Kesombongan Manusia


Oleh: Hizhib Mughni as-Sundy

Kesombongan telah menjalar di setiap lidah, telinga, mata, dan hati para manusia. Kelakuan yang padahal brengsek seperti ini terus dipelihara dan diikuti, tanpa mau melawannya. Manusia sombong dengan lidahnya dengan selalu menghujat, menghina, menggunjing keburukan manusia lain, dia lupa bahwa dirinya pun begitu banyak kekurangan. Dia lebih asik mengata-ngatai orang lain daripada mengatai diri sendiri. Pantas pribahasa mengatakan “gajah dipelupuk mata engkau tak melihatnya, sedang semut di sebrang lautan, engkau mampu melihatnya”
Kesombongan dengan telinga, mereka lebih mau mendengar perkataan orang yang punya jabatan, yang punya pegaruh, yang banyak harta, serta orang-orang yang mereka sukai dan hormati, tapi mereka tak mau mendengar orang yang tak punya jabatan, tak punya pengaruh, dan tak punya harta benda, serta orang yang mereka benci. Ketika yang berkata adalah orang yang mereka sukai dan hormati, mereka mau mendengarkan dan bahkan mau mengikutinya, sedangkan jika yang berbicara adalah orang yang mereka benci dan tak mereka sukai, mereka akan segera mengerutkan dahi, dan tak mau mendengarkan, bahkan mungkin sambil meludah. Pantas sang guru besar berkata yaitu Sayyidina Ali Karramallahu wajhah “dengarkan apa yang dikatakannya, tinggalkan siapa yang mengatakannya” karena apabila kita melihat siapa yang mengatakannya, takut didahului oleh rasa cinta dan hormat, maka walaupun yang diucapkannya itu salah, maka kita akan membenarkannya serta mengikutinya, atau walaupun kita tahu apa yang diucapkannya itu salah, maka kita akan mencari-cari dalil/alasan bagaimana membenarkannya. Dan jika kita melihat siapa yang mengatakannya, takut didahului oleh rasa benci. Walaupun yang dikatakannya itu benar, maka kita tak mau mendengarkannya, apalagi mengikutinya.
Kesombongan dengan mata, ia tak mau menjaga penglihatannya dari segala sesuatu yang dilarang Tuhan, dia anggap semua itu sebagai “Takdir Tuhan”. Ketika dia melihat ketidakbenaran, dia diam, ketika dia melihat ketidakadilan, dia diam, ketika dia melihat ketertindasan, dia diam. Kalo diam melulu apa bedanya dengan patung..?. bolehlah kita tidak peka terhadap prustasi atau kesedihan, tapi kalau kita tidak peka ketika melihat ketidakbenaran, itu tidak baik.
Kesombongan dengan hati ia perlihatkan dengan terus menerus mengurusi otak, mengurusi nalar intelektual, tanpa memperdulikan hati. Mereka lupakan segala penyakit hati yang sedang menjalar dalam tubuhnya, dengki, iri, congkak, benci, serta ujub mereka biarkan mengalir dalam tubuh, hati dan darah mereka. Pantas saja kalau kecerdasan intelektual mereka itu tak sampai mempengaruhi kepada kebaikhatiannya, serta moralitasnya. Yang korupsi itu kan orang pintar?, yang jadi mafia kampus kan orang pintar?, yang suka menindas kan orang pintar?. Ini adalah potret orang-orang yang melupakan hatinya. Nabi Muhammad bersabda dalam sebuah haditsnya, “Di dalam tubuhmu ada segumpal daging, yang apabila ia baik, maka akan baik pula jasadmu, dan apabila dia buruk, maka akan buruk pula jasadmu (Moral), segumpal daging itu adalah Hati.”





Ensiklopedi Emha Ainun Nadjib Part 5


  • Tak ada dosa apa pun dan tak ada kehilangan apa pun. Kecuali kita kini masih seorang purba yang melarang anak-anak kita main sepakbola hanya karena permainan itu milik belanda.
  • Menang debat belum tentu mengubah keadaan.
  • Kita memang bangsa besar yang luar biasa. Kita tersenyum, ada kepentingan atau tidak. Beda dengan di Jerman atau negara kapitalis lain. Di sana, kalau ada pelayan tersenyum, itu bukan menyenyumi anda sebagai manusia. Yang disenyumi adalah uang yang akan kau belanjakan.
  • Pikiran itu bekerja dengan sendirinya, seperti juga jantung dan usus. Bukankah seseorang tiba-tiba pada suatu malam sunyi memperoleh idea tau ilham? Atau mendadak terpikir sesuatu olehnya?
  • Kalau ia susah payah narik taksi sekedar untuk cari makan, alangkah ruginya ! hal demikian cukup dilakukan oleh ayam. Bukankah sambil menyetir taksi, dia bias merenungkan sesuatu hal, bias berdzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya, bias mengamati macam-macam manusia, bias belajar kepada sebegit banyak peristiwa.
  • Kalian berbicara bahwa dunia sudah semakin rusak dan akan semakin rusak. Siapa yang merusak? Kalian sendiri.
  • Allah meninggikan langit dan meletakan perimbangan. Demikianlah hokum nilai Allah. Karena itu orang disuruh shalat, yaitu menyesuaikan diri dengan hokum keseimbangan itu.
  • Manusia tidak sempurna: dia harus selalu berendah hati dan siap mengakui kekurangan dan kelebihannya.
  • Atasan manusia hanyalah Allah. Hanya Allah atasan manusia. Bahkan malaikat disuruh bersujud kepada Adam.
  • Di Akhirat kelak, seluruh hakikat hidup kita mengemukakan dirinya secara jujur, tak bisa kita rencanakan, tak bias kita politisasi atau manipulasi.

Ensiklopedi Emha Ainun Nadjib Part 4


31. Saya bukan seorang yang professional yang setiap orang yag menemui saya harus mematuhi system etik yang saya berlakukan berdasarkan bidang professional saya. Saya hanya seorang awam, manusia biasa, yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan setiap orang.

32. Sebagaimana saya juga mendambakan ada orang lain yang mendengarkan hati saya, maka saya belajar mendengarkan hatinya. Betapa pun melelahkan.

33. Salah satu unsur cinta dewasa adalah empati: mengambil kepentingan pihak lain yang kita cintai menjadi concern (perhatian) kita. Lalu kekasih kita haus, maka kita yang gugup mencarikan air minum. Kalau kekasih kita terluka, perasaan kita yang mengucurkan darah. Kata penyair Sutardji Calzoum Bahri: yang terluka padamu, berdarah padaku.

34. Cinta dewasa yang matang adalah kesediaan untuk berkorban. Untuk hal-hal yang menyenangkan, kekasih yang kita dahulukan. Sebaliknya, untuk hal-hal yang menyengsarakan, kita yang berdiri di garis depan.

35. Kalau ada manusia yang satu-satunya cirri kualitas dan wataknya adalah “Tidak boleh dibantah”, maka derajat dan mutunya persis dengan bayi. Apakah seorang ibu membantah tangis bayinya? Apakah ia mempertanyakan kenapa bayi itu buang air kecil di depan tamu misalnya?

36. Kaum muda kita itu bagian dari komunitas mudatsirun (orang-orang yang berselimut). Oleh apa? Oleh banyak segi-seg pendidikan ketidakcerdasan, ketergantungan, tapi ironinya juga keberkuasaan. Pantas Tuhan bilang: Qum..! berdirilah. Mandirilah. Mandiri pemikiran, mandiri sikap, mandiri pilihan, mandiri politik, mandiri ekonomi, mandiri budaya, hanya dengan cara itu mereka punya erangkat untuk memenuhi amanah: Fa’angdzir..! berilah peringatan, lakukan control social. Beroposisilah terhadap kezaliman dan kepalsuan.

37. Nilai perjuangan di mata Allah dan hakikat kebenaran tidak ditentukan oleh berhasil tidaknya suatu perjuangan. Melainkan ditentukan oleh kesetiaan daya juang sampai batas yang seharusnya dilakukan.

38. Saya sangat mencintai manusia, yang baik ataupun yang jahat. Yang baik saya cintai dengan memujinya, yang jahat saya cintai dengan mengkritiknya, ishlah atau apa pun yang berorientasi kepada kebaikan dan keselamatan.

39. Renungkanlah: betapa untuk bergembira saja anak-anak kita tidak mampu menemukan bentuk yang pantas. Renungkanlah: betapa kita telah gagal mendidik anak-anak kita tentang bagaimana cara bersyukur yang berbudaya.

40. Saya sama sekali tidak khawatir bahwa budaya seks akan menjadi peradaban, seperti saya juga tidak percaya bahwa manusia akan sungguh-sungguh menjadi binatang. Tapi hal-hal sepele seperti itu membuat kita berfikir dimana sebenarnya letak kaum pemikir, filosof, budayawan, negarawan, agamawan dan lain-lain?



Ensiklopedi Emha Ainun Nadjib Part 3


21. Yang ada tinggi rendah itu hanya nilai. Kalau manusia ya sama saja.

22. Manusia apapun posisinya harus belajar bergaul dalam kesejajaran harkat, dalam keadilan dan keseimbangan nilai diantara mereka.

23. Baik orang penindas maupun orang yang tertindas layak kita cintai. Hanya saja, cara kita mencintai harus berbeda. Kaum tertindas kita cintai dengan santunan dan sumbangan perubahan, sedang kaum penindas kita cintai dengan cara menegur atau mendongkelnya.

24. Tidak ada barang yang hilang, paling-paling pindah tempat.

25. Kenapa pengetahuan kalian tidak membuat kalian mengerti?
Khilaflah pandangan yang mengatakan bahwa manusia berhak dan mampu menyutradarai dirinya sendiri secara total. Namun lebih khilaf lagi jika dikatakan bahwa manusia, rakyat, lahir ke dunia hanya sekedar untuk menjalani penyutradaraan.

26. Kita dilarang membiarkan kebodohan. Apalagi kebodohan yang sombong.

27. Betapa tersiksanya untuk tidak percaya kepada sesama manusia.

28. Biarlah ia menipu, biarlah ia puas bahwa saya seakan-akan percaya pada tangisnya. Kalau tidak salah, Tuhan sendiri tahu persis bahwa sangat banyak hamba-hamba-Nya menipu-Nya setiap hari. Mengingkari janji untuk patuh kepada-Nya. Tapi apakah dengan itu lantas Tuhan menghentikan terbitnya matahari gara-gara dia jengkel ditipu manusia?

29. Jangan sampai kita mengeksploitasi persahabatan atau kemanusiaan untuk hal-hal yang bersifat professional.



Ensiklopedi Emha Ainun Nadjib Part 2


11. Di tengah seribu hal yang menympekkan, tak kurang jua yang meringankan.

12. Yang terkenal belum tentu bermutu, yang bermutu belum tentu dikenal.


13. Kita terseret untuk membenci orang kaya, atau mencintai kemiskinan, saking getolnya membela orang miskin. Jadi sama halnya dengan setiap orang memeras orang miskin, karena sangat getol dengan kekayaan. Artinya, apakah untuk menjadi kaya harus melalui memiskinkan orang dahulu?


14. Kambing jangan seenaknya menyimpulkan bahwa harkatnya lebih tinggi daripada ayam, karena makanannya rumput dan dedaunan sementara ayam makan debu dan ulat-ulat kotor. Sebab kebudayaan ayam memiliki perspektif nilai-nilainya sendiri, memiliki acuan estetika dan hokum kesehatannya sendiri, yang tidak bias dibandingkan dengan kerangka acuan kambing.


15. Persetubuhan itu baik, tapi jika dilakukan tidak pada tempat dan waktunya, ia menjadi pemerkosaan. Korupsi itu toh hanya mengambil, Cuma yang diambil bukan haknya.


16. Keburukan itu tidak ada. Keburukan adalah kebaikan yang tidak diletakan pada ruang dan waktu yang semestinya. Sama halnya dengan kebencian, sesungguhnya ia adalah gelar dari cinta yang disakiti.

17. Zaman ini adalah zaman yang paling merasa tahu segala sesuatu, tetapi dimana-mana terjadi kedunguan dan ketidaktahuan terhadap hakikat kehidupan disbanding peradaban-peradaban masa silam. Alangkah sakit jiwanya.

18. Zaman sekarang adalah zaman yang mengaku paling sehat dan memuncaki ilmu dan tekhnologi kesehatan, tetapi berderet-deret penyakit baru muncul. Alangkah sakit jiwanya.

19. Zaman sekarang adalah zaman dimana nilai-nilai, substansi, makna kata, hakikat realitas, dijungkirbalikan secara sengaja seperti menaruh bola mata dibalik ketiak. Alangkah sakit jiwanya.

20. Orang yang kehilangan, setidaknya akan ingat bahwa ia kehilangan. Tapi kalau terlalu lama ia merasa kehilangan sesuatu, akhirnya yang hilang bukan hanya sesuatu itu, tetapi juga rasa kehilangan itu sendiri.



Ensiklopedi Emha Ainun Nadjib Part 1


1. Kenapa kita tak bersedia merasa sebagai anak yang sedang belajar, sehingga ketidakmampuan itu wajar dan tak perlu ditutup-tutupi. Kenapa kita cenderung menciptakan diri menjadi nabi-nabi kecil yang bersabda dengan gagah perkasa

2. Tak seorang pun mampu mengada tanpa karena

3. Yang kita kehendaki dari anak-anak kita terutama adalah kepatuhan dan ketertiban dalam ukuran-ukuran kita sendiri. Kita kurang memiliki tradisi empati untuk membayangkan dan sampai batas tertentu membiarkan anak-anak kita menjadi diri mereka sendiri.

4. Sastra sekuler tidak otomatis steril dari Tuhan dan ketuhanan, seperti halnya atheism hanyalah tahap atau batas pengetahuan ketuhanan tertentu, atau kita tidak bias menyatakan, kita hidup di bumi dan Tuhan nun di sana. Semua terletak dalam ruang lingkup Tuhan. Oleh karena itu tidak usah kaget apabila menjumpai sebuah karya sastra sekuler tiba-tiba terasa sedemikian mendalam kadar Religiusitasnya.

5. Kesadaran wahid adalah proses perjalanan menuju Tuhan atau menempuh metode di dunia ini untuk tiba kembali pada-Nya. Manusia menempuh karier, meraih status, nama baik, dan hiasan harta benda, yang seluruhnya itu diorientasikan kepada penemuan Tuhan. Karier, nama baik, harta benda adalah tarikat menuju Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri

6. Manusia mesti memutuskan sesuatu untuk menemukan dirinya kembali, memilih tempatnya berpijak, menentukan kedudukannya. Di tengah ilmu yang makin menumbuhkan ruh. Di tengah pengebirian agama, pendangkalan kebudayaan, ironi kenyataan yang palipurna, penindasan yang disamarkan, penjajahan dengan senyuman. Ini zaman darurat, apa yang bias kau perbuat? Mengubah masyarakat? Itu impian sekarat.

7. Kehidupan berhenti ketika seseorang memilih aman daripada gelisah dan resiko.

8. Proses apapun, apalagi perlawanan dan pembebasan, mestilah ditempuh dengan kerja keras terus-menerus, penguasaan atas segala yang diperlukan oleh proses itu, serta persediaan waktu yang tidak pendek.

9. Puisi bukan apa-apa. Ia hanya bikinan manusia. Sedang manusia bukan apa-apa, kecuali ia yang bekerja agar ia lebih dari sekedar bukan apa-apa. Apapun saja bukan apa-apa kecuali Tuhan.

10. Saudaraku, dimana saja aku adalah aku, sebagaimana di hutan pun engkau adalah engkau.



Dibalik Peradaban Masa Silam


kita semua akan tertarik pada peradaban dan khazanah kemanusiaan. Serta mengenai orang-orang dan karya-karya mereka yang menghuni bumi ini sebelum kita. Di Yunani ada tempat pemujaan di Delphi dengan keindahan artistic dan kepiawaian pembuatnya. Di Roma banyak museum-museum seni, arsitektur, biara, kastil dan istana. Di Cina dan Vietnam gunung-gunung diubah oleh tangan dan otak manusia menjadi candi-candi pemujaan untuk para Dewa dan biksu-biksu, Di Afrika ada tiga piramida besar yang terkenal, dan itu akan memubat kita takjub.

Tapi ketakjuban itu berubah menjadi kebencian setelah kita tahu, bahwa semua itu dibangung diatas keringat, air mata, dan darah para budak-budak yang tertindas. Seperti Piramida yang di Mesir, itu terbuat dari 800 juta keping batu yang diangkut oleh para Budak dari Aswan ke Kairo dari sebuah tempat yang berjarak 980 mil dari ibukota mesir itu, hanya untuk membangun sebuah tempat peristirahatan tubuh-tubuh Fir’aun yang dibalsem untuk dijadikan Mumi.pada sebuah sudut, ada goresan besar pada batu-batu piramida itu, ternyata itu adalah kuburan para budak yang dijejalkan di bawah piramida itu. Dari 3 ribu budak yang membawa bongkahan batu yang berta dari tempat berjarak ratusan mil itu, setiap hari mereka tertimbun batu-btu raksasa itu. Begitu tidak berartinya mereka dalam system perbudakan, sehingga jenazah-jenazah itu dilemparkan dan dikuburkan dalam satu tempat.

Mereka dan kita adalah sama, maka yang kita rasakan dari jiwa-jiwa yang tertindas di bawah piramida itu adalah hangat dan simpati. Setelah kita mengetahui asal muasal Piramida itu, maka kita akan menyadari, di balik kemegahan dan keagungan bangunan itu, kita betul-betul merasa asing dan jauh darinya! Dengan kata lain, ada rasa kebencian yang dalam pada monument-monumen peradaban megah sepanjang sejarah yang dibangun diatas tulang belulang para pendahuluku! Adalah mereka juga yang membangun tembok besar china. Yang lemah diantara mereka kini terkubur diatas himpitan batu-batu besar itu. Beginilah semua karya besar umat manusia telah dibangun dengan biaya darah dan daging nenek moyangku.

Ternyata peradaban tidak lebih dari sebuah kutukan. Kebencian ini kian membakar selama ribuan tahun penindasan terhadap nenek moyang kita. Kita sadar bahwa perasaan mereka yang terkubur itu sama dengan kita. Perbudakan tidak akan hilang, perbudakan itu tetap ada, dari satu bentuk ke bentuk lain.




 
Powered by Blogger