kabuyutan lain yang muncul terkemudian, yang merupakan 'turunan' dari kabuyutan Galunggung banyak tersebar di wilayah Jawa Barat, diantaranya Denuh, Ciburuy, Sumedang, Linggawangi, dan Panjalu. Seperti halnya di Galunggung, kabuyutan-kabuyutan ini pun dipimpin oleh raja pandita bergelar Batara.

PARA BATARA DI GALUNGGUNG

Membahas kabuyutan Galunggung tidak bisa lepas dari topik para Batara yang mendudukinya. Sejauh ini naskah-naskah kuno paling banyak menyebutkan nama 'Batara Dangiang Guru Sempak Waja' yang menjadi Batara di Galunggung. Batara-batara lain sesudahnya pun kadang disebut dengan menyertakan nama besar Dangiang Guru Sempak Waja, seperti halnya yang tertulis pada Kropak 406 di atas. Dari Prasasti yang ditemukan di Gegerhanjuang, Tasikmalaya, diketahui nama seorang Batara wanita. Mungkin Batara wanita satu-satunya, bernama Batari Hyang, yang pada tahun 1111 mengubah bentuk kebataraan menjadi kerajaan, yaitu Kerajaan Galunggung. Menurut versi lokal, diketahui setidaknya enam orang Batara yang memerintah setelah Batari Hyang tahun 1111, dan tidak diketahui jumlah Batara sebelum masanya. Para Batara penguasa Galunggung yang dikenal masyarakat lokal diantaranya Batari Hyang, Batara Sempakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, dan Batara Wastuhayu. Versi keluarga R. Anang Daryan Jayadikusumah menambahkan nama Batara Gunawisesa, juga disebutkan jumlah semua Batara yang pernah ada sejumlah 13 orang (lihat topik diskusi BATARA GALUNGGUNG kiriman Batara Gema).

Batara Gunawisesa adalah kakak sulung Batara Kuncung Putih. Adik-adik Batara Gunawisesa dari yang tertua hingga yang termuda adalah Wahyu Cakraningrat (makam di Curug Tujuh Galunggung), Ambu Sarigan (makam di Dinding Ari Galunggung), Ambu Hawuk alias Nyi Mas Garsih (makam di Dinding Ari Galunggung), dan Batara Kuncung Putih (makam di Kawah Galunggung).

Menindaklanjuti informasi dari prasasti Gegerhanjuang bahwasanya pada tahun 1111 masehi terjadi perubahan bentuk pemerintahan dari bentuk kebataraan menjadi kerajaan, tentulah menimbulkan pertanyaan mengenai perbedaan kedua bentuk pemerintahan tersebut. Sejauh ini belum ada rujukan pustaka yang menerangkan hal itu.. Namun menurut hemat Penulis, barangkali bentuk kebataraan dapat dimisalkan dengan bentuk kepausan katolik sekarang ini yang berkedudukan di Roma. Italia, yakni pemerintahan setingkat negara (bahkan lebih dari itu) yang hanya mengurusi keruhanian masyarakat. Kemudian barulah pada tahun 1111 masehi, yakni pada jaman Batari Hyang, Batara tidak hanya mengurusi masalah ruhani masyarakat, namun juga masalah kompleks sehari-hari seperti kesejahteraan rakyat, politik, budaya, dan lain-lain. Dengan demikian, bertambahlah fungsi Batara sejak saat itu, meminjam istilah Islam, yakni sebagai 'ulama' (tokoh ruhani) sekaligus 'umaro' (tokoh birokrat pemerintahan).

JATI SUNDA SEBAGAI ‘AGAMA’ PARA BATARA

Kini muncul sebuah pertanyaan baru. Sebagai tokoh ruhani, apakah 'agama' para Batara ? Menilik berdasar istilah, 'batara' tentulah kental dengan ke-Hinduan yang dibawa dari India. Bisa jadi para Batara di Galunggung beragama Hindu adanya. Tapi bisa jadi pula tidak, meski segala istilah meminjam unsur ke-Hinduan. Danasasmita (2006) dalam tulisannya berjudul 'Batu Nyantra dari Tapos' memberikan informasi yang disepakati oleh Penulis, bahwa agama orang Pajajaran (Sunda, Parahyangan) mengandung tiga unsur utama, yakni 'Hinduisme', 'Budhisme', dan 'Jati Sunda' dengan pemuliaan para leluhur. Dari ketiga unsur tersebut, ternyata 'Jati Sunda' yang paling mendominasi.

Merujuk pada pendapat Saleh Danasasmita (2006) pada tulisan berjudul 'Batu Nyantra dari Tapos' dan 'Hubungan Sri Jayabupati dengan Prasasti Geger Hanjuang, Penulis akan mengulas tentang alam spiritual masyarakat Sunda kuno, terutama para Batara di Galunggung :

Berdasar istilah-istilah dan nama-nama yang terdapat pada prasasti dan naskah kuno lainnya, para ahli berpendapat bahwa agama yang berkembang di tatar Sunda adalah Hindu. Namun setelah diteliti, apabila Hindu yang dianut, maka Hindu orang Sunda berbeda dengan Hindu di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hindu di tatar Sunda tidak mengenal kasta, yang ada hanyalah feodalisme biasa. Agama Hindu yang agak cocok dengan profil spiritual di tatar Sunda adalah Hindu Tantrayana, yakni perpaduan Hindu dan Budha, namun lebih mengarah ke Budha. Hal ini didukung oleh penemuan "Batu Nyantra" di Tapos, Bogor, pada tahun 1979, yang pada bagian atasnya terdapat goresan serupa gajah, dimana gajah adalah simbol aliran Tantrayana yang lebih mengarah ke Budhiisme. Gambar gajah terdapat pula pada prasasti Kebon Kopi yang ditemukan di Kampung Muara, Cibungbulang, Bogor. Dengan demikian, Budhisme lebih dominan daripada Hinduisme dalam pengertian 'Siwaisme' pada masyarakat tatar Sunda kala itu.

Meminjam ungkapan Danasasmita, meninjau sejarah keagamaan di India, sebenarnya Budhisme dapat disebut sebagai salah satu aliran dalam agama Hindu. Sedangkan, agama Budha sendiri pada dasarnya lebih cenderung merupakan filsafat daripada agama. Ajaran agama Budha pada asal muasalnya tidak mengenal ritual ibadat karena menurut pahamnya keberhasilan mencapai nirwana semata-mata bergantung pada kebenaran karma (perbuatan) belaka.

Apa yang membedakan Budhisme dengan Hinduisme ialah watak Budhisme yang kosmopolit, dapat dianut oleh mereka yang bukan Hindu. Hinduisme pada dasarnya bercorak Aryan, bercorak khas Hindu, kerena menurut doktrin yang mendasarinya, seorang Hindu dilahirkan dalam kasta. Agama Budha tidak mengenal sistem kasta. Agaknya nilai-nilai Budhisme inilah yang menjadi bagian 'irisan' dengan falsafah asli Sunda, yaitu 'Jati Sunda'. Menurut hemat Penulis, bukan Hinduisme atau Budhisme yang mendominasi alam spiritual orang Sunda, terutama para Batara di Galunggung. Hinduisme dan Budhisme hanya memperkaya khasanah spiritual dan bahasa. Logika sejarah mendukung pendapat Penulis, bahwa semenjak filtrasi besar-besaran ajaran Islam dari Cirebon dan Banten abad ke-16 di tatar Sunda, Hinduisme dan Budhisme begitu mudah sirna, sementara 'Jati Sunda' masih tetap ada dan hidup di hati masyarakat Sunda hingga detik ini. Jadi mana yang lebih berurat-berakar : Hinduisme - Budhisme atau 'Jati Sunda' ?

Ajaran 'Jati Sunda' mengajarkan keimanan kepada Tuhan Yang Satu, hidup sederhana (meurih), saling tolong menolong, bersahaja, dan 'kembali ke alam' atau 'back to nature', yakni bahwa alam dan manusia saling memberi sebab - akibat (Suganda, 2006). Ajaran 'Jati Sunda' ini masih nampak kental pada beberapa komunitas masyarakat di wilayah tatar Sunda, diantaranya masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Kuta di Ciamis, Kampung Dukuh dan Kampung Pulo di Garut, Kampung Urug di Bogor, Kampung Ciptarasa - Sirnarasa di Sukabumi, dan Kanekes di Banten. ‘Jati Sunda’, jika dianggap agama, maka agama ini mirip dengan agama Nabi Ibrahim as. Agama Ibrahim belum bernama Islam. Para ulama menyebut agama Ibrahim adalah agama Hanif, yakni agama ‘Jalan Lurus’.

Demikianlah, bahwa banyak istilah Kehinduan yang memperkaya khasanah bahasa di tatar Sunda, khususnya di kabuyutan Galunggung, yang faktanya tak terbantahkan. Begitu pula sumbangan ajaran Hinduisme dan Budhaisme yang memperkaya falsafah asli 'Jati Sunda'. 'Jati Sunda' agaknya sudah ada jauh sebelum Hinduisme - Budhisme dikenal di Galunggung.

'Jati Sunda' mungkinkah 'agama' yang dibawa para Parahyangan (leluhur awal) yang merapat di Galunggung pada jaman air seperti cerita yang ditutur oleh mendiang Aki Anang ? Benarkah cerita Aki Anang tentang hal ikhwal karuhun Sunda di Galunggung ? Kita semua masih menunggu jawaban ilmiah dari para ahli.

Kabuyutan Galunggung : masih misteri yang belum terpecahkan ...

TAMBAHAN :
SILSILAH AKI ANANG (R. ANANG DARYAN JAYADIKUSUMAH) KE BATARA DI GALUNGGUNG


R. Anang Daryan Jayadikusumah (Aki Anang) adalah putra dari R. Waspian Sacakusumah bin Altasan Sacakusumah dan R. Surkiah Wiarsih binti Suyatma Adiwijaya.

Adapun silsilah dari garis ayah adalah sebagai berikut : R. Anang Daryan Jayadikusumah bin Waspian Sacakusumah bin Altasan Sacakusumah bin Adijaya Sacakusumah bin Sunarya Sacakusumah bin Dalem Rana Yudakusumah bin Dalem Paringga Yudakusumah bin Dalem Singaparna. Dalem Singaparna menikah dengan Dewi Manasih binti Prabu Tajiwulung bin Susuhunan Alengga Galunggung bin Batara Gunawisesa.

Silsilah dari garis ibu sebagai berikut : Surkiah Wiarsih (Ibu) binti Suyatma Adiwijaya bin Karta Adiwijaya bin Arpan Adiwijaya. Arpan Adiwijaya memiliki Ibu bernama Ambu Lembok alias Dewi Arsih binti Dalem Pasarean bin Dalem Brajagalong bin Dalem Pakuluran bin Dalem Jamsu bin Dalem Heulang Mangkak bin Prabu Linggawestu bin Prabu Syech Jiwa Raga dst.




DAFTAR PUSTAKA

Suganda, Her. 2006. 'Kampung Naga Mempertahankan Tradisi'. Penerbit PT Kiblat Buku Utama. Bandung

Danasasmita, Saleh. 2006. 'Hubungan antara Sri Jayabupati dan Prasasti Gegerhanjuang' dalam 'Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda' - Kumpulan makalah. Pusat Studi Sunda. Bandung

Danasismita, Saleh. 2006. Batu Nyantra dari Tapos' dalam 'Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda' - Kumpulan makalah. Pusat Studi Sunda. Bandung

Ekadjati, Edi. 2005. 'Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta'. Pustaka Jaya. Jakarta

sumber http://hamdanarfani.blogspot.com

Uga Prabu Siliwangi

Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”

Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :
“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.

Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.

Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.

Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.

Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.

Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!

Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.

Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.

Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!

Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.

Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!

sumber; http://alangalangkumitir.wordpress.com/category/uga-wangsit-siliwangi/

Mengapa Saya Golput?

Oleh: Abdurrahman Wahid

Kita semua tahu, bahwa dalam pemilu capres-cawapres 20 September 2004 nanti, terdapat dua pasanagan: Megawati Soekarnoputri (M)- Hasyim Muzadi (H) di satu sisi dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - M. Jusuf Kalla (MJK). Tiap kali ditanya orang, penulis menyatakan tidak akan memilih pasangan manapun sikap ini dinamai golongan putih atau golput. Karena ditanya berulang kali dimana-mana, maka penulis memutuskan untuk mengemukakan jawaban itu dalam sebuah artikel yang kali ini Anda baca sendiri. Penulis berharap, dengan demikian tidak ada lagi yang bertanya, dan terus terang saja tidak akan ada yang dapat merubahnya. Namun penulis akan memenuhi ketentuan undang-undang tentang hal ini: tidak mengajak siapapun, melainkan melakukan tindakan yang merupakan pilihan pribadinya, tanpa ajakan formal kepada siapapun juga.

Alasan utama bagi penulis bersikap golput, bagi penulis adalah melakukan hal itu sebagaimana protesnya atas kecurangan, pemihakan, manipulasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menurut penulis melanggar sejumlah undang-undang (UU), UU No. 23/1992 tentang Kesehatan, No.4/1997 tentang Penyandang Cacat, No. 12/2003 tentang Pemilu Legislatif dan dua pelanggaran terhadap UU No.23/2003 tentang Pemilu Presiden. Bahwa, pengadilan kita yang diwakili baik oleh Mahkamah Agung (MA) Mahkamah Konstitusi (MK) pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta maupun Pengadilan Negeri semuanya berdiam diri terhadap 5 buah pelanggaran itu, di mata penulis tidak berarti KPU tidak melakukan pelanggaran UU, bahkan dimanapun dan kapanpun penulis selalu menyatakan sistem hukum kita sedang dikuasai oleh ‘mafia peradilan”.

Sikap golput penulis itu, adalah sebuah sikap moral yang merupakan hak penulis sebagai warga negara, menurut tata hukum yang berlaku. Kalaupun penulis ditangkap karena bersikap demikian, maka berarti memang keseluruhan sistem politik kita sudah menjadi busuk dan kediktatoran atas nama “kedaulatan hukum” menjadi ciri kehidupan bangsa secara keseluruhan. Bagaimanakah hal itu dapat terjadi, tentu akan menjadi “urusan” bangsa kita, dan bukannya masalah pribadi penulis semata-mata. Mungkin, pada saat itu penulis sudah mengajar di sebuah Universitas di negeri lain karena tidak dapat lagi hidup dengan merdeka di negeri sendiri. Namun, penulis tidak mengharapkan Allah akan membuat keadaan di negeri menjadi demikian. Apa sebabnya? Karena bangsa kita akan hidup dalam ketakutan yang mencekam, untuk dapat benar-benar merdeka dan mempertahankan kebenaran. Apapun ucapan orang, bahwa telah terjadi reformasi pada tahun 1998, tapi dalam kenyataan reformasi itu telah “dicuri orang”, dan sistem politik kita hampir-hampir tidak mengalami perubahan. Karena itulah benar kata orang, bahwa kita adalah “bangsa lunak” yang tidak berani mempertahankan pendirian, seperti diungkapkan Gunnar Myrdal melalui bukunya “Asian Drama”, yang penulis baca beberapa tahun yang lalu. Adapun pendapat bahwa demokrasi dapat berkembang secara bertahap/incremental, penulis sanggah dengan ungkapan demokrasi harus datang secara total. Adolf Hitler yang kemudian dianggap menjadi diktaktor besar karena membunuh sekitar 35 juta orang melalui Perang Dunia II bermula dari demokrasi Republik Weimar ini tahun 1930-an.

Dari bangsa besar berjumlah lebih dari 205 juta jiwa, tidak ada seorangpun manusia Indonesia yang berani menyatakan secara terbuka atas sikap yang diambil KPU itu. Kalaupun ada, itupun tidak didengar orang, karena dinyatakan oleh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kelompok-kelompok mahasiswa yang tidak menguasai “pendapat umum” (public opinion). Karena itu, dengan segala rasa simpati dan syukur, masih ada manusia Indonesia yang bersikap demikian, dan penulis berketetapan hati akan terus memperjuangkan demokrasi di negeri kita. Sementara para pemimpin di negeri kita saat ini, sedang asyik memperjuangkan kepentingan sendiri melalui pelestarian status quo sistem politik dari masa lampau. Demokrasi hanya ada di kertas, melalui pembentukan berbagai lembaga seperti pihak eksekutif, legislative, yudikatif tetapi yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Herankah kita jika KPU lalu menjadi arogan, dan mengembangkan fungsi ekstrakonstitusional yang sebenarnya telah diatur oleh Undang-Undang Dasar. Ia menganggap diri benar, karena lembaga-lembaga pemerintah tidak berani melakukan koreksi aapapun atas dirinya. Padahal, untuk tiap pelanggaran KPU terhadap sebuah undang-undang yang ditentukan oleh sistem hukum nasional kita, hukumannya maksimal adalah kurungan badan selama 5 tahun. Jadi, secara keseluruhan, Nazarudin Syamsuddin selaku Ketua KPU diancam dengan kurungan badan maksimal selama 25 tahun. Namun, sampai hari inipun ternyata baru ada gugatan perdata di muka Pengadilan Negeri di Jakarta pusat oleh penulis agar KPU membayarnya 1 triliun rupiah selaku penggantian atas kehilangan hak-hak sipilnya untuk menjadi calon Presiden.

Sementara itu telah dipakai “logika aneh” oleh PTUN di Jakarta, yang rekomendasikan oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) untuk memeriksa keberatan hukum penulis atas keputusan KPU yang dianggap penulis melanggar hukum. PTUN menyatakan, tidak dapat melanjutkan pemeriksaan atas perkara itu, karena jika dilakukan agenda ketatanegaraan bisa terganggu. Bukankah justru kasus hukum pada pengadilan apapun di negeri kita, justru dimaksudkan untuk “memberi keadilan” kepada para warga negara kita. Keanehan-keanehan seperti inilah yang dapat diselesaikan jika perundang-undangan dapat dirumuskan oleh lembaga-lembaga perwakilan yang dipilih secara demokratis. Dengan ungkapan lain, upaya KPU yang dilakukan sekarang berarti langkah-langkah untuk mempertahankan status quo sistem politik “akal-akalan” yang ada dewasa ini.

Kenyataan demi kenyataan yang penulis gambarkan di atas, tidak heran jika lalu mendorongnya kepada sikap menolak berpartisipasi dalam sebuah “pemilu” yang hanya akan mempertahankan dan melestarikan status quo? Penulis beranggapan, keikutsertaannya dalam pemilu seperti itu, hanya akan berarti kerja “memperpanjang penderitaan” saja. Karenanya ia lalu mengambil sikap “bergolput ria”. Apa akibatnya bagi sistem politik kita yang ada dewasa ini? Mungkin dengan sikap penulis itu, akan cukup banyak anak-anak bangsa yang tergerak hati dan pikiran mereka untuk melakukan perlawanan lebih jauh. Bukankah hal itu sama dengan sikap Bung Hatta yang ditahun-tahun 50-an meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden dan menerbitkan bukunya “Demokrasi Kita”?

Ini berarti semua upaya telah dilakukan, penulis tinggal menyerahkan perjuangan pada tahap berikut kepada generasi muda yang akan memimpin bangsa ini. Penulis tidak menyesal telah mengambil keputusan seperti ini, walaupun harus menyatakan dalam tulisan ini, bahwa “api demokrasi” tetap menyala dalam dadanya dan akan dibawanya ke liang kubur. Kalau bangsa ini menghendaki ia turut serta dalam perjuangan menegakkan demokrasi di masa mendatang, harus ada “petunjuk yang jelas” bagi penulis. Bukankah dengan demikian, penulis tidak meninggalkan gelanggang perjuangan, yang dalam bahasa wayang kulit disebut sebagai “colong playu”? Tetapi ini adalah kesadaran (yang mungkin juga keliru), bahwa memang memperjuangkan demokrasi untuk sebuah negeri dan bagi sebuah bangsa, memang mudah dikatakan, tetapi sulit dilaksanakan (sendirian saja), bukan?.


Aneka Pendapat Tentang Golput

Artikel ini didiktekan hari Sabtu 18 September 2004, sambil menunggu pesawat terbang di Cengkareng. Artikel ini dimaksudkan untuk diterbitkan 24 September 2004, beberapa hari setelah pemilu Capres-Cawapres dipilih dalam pemilu putaran kedua. Dua hari sebelumnya, melalui siaran-siaran radio Elshinta dan Jakarta News FM, penulis mengikuti serangkaian pendapat para pendengar tentang pemilu tersebut. Yang paling menarik adalah kenyataan betapa sengitnya pendapat tentang golput alias golongan putih, yaitu para pemilih yang memilih tidak menggunakan hak pilih mereka dengan cara tidak datang ke tempat-tempat pemungutan suara (TPS), atau yang datang ke TPS namun mencoblos kedua pasangan calon. Ini dilakukan, untuk mencegah penggunaan kertas-kertas suara mereka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) guna kepentingan salah satu pasangan calon. Ini menunjukkan, betapa kecilnya kepercayaan masyarakat kepada KPU, yang ada kemungkinan melakukan manipulasi pengumuman perolehan suara mereka. Kalau para pemilih itu memang percaya kepada KPU, tentu mereka tidak akan mencoblos kedua pasangan calon tersebut pada waktu yang sama.

Yang sangat menarik kita, adalah begitu banyaknya para pemilih yang dalam siaran-siaran radio niaga itu menyatakan akan melakukan golput. Sangat jelas, bahwa kelas menengah ke atas dari bangsa kita, yang mengikuti siaran-siaran radio niaga menyatakan demikian, padahal merekalah yang sebenarnya dituju oleh para pasangan calon itu. Toh dalam kenyataan, justru mereka tidak memberikan suara alias golput. Ini adalah sesuatu yang bersesuaian dengan laporan-laporan lisan dan tertulis yang penulis terima, bahwa suara golput dalam pemilu putaran kedua ini, akan mencapai sekitar 60% suara para pemilih yang ada. Ulil Abshar melalui lembaga pemantauannya sendiri, menyatakan sekitar 56% pemilih akan bertindak golput alias tidak memberikan suara dalam pemilu. Ketika hal itu dikemukakan penulis dalam pertemuan dengan tim Uni Eropa yang datang ke Jakarta untuk melakukan pemantauan pemilu, tampak bahwa mereka tidak tahu situasi sebenarnya tentang negeri kita.

Dalam hal ini, yang sangat menarik perhatian adalah reaksi jumlah cukup besar pendengar kedua siaran radio niaga tersebut. Mereka “melampiaskan” kemarahan kepada orang yang akan bertindak golput itu. Mereka memahami orang-orang golput itu sebagai tidak bertanggung jawab kepada masa depan bangsa dan negara kita. Tapi mereka sendiri lupa, bahwa sikap tidak melawan (jika penulis dalam hal pencapresan penulis terhadap kezaliman KPU), adalah sikap membiarkan ketidakadilan, yang sangat dicela baik oleh hukum maupun agama. Karenanya, sikap ganda ini menunjukkan kadar kemunafikan luar biasa dari bangsa ini dalam kehidupan bernegara. Sebenarnya mereka yang bertindak golput justru menunjukkan perlawanan, namun karena tidak ada sistem politik yang memimpin mereka yang melakukan perlawanan, maka jadilah sikap melawan dari mereka itu mengambil sikap golput itu.

Melalui tulisan ini, penulis menyanggah mereka yang menyatakan sikap marah-marah itu, karena penulis kebetulan mengetahui duduk perkara persoalannya. Inilah yang mendorong penulis untuk mendiktekan tulisan ini, agar supaya ada dokumentasi yang kemudian hari akan di baca berulang (to be read) oleh para peneliti/sejarawan. Latar belakang inilah yang harus diketahui pembaca sekarang ini. Jadi, sebenarnya para pendengar yang bersikap marah itu, seharusnya melakukan introspeksi (mawas diri) atas sikap mereka sendiri, bukanya marah-marah kepada orang lain. Kalau sikap golput itu menjadi sangat besar, berarti sebagian besar bangsa kita memang “cukup cerdik” sebagai “bentuk perlawanan” yang dapat dilakukan. Bahwa dalam sikap itu ada unsur “keenganan” mengikuti pemilu, itu karena disebabkan oleh keengganan untuk menggunakan kezaliman sebagai alat kritik terhadap kesalahan-kesalahan KPU atau sebagai salah satu cara untuk melakukan perlawanan tanpa kekerasan.

Reaksi sebuah bangsa atau masyarakat tidak selamanya mengambil bentuk penolakan langsung atas kezaliman yang dideritanya. Bukti utama dari hal ini adalah kenyataan sejarah, bahwa kita di jajah oleh para kolonialis Belanda sebelum penjajahan Jepang, tidak dalam kurun waktu yang sama ada yang sampai 350 tahun lamanya, ada yang “hanya” beberapa puluh tahun saja, seperti daerah Aceh (sejak 1904 masehi hingga datangnya Jepang). Perbedaan cukup besar dalam lamanya menjadi “daerah jajahan” itu, menunjukkan dengan jelas perbedaan-perbedaan tersebut, yang sudah tentu akan menunjukkan perbedaan pula dalam jumlah prosentasi suara golput dalam pemilu Capres-Cawapres putaran kedua. Ini menunjukkan dengan jelas, betapa besar perbedaan dalam perlawanan terhadap kezaliman KPU dari sebuah daerah ke daerah yang lain.

Sudah tentu KPU dapat saja bersikap tidak menghiraukan kenyataan-kenyataan di atas. Mereka “sudah terbiasa” dengan melanggar undang-undang, yang sebenarnya berarti pelecehan terhadap kedaulatan hukum di negeri kita. UU Nomor 4 tahun 1992, 23 tahun 1997, 12 tahun 2003 dan 2 buah pelanggaran terhadap UU nomor 23 tahun 2003, sebenarnya sudah membuat KPU harus diganti, karena membuat penafsiran sendiri atas rangkaian undang-undang di atas, yang seharusnya menjadi tugas Mahkamah Agung. Ketidakmengertian KPU akan fungsi dirinya dan fungsi Mahkamah Agung menunjukkan dengan jelas, bahwa ia tidak pantas menyelenggarakan pemilu tahun ini, ataupun waktu-waktu yang lain. Kombinasi antara arogansi dirinya dan ketakutan alat-alat pemerintahan lainnya kepada KPU, akhirnya membuahkan “pelanggaran hukum” sangat besar, berupa penyelenggara pemilu oleh lembaga compang-camping ini. Karena itu, pantaslah banyak orang yang tidak yakin pemilu Capres-Cawapres putaran kedua akan berjalan dengan benar.

Bagaimanakah halnya dengan “suara golput” dalam rangkaian kegiatan pemilu tahun ini? Jika ini memang berjumlah besar, dan merupakan mayoritas sikap para pemilih, dengan sendirinya hasil pemilu yang berlangsung pada putaran kedua ini, akan mencerminkan sebuah kenyataan pahit: Sebuah pemerintahan yang tidak memiliki kredibilitas maupun legitimitas untuk “memimpin” bangsa dan negara kita, selama 5 tahun yang akan datang. Lalu, dapatkah pemerintahan seperti itu bertahan lama, dan melaksanakan program-programnya sendiri? Bukankah dengan demikian, lalu terjadi sebuah “distorsi sikap” dalam kehidupan masyarakat.

Di satu pihak, masyarakat memastikan adanya sebuah keharusan untuk mempunyai pimpinan yang akan memimpin bangsa ini untuk mengatasi krisis multidimensi yang dihadapinya. Di pihak lain, mereka juga mengetahui bahwa pemerintahan yang ada secara moral dan secara politis, tidak memiliki dukungan yang diperlukannya, guna memimpin pemerintahan secara efektif. Karenanya, persoalan utamanya adalah bagaimana memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintah, harus memperoleh dukungan mayoritas dengan cepat. Ini adalah tantangan utama yang harus dihadapi oleh Presiden baru, dalam masa depan yang singkat. Mungkin inilah “jebakan politik dan moral” yang harus dihadapi pemerintah minoritas hasil rangkaian pemilu 2004. selama kita tidak bersedia menyelesaikan masalah ini dengan terbuka, selama ini pula kita akan dihadapkan kepada keadaan serba tidak pasti, yang tentunya tidak memungkinkan bangsa kita memiliki kekuatan yang seharusnya ada untuk memecahkannya perlu ada jawaban, yang kelihatannya mudah dikatakan, namun sangat sulit dilaksanakan bukan?

Kyai Mutamakkin dan Perubahan Strategi NU

Tahun lalu, penulis diminta menyampaikan makalah dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Ciputat Jakarta. Seminar itu diselenggarakan untuk memperkenalkan buku karangan Zainul Milal Bizawie tentang Kyai Ahmad Muamakkin. Dalam kesempatan itu, penulis hanya berbicara tentang hal-hal yang mendasar, tanpa mempersiapkan sebuah makalah tertulis. Karena harus berbicara mengenai Kyai Ahmad Mutamakkin dari Kajen, Pati (Jawa Tengah), maka yang dipentingkannya adalah perbedaan dasar beliau dengan para ulama lain dari massa itu. Sebagaimana diketahui, kyai yang hidup dan berkiprah dalam paruh kedua abad ke-18 Masehi, mengalami dua buah macam penguasa. Mereka adalah Amangkurat IV dari Kartasura dan Pakubuwono II di Surakarta Hadiningrat.

Beliau terlibat dalam perdebatan seru ketika diadili oleh Katib Anom, semacam menteri agamanya, Amangkurat IV. Pemeriksaan pandangan-pandangan beliau oleh Katib Anom, yang notabene cucu Sunan Kudus, direkam dalam sebuah tembang Kraton yang berjudul Serat Cebolek. Nama sebuah desa yang terletak di sebuah selatan desa Kajen di atas. Serat yang menggunakan bahasa sastra Jawa yang tinggi ini, akhirnya dijadikan pokok disertasi doctoral oleh Subardi, pada salah sebuah Universitas terkemuka di Australia. Disertasi itu ditulis dalam bahasa Inggris dan sudah sewajarnya ia diterjemahkan ke dalam bahasa nasional kita. Tetapi pokok permasalahan yang penulis bahas tidak ada dalam disertasi tersebut.

Di samping disertasi itu, ada juga sebuah kidung yang sering dibacakan dalam peringatan kematian (haul) beliau di Kajen. Selama seminggu “orang memperingati” kematian beliau tersebut. Puncaknya adalah pembacaan tembang/kidung tersebut di atas, dengan lebih dari 100 ribu orang hadirin. Namun, strategi yang diuraikan penulis di Ciputat itu, juga tidak muncul dalam “keramaian” di atas. Orang lebih tertarik kepada cerita-cerita tentang “keanehan” Kyai Mutamakkin, dari pada melakukan pembicaraan tentang peranan Kyai tersebut, sebagai seorang alim yang berpengetahuan agama sangat dalam. Dengan kata lain, orang lebih melihat ketokohan beliau, dan bukannya apa yang menjadi peranan beliau dalam kehidupan beragama Islam di kalangan kaum muslim tradisional di pantai utara Jawa Tengah (dan sedikit kawasan Jawa Timur).

Yang penulis maksudkan dengan strategi yang beliau bawakan itu adalah merumuskan arah perkembangan dalam hubungan antara para ulama dan penguasa di Jawa waktu itu. Bupati Rifai dari Batang (kawasan sebelah barat Jawa Tengah) juga menggunakan Serat Cebolek dari Kraton Surakarta itu, sebagai “pendukung utama” atas kekuasaannya. Ini “dilawan” oleh para ulama setempat sekitar satu abad setelah “pemeriksaan” atas diri Kyai Mutamakkin oleh Katib Anom. Hal itu menunjukkan bahwa ada sebuah perkembangan sangat menarik dalam kehidupan kaum Muslim, yang juga ditentukan oleh sikap para ulama setempat, seperti terjadi sekarang ini. Karenanya, dalam makalahnya itu penulis mencoba melihat persoalannya dari sudut strategi perjuangan Islam di negeri ini.

Hal dasar itu adalah hubungan antara para ulama sebagai “pimpinan umat” di satu pihak, dan para penguasa di pihak lain. Di masa hidup Kyai Mutamakkin, para ahli fiqh (hukum Islam) cenderung untuk ‘membela” para penguasa, bahkan dikala melakukan kesalahan-kesalahan yang besar. Populer sekali ungkapan bahwa para raja tradisional Jawa melakukan hubungan seksual dengan istri mereka, dan kemudian tidak melakukan mandi Junub, para bawahan merekalah yang melakukan hal itu. Sikap ini mungkin dilakukan karena adanya ‘ketentuan’ yang disebutkan Al-Qur’an, agar kaum muslimin selalu taat kepada Allah, utusannya dan para penguasa (Uli Al-Amri). Sikap “tutup mata” atas pelanggaran-pelanggaran fiqh oleh para penguasa ini, terjadi dalam skala yang besar dan meliputi masa yang panjang. Sebaliknya, para pemimpin tarekat, para mursyid dan badal-badal mereka, menentang penguasa yang ada, dan menyebut nama mereka secara terbuka di muka umum. Karena itu, kita kenal dari masa itu cerita-cerita tentang ulama yang dibakar hidup-hidup atau di kupas kulit mereka sebagai “hukuman dari para penguasa”. Penentangan langsung para pemimpin tarekat itu yang kemudian dirubah oleh Kyai Ahmad Mutamakkin. Ia tidak pernah menyerang penguasa manapun dengan menyebut nama terang-terangan. Ia mengemukakan sebuah “strategi penentangan alternatif” yaitu dengan menyebutkan bahwa penguasa yang baik selalu melaksanakan hal-hal yang baik pula. Dengan melakukan pendekatan positif seperti itu, ia justru ditentang oleh para ahli fiqh pada waktu itu. Mereka mempersoalkan hal yang menurut mereka merupakan pelanggaran fiqh yang dilakukan Kyai Ahmad Mutamakkin.

Mereka mempersoalkan ijin yang diberikan Kyai kita itu kepada orang yang melukiskan gambar ular dan gajah secara penuh di dinding masjidnya., yang waktu itu dianggap haram. Demikian pula, ia bersedia menonton wayang kulit dengan lakon “Bima Suci” atau “Dewa Ruci”, yang mengakibatkan ia dituduh mengikuti faham mereka dengan menonton lakon itu. Tentu saja hal itu adalah sesuatu yang menggelikan hati kita dewasa ini, karena memang masalahnya adalah sesuatu yang bersifat akhlaq/moral, dan sangat sedikit menyangkut hukum fiqh. Itulah yang menjadi tema perdebatan antara Kyai Mutamakkin dan Katib Anom yang dianggap mewakili para ahli fiqh.

Hampir-hampir tidak ada pihak yang mempersolakan strategi dasar yang diletakkannya bagi kepentingan umat dalam hubungan mereka dengan para penguasa. Pertanyaan pokoknya sekarang adalah: masih relevankah strategi dasar yang diletakkan kyai kita itu? Atau lebih jelas lagi, haruskah Nahdlatul Ulama (NU) meneruskan strategi dasar Kyai Ahmad Mutamakkin tersebut ataukah harus diganti dengan strategi dasar yang baru?

Dapatkah kita menempuh strategi “demokratisasi bertahap” seperti yang dilakukan oleh para pemimpin NU sekarang? Atau NU justru harus mempelopori proses demokratisasi yang lengkap dari sekarang? Karena itu memang adalah “tuntutan agama”, jawaban atas pertanyaan di atas menjadi sesuatu yang sangat penting bagi kita semua sebagai bangsa. Ini menjadi penting, setidak-tidaknya dalam sikap NU menghadapi rangkaian pemilu tahun 2004; dan dalam hubungan antara NU dengan proses demokratisasi yang sedang berlangsung.

Mengapakah harus NU yang dihadapkan kepada pertanyaan di atas? Karena memang NU dengan para warganya justru dihadapkan kepada tantangan klasik: setelah “lumpuhnya” gerakan-gerakan lain di negeri kita. Untuk memberikan respon yang positif saat ini, ternyata hanya tinggal para warga NU yang tersebar di berbagai gerakan yang diharapkan dapat menjawab tantangan keadaan yang dihadapi bangsa kita. Karenanya, jawaban pihak NU sangat dinanti-nanti pada saat ini karena merupakan “langkah kunci” bagi upaya merespon sikap menyepelekan dan merendahkan demokrasi. Proses yang mudah dikatakan, namun sulit dilakukan, bukan?

Kerja Besar Kita ke Depan

Oleh Abdurrahman Wahid
KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa ini didominasi orang kaya/elite. Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang lebih beruntung. Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.
Dikotomi kaya-miskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam. Pemerintah turut bersalah dalam hal ini, karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.
Untuk menutupi hal itu, lalu mereka mengambil sikap yang juga salah, yaitu membiarkan salah pengertian satu sama lain antarkelompok melalui politik yang berat sebelah. Contohnya, dibiarkan saja suara berdengung dari garis keras yang meminta pembubaran kelompok minoritas, tanpa memberikan pembelaan kepada mereka.
Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.
Kaum minoritas agama pun meragukan iktikad baik pemerintah dalam melindungi hak-hak mereka. Memang, terucap janji pemerintah untuk melindungi hak-hak minoritas. Namun, tentunya pemulihan perlindungan itu tidak berupa sikap berdiam diri saja terhadap gangguan yang muncul di mana-mana dalam dasawarsa tahun ini.
Ketika Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) diserang kanan-kiri, termasuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), tidak ada pihak mana pun yang memperjuangkan hak mereka yang dilindungi UUD 1945. Baru setelah berbulan-bulan lamanya hal itu dikoreksi, dengan pengambilan sikap yang benar terhadap GAI.
Kalau dulu kita pernah disibukkan dengan hubungan antara ajaran Islam dan semangat keagamaan yang sempit, sehingga lahirlah pertentangan kultural antara keduanya, maka sekarang ini justru terjadi suatu hal yang tidak kita duga sama sekali; pertentangan antara ajaran Islam dan modernisasi. Saat ini, kita tersentak oleh “penegasan” MUI bahwa Islam perlu dibela terhadap kesalahan-kesalahan anggapan atasnya.
Karena itu, ada usulan agar karya seni seperti film Perempuan Berkalung Sorban dilarang.Penulis sendiri sebagai orang pondok pesantren tidak melihat pembelaan seperti itu diperlukan. Mana batas yang wajar dari yang tidak, itulah yang harus kita cari. Dinasti Sriwijaya memerintahkan penyerangan atas Jawa Tengah, melalui pelabuhan Pekalongan.
Hasilnya adalah munculnya Borobudur sebagai manifestasi agama Buddha yang dianut sebagian besar penduduk Sriwijaya. Namun, mereka juga menyaksikan munculnya cara baru beragama di Jawa,yaitu kaum Hindu-Buddha.Dia bertahan terus hingga abad ke-15 Masehi, terutama dengan memunculkan Kerajaan Majapahit. Tentu saja,pemunculannya didahului semakin mantapnya peradaban Hindu sebelum itu.
Sementara peradaban itu sendiri didahului peradaban lokal, seperti yang dibawakan Raja Prabu Saka di Medang Kamulan (di Malang Selatan). Jelaslah dari uraian di atas, bahwa perkembangan budaya yang terjadi di negeri kita sangat terpengaruh oleh dialog-dialog antaragama dan budaya, yang masih terus berjalan hingga saat ini.
Nah, kesediaan kita berdialog tentang hal itu juga sangat diperlukan,minimal untuk memetakan masa lampau kita sendiri dan untuk mengetahui banyaknya warisan budaya yang kita terima. Penguasaan atas warisan budaya itu sangat berharga,bukan? (*)
Sumber: 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/212895/


Sebuah Era dengan Kejadian-Kejadian Penting

Pada tahun 1919, HOS Tjokroaminoto bertemu tiap hari Kamis siang di Kota Surabaya dengan dua saudara sepupunya. Mereka adalah KH M Hasjim As'yari dari Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang dan KH A Wahab Chasbullah.Tjokroaminoto disertai menantunya Soekarno, yang kemudian hari disebut Bung Karno.
Mereka mendiskusikan hubungan antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan/ nasionalisme. Terkadang hadir HM Djojosoegito, anak saudara sepupu keduanya, yang kemudian hari (tahun 1928) mendirikan Gerakan Ahmadiyah. Dari kenyataan-kenyataan di atas dapat dipahami mengapa Nahdlatul Ulama didirikan tahun 1926, selalu mempertahankan gerakan tersebut.
Di kemudian hari, seluruh gerakan Islam itu dimasukkan ke elemen gerakan yang berupaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Itu adalah perkembangan sejarah. Ada generasi kedua dalam jajaran pendiri negeri kita, yaitu Kahar Muzakir dari PP Muhammadiyah, KH Abdul Wahid Hasyim dari NU, dan HM Djojosoegito (pendiri gerakan Ahmadiyah).
Tiga sepupu yang lahir di bawah generasi KH M Hasjim As'yari itu banyak jasanya bagi Indonesia. Mereka banyak mengisi kegiatan menuju kemerdekaan negeri kita. Setelah wafatnya Djojosoegito, muncul letupan keinginan membubarkan Ahmadiyah,tanpa mengenang jasajasa gerakan itu di atas. Padahal dalam jangka panjang,jasa-jasa itu akan diketahui masyarakat kita.
Dalam melakukan kegiatan,mereka tidak pernah kehilangan keyakinan. Apa yang mereka lakukan hanya untuk kepentingan Indonesia merdeka.Karena itu,segala macam perbedaan pandangan dan kepentingan mereka disisihkan.Mereka mengarahkan tujuan bagi Indonesia. Mereka terus menjaga kesinambungan gerakan yang ada,guna memungkinkan lahirnya sebuah kekuatan yang terus menggelorakan perjuangan.
Hingga kemudian,NU melahirkan sebuah media pada 1928yangdinamai SoearaNU. Hal itu dilakukan guna memantapkan upaya yang ada.Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dipakai untuk kepentingan tersebut. Dalam nomor perdana majalah Soeara NU, KH Hasjim As'yari menyatakan bahwa ia menerima penggunaan rebana dan beduk untuk keperluan memanggil salat.
Namun, dia menolak penggunaan kentungan kayu. Menurutnya, penggunaan beduk dan rebana didasarkan pada sesuatu yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.Sementara penggunaan kentungan kayu tidak ada dasarnya.Hal ini disanggah oleh orang kedua NU waktu itu, yaitu KH Faqih dari Pondok Pesantren Maskumambang di Gresik.
Hal itu dimuat sebagai artikel balasan dalam media "Soeara NU"edisi selanjutnya.KH Faqih menyatakan, "Apakah KH Hasyim lupa pada dasar pembentukan hukum dalam NU, yaitu Alquran,hadis, ijmak,dan qiyas?" Segera setelah itu, KH Hasyim As'yari mengumpulkan para ulama dan santri senior di Masjid Tebuireng.
Dia menyuruh dibacakan dua artikel di atas.Kemudian, dia mengatakan, mereka boleh menggunakan pendapat dari KH Faqih Maskumambang asalkan kentungan tidak dipakai di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng itu. Terlihat di sini betapa antara para ulama NU itu terdapat sikap saling menghormati meski berbeda pendirian.
Hal inilah yang harus kita teladani dalam kehidupan nyata. Penerimaan akan perbedaan pandangan sudah berjalan semenjak Fahien memulai pengamatannya atas masyarakat Budha di Sriwijaya dalam abad ke-6. Prinsip ini masih terus berlanjut hingga sekarang di negeri kita dan hingga masa yang akan datang. Sudah pasti kemerdekaan kita harus dilaksanakan dengan bijaksana dan justru digunakan untuk lebih mengokohkan perdamaian dunia.
Karena itu, diperlukan kemampuan meletakkan perdamaian dalam penyusunan politik luar negeri,yang diiringi dengan tujuan memperjuangkan kepentingan bersama. Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal-muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan.
Bukankah kekuatan kita sebagai bangsa terletak dalam keberagaman yang kita miliki? Marilahkitabangunbangsadankita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.(*)
Sumber: Seputar Indonesia , Selasa 21 April 2009


Lain Dulu lain sekarang

Ketika bangsa Indonesia berdiri, ada sebuah hal yang sangat menarik,yaitu istilah "merdeka". Dengan kata yang digunakan dalam penggunaan berbeda-beda,maka didapat beberapa arti dan makna. Kata merdeka berarti lepas atau bebas.
Sekarang ini, kata merdeka itu juga digunakan oleh pihak keamanan, seperti merdeka dari penahanan atau bisa diartikan bebas. Namun,kata merdeka lebih dari bebas. Bagi sebuah bangsa, merdeka berarti lepas dari penjajahan. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kepada kemandirian politik, ekonomi,maupun lain-lainnya.
Merdeka secara ekonomi, berarti sama sekali tidak bergantung kepada negara lain dalam segala hal. Secara politik, berarti lepas dari penjajahan pihak lain. Contohnya, lepasnya Indonesia dari pen-jajahan kolonial Belanda sehingga bangsa kita mampu segera mengembangkan budaya politik, ekonomi, dan lainnya sendiri.
Kalimat seperti negara A mampu memelihara kemerdekaan yang dicapainya, baik melalui perang maupun dengan cara berunding, merujuk kepada aspek-aspek kemerdekaan itu. Inilah yang digunakan oleh Undang-Undang Dasar 1945 kita.
Ketika almarhum Raja Ali Haji dari Riau mengubah buku Tata Bahasa Melayu, maka dengan sengaja ia telah "memerdekakan" bahasa Melayu dari bahasa Belanda.Buku ini menjadi cikal-bakal lahirnya bahasa Indonesia.Lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca, menjadi cikal-bakal dari tumbuhnya kesadaran suku-suku yang ada di nusantara untuk membangun sebuah ikatan kebangsaan.
Hal ini terlihat dengan berdirinya Boedi Oetomo (BO), yang menjadi salah satu bangunan inti kebangsaan kita. Meski demikian, semangat menjadi satu bangsa ini telah tampak dalam sejarah kita sejak abad ke-8.Padahal,Kerajaan Majapahit sendiri baru lahir di tahun 1293 Masehi.
Pada abad ke-8 Masehi, seorang agamawan Budha dari Tiongkok bernama Fahien telah melaporkan adanya semangat menghargai perbedaan di Sriwijaya,Sumatera Selatan. Dua abad setelahnya, orang-orang Sriwijaya menyerbu Pulau Jawa melalui pela-buhan lama Pekalongan. Dalam perjalanan mendaki Gunung Dieng,mereka ditemui oleh orang-orang Kalingga Hindu.
Orang-orang Hindu itu tidak diapa-apakan. Pasukan Sriwijaya tersebut melanjutkan sampai di daerah Muntilan,yang sekarang ini menjadi bagian Kabupaten Magelang. Di sana mereka membangun candi yang dinamakan Borobudur. Sebagian mereka tinggal di Borobudur dan sebagian lagi menuju kawasan Yogyakarta sekarang.
Di kawasan baru itu, mereka dirikan Kerajaan Kalingga Budha dan mendirikan Prambanan, sebuah candi Hindu-Budha yang segera dimusuhi oleh orang Hindu maupun orang Budha. Mereka menganggapnya sebagai agama "campur- aduk". Di bawah pimpinan Prabu Darmawangsa, mereka berpindah dari Prambanan ke Kediri.
Dua abad kemudian, mereka berpindah lagi ke Kerajaan Singasari di Utara kota Malang sekarang.Di sana orang-orang Hindu-Budha itu mendirikan Kerajaan Majapahit di dukung oleh angkatan laut Cina, yang waktu itu hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Dari sini kita dapat melihat bahwa asas kebangsaan itu tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Namun, sekarang lahir kelompok-kelompok fundamentalis yang mengajak kita semua meninggalkan semangat kebangsaan yang telah mempersatukan kita sebagai bangsa sejak berabad-abad yang lalu. Sebenarnya, setelah dikuatkan oleh UUD 1945,kita telah bertekad mencapai kemerdekaan politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.
Hal ini seharusnya senantiasa kita ingat sebagai bagian penting dari sejarah kita sebagai bangsa. Inilah modal bangsa kita untuk merengkuh kehidupan masa depan, bukan?
Sumber: seputar-indonesia.com, Jakarta,19 Mei 2009


Kalimat “Pamali” dalam Masyarakat sunda

Oleh: Sanghiang Mughni

Pada mulanya, apa yang dilarang oleh orang tua dulu di masyarakat sunda berupa kalimat “Pamali” sangat harus diikuti. Karena kalimat pamali bukan hanya dianggap sebagai dosa, tetapi akan terasa langsung akibatnya.
Dahulu, dengan kalimat pamali, maka segala sesuatu yang bersifat negatife bisa segera dicegah. Ketika ada orang yang akan merusak gunung misalnya, cukup dengan kalimat pamali, dia akan berfikir seribu kali untuk melakukan pengrusakan itu, karena ia takut terjadi apa-apa bahkan kwalat.
Contoh ucapan “kolot baheula” ketika siang hari, ‘ulah mandi keur panas poe ereng-erengan, pamali!’ maksudnya, karena jika kita mandi ketika siang hari bolong, maka adan itu seperti “ngajeos” dan akan mudah mengalami sakit.
Namun kecap pamali ini seakan-akan ditelan zaman dan dilupakan orang. Kalau semula apa yang dilarang oleh orang tua dulu berupa pamali itu harus diikuti, kini menjadi diikuti apabila dipahami. Kenapa kecap pamali itu begitu ampuh dalam mengatasi hal-hal yang bersifat negatife? Karena ucapan orang tua dulu bukan hanya didasarkan pada teori, akan tetapi langsung kepada pengalaman.


Pergeseran pandangan hidup orang sunda

Oleh: Sanghiang Mughni
  1. Manusia sebagai pribadi
Dalam hal hidup bersama agar tidak berjauhan dengan keluarga, yaitu “bengkung ngariung, bongkok ngaronyok”, jika semula pepatah ini begitu sangat dipegang teguh, kini bergeser kepada harus berusaha agar tetap hidup tak berkekurangan sehingga tetap dapat hidup bersama. Jika semula perlakuan orang lain, walaupun tidak wajar, harus diterima dengan sabar, maka kini bergeser menjadi perlakuan orang lain harus diterima sepanjang hal itu wajar. Jika kita semula harus ramah dan memuliakan terhadap tamu, baik dikenal maupun tidak, maka sekarang kita menjadi berhati-hati kepada tamu yang dikenal maupun tidak, karena bisa saja dia itu hanya akan menyusahkan bahkan penipu.
  1. Manusia sebagai masyarakat
Pada aspek pandangan hidup manusia sebagai masyarakat, terhadap anggota yang jatuh miskin, pandangan semula adalah bagaimana pun mereka harus dibantu, kini bergeser menjadi sewaktu-waktu perlu dibantu, tetapi jangan sampai terus menggantungkan diri kepada orang lain. tentang kewajiban anak kepada orang tua, jika semula seorang anak dalam mengabdi pada orang tua adalah menuruti segala perintah dan naihatnya, serta mengikuti apa pun keinginannya, dengan memegang prinsip ‘Indung tunggul rahayu, bapa tangga darajat’, kini bergeser menjadi bukan menuruti segala keinginan, melainkan hidup baik, tidak melupakannya, dan menghargai jasanya. Tentang tugas istri kepada suami, jika semula istri mengganggap sumai sebagai junjunan, telah berubah menjadi pandangan bahwa antara suami dan istri harus ada perlakuan seimbang, dan saling menghargai hak masing-masing.


Strategi Kebudayaan Sunda

Strategi kebudayaan masyarakat Sunda, tercermin dalam pribahasa sunda yang terkenal yaitu “silih asih, silih asuh, silih asah”

1. Silih asih
Silih asih dimaknai dengan merespon cinta kasih Tuhan, melalui cinta kasih kepada sesame. Dengan ungkapan lain, silih asih adalah memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Dan inilah yang melahirkan persamaan dalam masyarakat. Mereka saling menghormati dan saling menyayangi satu sama lain tanpa ada sedikitpun penghalang. Tak ada perbedaan diantara yang kaya maupun yang miskin, mereka semua setara.

Jika ada diantara mereka yang didudukan paling tinggi atau dianggap superior, inilah yang disebut Prof. Dadang Kahmad sebagai syirik social. Karena ketika ada manusia yang dianggap tinggi, berarti mendudukan manusia sejajar dengan Tuhan. Dan ketika ada manusia yang dianggap rendah, maka mereka telah mengganggap dirinya sejajar dengan Tuhan.

2. Silih asuh
Selain itu, dalam masyarakat sunda, kepentingan kolektif maupun pribadi sangatlah dijunjung tinggi melalui saling control, tegur sapa ketika bertemu, dan mau saling menasehati, dan ini tercermin dalam sebuah pribahasa sunda “nulung kanu butuh, nalang kanu susah, ngahudangkeun kanu sare, mere kanu daek, ngajait kanu titeuleum, nganteur kanu sieun, nyaangan kanu poekeun”. Hal ini dikembangkan melalui budaya ‘silih asuh’ sehingga dalm masyarakat sunda, sangat jarang terjadi konflik dan kericuhan. Tetapi ketika ada kelompok lain yang mengganggu ketenangannya, maka mereka bangkit melawan secara serempak sebagaimana halanya lebah.

3. Silih asah
Masyarakat sunda dahulu, mereka mewujudkan silih asah dengan saling mengembangkan diri, dengan saling mendukung ketika orang lain membuat sebuah kreativitas, dan mereka saling memajukan dalam hal ilmu pengetahuan. Tanpa ada rasa benci dan dengki.
Kini budaya ‘silih asih, silih asuh, silih asah’ telah hilang akibat pengaruh udaya ‘deungeun’ (asing). Kini kita lebih mengutamakan diri sendiri dibandingkan orang lain, kini kita selalu berfikir, biarlah orang lain sengsara, yang penting kita senang. Oleh karena itu, margilah kita kembali kepada khittah kita, kemali kepada jati diri kita sebagai orang sunda, yang menjunjung tinggi prinsip ‘silih asih, silih asuh, silih asah’.


9 Keutamaan (Sanga Gati)

Sanga Gati (9 keutamaan)
  1. Cageur = sehat badan maupun bathin, artinya jauh dari segala penyakit yang bisa merusak lahir dan bathinnya.
  2. Bageur = rendah hati, serta santun terhadap orang lain. dia tidak pernah menghinakan maupun membeda-bedakan orang lain.
  3. Bener = Tidak pernah menyalah gunakan aturan, selalu berlaku jujur, kappa pun, dimana pun, dan kepada siapa pun
  4. Pinter = Memiliki wawasan yang luas, serta memiliki banyak pengetahuan, dan dia bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Wante r= berani untuk menegakan kebenaran, dan berani untuk selalu berlaku jujur.
  6. Singer= tidak pernah takut dalam melakukan kebenaran. Dan ketika melakukan kebenaran tanpa disuruh dulu oleh orang lain.
  7. Teger = Tegar dalam menghadapi segala cobaan, dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain, ‘teu unggut kalinduan, teu geudag kaanginan’
  8. Pangger = Hidupnya selalu sesuai dengan aturan, guna mendapatkan kesejahteraan.
  9. Cangke r= sehat wal’afiyat.



KH. Abdurrahman Wahid


 

 

 



KH. Cholil Bangkalan




Mendadak Sunda

Acep Zamzam Noor


KETIKA mendengar ada belasan orang Sunda menjadi calon menteri dalam kabinet 2009-2014 mendatang saya merasa senang, lebih senangnya lagi karena tiga dari belasan orang itu berasal dari Tasikmalaya, daerah asal saya. Kesenangan saya terus bertambah karena di antara calon menteri asal Tasikmalaya akhir-akhir ini fotonya sering muncul di koran dengan memakai baju kampret dan ikat kepala barangbang semplak, yang konon merupakan pakaian khas Sunda. Saya bukan hanya senang namun juga bersyukur karena ide pencalonan ini telah memberi efek positif terhadap budaya Sunda, paling tidak dalam hal pakaian. Kenapa? Karena sebelumnya saya sering melihat foto calon menteri tersebut dalam pakaian khas Timur Tengah, terutama kalau sedang mengikuti acara istighosah.

Saya baru tahu belakangan kalau belasan orang Sunda yang dicalonkan menjadi menteri tersebut merupakan hasil survey yang telah dilakukan oleh sebuah tim independen. Tim tersebut menuntut jatah 20 persen kursi menteri untuk orang Sunda kepada presiden terpilih. Entah apa alasannya dengan angka 20 persen tersebut, apakah karena penduduk tatar Sunda jumlahnya banyak, apakah karena kwalitas orang Sunda unggul dibanding suku lain, atau karena secara geografis bertetangga dengan Jakarta. Belasan orang yang diusulkan menjadi menteri, kebanyakan dari kalangan birokrasi seperti gubernur, walikota, bupati serta akademisi, menurut tim independen merupakan representasi dari masyarakat dan budaya Sunda. Dengan kata lain, mereka sangat pantas sebagai wakil masyarakat dan budaya Sunda untuk menduduki jabatan tinggi itu.

Permintaan jatah menteri yang selama ini tidak pernah dilakukan orang Sunda mana pun tentu saja menuai pro dan kontra. Bagi para calon menteri beserta tim suksesnya sudah pasti akan pro alias setuju, namun di pihak lain tak sedikit masyarakat yang justru mempertanyakannya. Usep Romli HM menganggap permintaan jatah menteri tersebut sebagai sikap nyarayuda alias meminta-minta kekuasaan yang tidak selayaknya dilakukan mengingat urusan menteri adalah hak prerogatif presiden. Dhipa Galuh Purba melihatnya sebagai “jeruk makan jeruk” karena salah seorang calon menteri yang terjaring justru ketua tim surveynya sendiri. Hawe Setiawan membandingkan kasus ini dengan orang-orang miskin yang mengantri pembagian dana BLT. Sementara di koran-koran lokal banyak surat pembaca yang mempertanyakan soal metode survey serta kapasitas sebagian calon. ”Jangan-jangan malah bikin malu orang Sunda,” kata salah satu surat pembaca.

Meskipun saya merasa sependapat dengan rekan-rekan di atas, namun rasa senang terhadap mereka yang sudah dicalonkan menjadi menteri tidak menguap begitu saja. Saya tetap berharap bahwa survey ini akan ada hikmahnya di kemudian hari. Bagi mereka yang sudah memakai baju kampret dan ikat kepala barangbang semplak teruslah memakainya, terlepas apakah nanti terpilih atau tidak. Dengan terbiasa memakai pakaian khas Sunda mudah-mudahan akan berlanjut dengan meningkatkan apresiasi terhadap budaya Sunda. Paling tidak bisa dimulai dengan meluangkan waktu untuk menghadiri acara-acara kesenian Sunda, membaca karya-karya sastra Sunda, memelihara tradisi-tradisi Sunda, dan lebih mantap lagi jika diikuti dengan menggali kearifan-kearifan Sunda. Itulah hikmah yang saya maksud.

Seandainya upaya peningkatan apresiasi tidak dilakukan, maka kedudukan budaya Sunda tak ada bedanya dengan agama yang selama ini hanya dijadikan “dagangan” politik. Bukankah para politisi bisa mendadak menjadi apa saja ketika ada kepentingan di belakangnya? Bisa mendadak berpakaian putih-putih ala Pangeran Diponegoro, bisa berkostum hitam-hitam ala pendekar silat Cimande, bahkan kalau perlu tidak berpakaian sama sekali. Tergantung ke mana angin politik sedang berhembus.

Sebagai penutup tulisan ini, perkenankan saya mengutip sebuah cerita dari khazanah sastra lisan Sunda:

Alkisah, Si Kabayan mempunyai tetangga yang akan mengawinkan anaknya dengan menggelar pesta besar-besaran. Semua penduduk di kampung itu diundangnya, kecuali Si Kabayan. Karena merasa keberadaannya tidak dianggap sama sekali, Si Kabayan pun mencari akal bagaimana caranya agar tetap bisa ikut pesta seperti yang lain. Maka pada saat pesta sedang berlangsung, Si Kabayan tiba-tiba bertelanjang bulat di antara para tamu undangan, lalu ngadepaan lincar (menjengkal papan penjepit bilik) sambil menari-nari. Tentu saja ulah Si Kabayan ini menarik perhatian orang sehingga tuan rumah terpaksa turun tangan. ”Kabayan, kenapa kamu telanjang begitu kayak anak kecil?” hardik tuan rumah. ”Biarin kayak anak kecil juga, toh kalau saya dianggap dewasa pasti akan diundang seperti yang lain,” jawab Si Kabayan.

Cerita di atas bagi saya sangat dalam maknanya. Di kalangan masyarakat Sunda sikap nyarayuda, mengemis, meminta-minta atau apapun namanya, apalagi dengan cara menentukan target (seperti minta jatah menteri 20 persen) merupakan perbuatan kurang terpuji, yang dalam cerita di atas dengan sangat tepat disimbolkan sebagai perbuatan yang tak ada bedanya dengan memperlihatkan aurat sendiri. Si Kabayan nekad memperlihatkan auratnya hanya karena ingin menarik perhatian orang. Hanya karena ingin diundang ke pesta perkawinan.


Acep Zamzam Noor

Acep Zamzam Noor dilahirkan di Tasikmalaya, 28 Februari 1960. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. 1980 menyelesaikan SLTA di Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Lalu melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). Mengikuti workshof seni rupa di Manila, Filipina (1986), mengikuti workshop seni grafis di Utrecht, Belanda (1996). Mengikuti pameran dan seminar seni rupa di Guangxi Normal University, Guilin, dan Guangxi Art Institute, Nanning, Cina (2009).

Puisi-puisinya tersebar di berbagai media massa terbitan daerah dan ibukota. Juga di Majalah Sastra Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi serta Jurnal Puisi Melayu Perisa dan Dewan Sastra (Malaysia). Sebagian puisinya sudah dikumpulkan antara lain dalam Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993) yang menjadi nominator Hadiah Rancage 1994.

Sejumlah puisinya termuat dalam beberapa antologi penting seperti Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (Gramedia, 1987), Dari Negeri Poci II (Tiara, 1994), Ketika Kata Ketika Warna (Yayasan Ananda, 1995), Takbir Para Penyair (Festival Istiqlal, 1995), Negeri Bayang-bayang (Festival Surabaya, 1996), Dari Negeri Poci III (Tiara, 1996), Cermin Alam (Taman Budaya Jabar, 1996), Utan Kayu: Tafsir Dalam Permaianan (Kalam, 1998), Bakti Kemanusiaan (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2000), Angkatan 2000 (Gramedia, 2001), Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001), Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002), Nafas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004) dan lain-lain.

Sejumlah puisinya juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan termuat dalam The Poets Chant (Jakarta, 1995), Aseano (Manila, 1995), In Words In Colours (Jakarta, 1995), A Bonsai’s Morning (Bali, 1996), Journal of Southeast Asia Literature Tenggara (Kuala Lumpur, 1996), diterjemahkan Harry Aveling untuk Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (Ohio University Press, 2001), Poetry And Sincerity (Jakarta, 2006), Asia Literary Review (Hongkong, 2006) serta The S.E.A Write Anthology of Asean Short Stories and Poems (Bangkok, 2008). Juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan termuat dalam Toekomstdromen (Amsterdam, 2004), diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan termuat dalam Orientierungen (Bonn, 2008), diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan termuat dalam Antologia de Poeticas (Jakarta, 2008). Belakangan diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jepang dan Arab.

Puisi-puisi Sundanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ajip Rosidi dan Wendy Mukherjee untuk Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java (Pustaka Jaya, 2001) dan ke dalam bahasa Perancis oleh Ajip Rosidi dan Henri Chambert-Loir untuk Poemes Soundanais: Anthologie Bilingue (Pustaka Jaya, 2001).

Beberapa kali mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) untuk puisi Sunda terbaik. Kumpulan puisinya, Di Luar Kata, meraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Sedang kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu selain mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2005 dari Pusat Bahasa, juga mendapat South East Asian (SEA) Write Award 2005 dari Kerajaan Thailand. Mendapat Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat. Mendapat Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. Kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi, meraih Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Namanya termuat dalam Ensiklopedi Sunda dan Apa Siapa Orang Sunda susunan Ajip Rosidi.

Tahun 1995 mengikuti Scond ASEAN Writes Conference di Manila, Filipina, mengikuti Festival Puisi Indonesia-Belanda dan Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta. Tahun 1997 mengikuti Festival Seni Ipoh II, di Ipoh, Malaysia. Tahun 2001 mengikuti Festival Puisi Internasional Winternachten Overzee di Jakarta, mengikuti Kuala Lumpur Southeast Asian Writers Meet di Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 2002 mengikuti Festival Puisi Internasional Indonesia di Makassar. Tahun 2004 mengikuti Winternachten Poetry International Festival di Den Haag, Belanda. Tahun 2006 mengikuti Festival Puisi Internasional 2006 di Palembang, mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2006 di Bali. Tahun 2007 mengikuti Utan Kayu International Literary Biennale di Magelang, menjadi mentor pada Bengkel Puisi Majlis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Samarinda. Tahun 2008 mengikuti Temu Sastrawan Indonesia di Jambi, mengikuti Jakarta International Literary Festival di Jakarta, mengikuti Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Kini Acep tinggal di kampungnya, Cipasung, lima belas kilometer sebelah barat kota Tasikmalaya. Sehari-harinya bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan sambil terus menulis dan melukis. Sekali-kali memenuhi undangan ke berbagai daerah untuk membaca puisi, diskusi, seminar, workshop, menjadi juri atau sekedar jalan-jalan. Jalan-jalan merupakan hobinya yang paling utama, di samping mengoleksi batu akik dan kain batik.



PENGALAMAN PAMERAN

Pameran Tunggal
:
1984 - Pameran di Cedust Alliance Francaise, Bandung
1987 - Pameran di Gedung Pusat Komunikasi STIA, Tasikmalaya
1991 - Pameran di C-Line Gallery, Jakarta Cemeti Art Gallery, Yogyakarta
1994 - Pameran di Natayu Contemporary Art Gallery , Bali
1998 - Pameran di Aula IAIC, Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya
1999 - Pameran “Stambus Accord” di Gallery Dapur Sunda, Tasikmalaya
2000 - Pameran “Menjewer Telinga Sendiri” di Essence Art Gallery, Depok
2001 - Pameran “Orasi Kambing Hitam” di Gedung Kesenian Tasikmalaya
2001 - Pameran "Meletakkan Kepala Di atas Meja” di Bentara Budaya, Yogyakarta
2002 - Pameran ”Wanda” di Galeri Adira, Bandung

Pameran Bersama:

1984 - Pameran Biennale Pelukis Muda di Taman Ismail Mazuki, Jakarta
1986 - "Youth Asean Painting Workshop and Exhibition" di Manila, Filipina
1990 - Pameran (berdua dengan Agus Djatnika), Balai Budaya Jakarta
1991 - Pameran "Festival Istiqlal I" di Mesjid Istiqlal, Jakarta
1991 - Pameran “Sebab Kami Mimpi” di Balai Pemuda, Surabaya
1991 - Pameran “Painter in Third Dimension”, Cemeti Art Gallery, Yogyakarta
1992 - Pameran “Jadex ‘92”, JakartaDesign Centre, Jakarta
1993 - Pameran “Celebrating the Closing of 1993”, C-Line Gallery, Jakarta
1994 - “The 10th Asian International Art Exhibition”, National Gallery, Singapura
1994 - Pameran "Festival Istiqlal II" di Galeri Nasional, Jakarta
1994 - Pameran Seni Lukis di Pasar Seni Ancol, Jakarta
1995 - Pameran "Negara-negara Non Blok" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta
1996 - Pameran (berdua dengan Diyanto) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta
1996 - Pameran "Biennale X Jakarta1996" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta
1996 - Pameran Seni Lukis di Taksu Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia
1996 - Pameran Seni Grafis di Grafische Atelier, Utrecht, Belanda
1997 - Pameran Seni Lukis di Gelanggang Generasi Muda, Tasikmalaya
1997 - Pameran Seni Rupa "Festival Seni Ipoh II" di Ipoh, Perak, Malaysia
1997 - Pameran Seni Grafis “Saksi Mata” di Erasmus Huis, Jakarta
1997 - Pameran Seni Grafis "Saksi Mata" di Bentara Budaya, Yogyakarta
1887 - Pameran Seni Lukis di Hotel Homman, Bandung
1998 - Pameran "South East Asia Painting" di Sotheby’s, Singapura
1998 - Pameran di Gedung Kesenian Tasikmalaya, Tasikmalaya
1999 - Pameran di Gedung Kesenian Tasikmalaya, Tasikmalaya
1999 - Pameran "Makassar Art Forum 1999” di Makassar
1999 - Pameran “Forum Kecil Lembang”, Rumah Titian Seni, Lembang
2000 - Pameran Seni Lukis di Wisma A. Yani, Semen Gersik, Gersik
2000 - Pameran “Warna dan Kata”, Le Meridien Hotel, Jakarta
2000 - Pameran Seni Rupa "Poso Art Festival" di Poso
2001 - Pameran Biennale "Bandung Art Event (BAE) 2001", di GSPI, Bandung
2003 - Pameran "Lima Tahun Reformasi" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta
2003 - Pameran "Seni Lukis Islami" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta
2003 - Pameran Seni Lukis di Masjid Raya Surabaya
2004 - Pameran Seni Lukis di Galeri Pintu Merah, Bandung
2005 - Pameran Seni Rupa “Aku” di Nadi Gallery, Jakarta
2008 - Pameran Besar Seni Lukis “Manifesto” di Galeri Nasional, Jakarta
2008 - Pameran Ilustrasi Cerpen dan Lukisan di Bentara Budaya, Jakarta
2008 - Pameran (berdua dengan Sitok Srengenge) di Rumah Seni Yaitu, Semarang
2009 - Pameran “World Harmony” di Guilin Art Gallery, Guilin, Cina
2009 - Pameran di Guanxi Art College Art Gallery, Nanning, Cina
2009 - Pameran “Urban Figure” di Philo Art Space, Jakarta
2009 - Pameran “8012345”di Galeri Rumah Teh, Bandung



 
Powered by Blogger