Di masyarakatlah tempatmu..!

Dalam masyarakat, disitulah tempatmu, wahai mubalighul Islam ! disitu awal hidupmu dan disitu pula kesudahan hayatmu. Saya jarang melihat ulama atau mubalighul Islam yang bias menjadi parlementarir yang baik, yang dapat diketengahkan. Mubaighul Islam seperti H. Zainal Abidin Ahmad, adalah seorang parlementarir yang boleh dibanggakan. Tapi jangan lupa, beliau sejak muda telah menjuruskan minat dan mengembangkan bakatnya dalam soal-soal politik Islam. Beliau ahli teori ideology Islam sejak Partai Islam Indonesia dahulu. Jadi beliau bukanlah “politisi mendadak”.
Yang banyak saya lihat adalah Ulama atau Mubalighun Islam yang kesasar, salah jalan. Beliau-beliau itu diangkat oleh partainya menjadi anggota parlemen yang terhormat. Karena telah menjadi anggota parlemen, berubahlah sikap, berubahlah pakaian, dan berubah pula kelakuan.
Akan tetap memakai sarung, awak malu, karena sarung tidak cocok lagi dengan kedudukan sebagai anggota parlemen. Digantinya dengan celana pantaloon. Karena tidak biasa memakai pantaloon, canggung juga kelihatannya Kiyai kita ini.
Biasa dalam masyarakat memakai peci dan sorban, karena sudah menjadi anggota parlemen, sorban dan peci harus ditinggalkan, dan kini Kyai kita telah terbuka tendanya.
Kalau dahulu member fatwa haram hukumnya berjabatan tangan dengan wanita, dan tidak boleh bergaul bebas dengan kaum hawa, kini telah lancer saja, segala boleh karena “darurat”, sebab kini telah menjadi anggota parlemen.
Saudara mau tahu apa kerjanya dalam parlemen?
Masuk ke ruang sidang, tanda-tangani daftar hadir, duduk sebentar mendengarkan orang lain, masuk ke loby minum kopi, ambil naskah parlemen di box, lantas pulang k penginapan. Naskah itu tak pernah dibaca karena tidak mengerti, setelah banyak, jual ke tukang loak.
Saya sama sekali tidak menghina ulama dan mubalighul Islam. Yang saya katakana adalah fakta, bukan fantas atau khayali. Dengan pasti saya katakana, Kyai atau mubaligh yang digambarkan diatas, bukan tempatnya menjadi anggota parlemen. Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa yang menyerahkan suatu urusan kepada bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya!”
Saya lebih menghormati seorang Kyai yang tekun menghadapi pesantren dan masyarakat daripada seorang anggota parlemen yang mentereng tampaknya, tapi kosong isinya. Saya menyerukan kepada partai-partai Islam, agar mereka meninjau kebijaksanaan yang ternyata salah itu.

Islam dan Fitrah manusia

ku: Mama Mughni Shiddiq

Islam berarti tunduk atau patuh dan berserah diri. Islam juga berarti sentosa, damai, atau selamat. Oleh karena itu, orang yang berserah diri, tunduk dan patuh kepada Allah, maka ia dikatakan sebagai muslim. Hanya kebanyakan manusia zaman ini, mereka hanya mengaku muslim atau mengaku beragama islam, akan tetapi mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada peraturan yang dibuat Allah. Oleh karena itu mereka disebut “Muslim abangan”. Abangan dalam istilah jawa digunakan terhadap pemeluk islam dijawa yang kurang memperhatikan perintah-perintah Allah dan kurang teliti dalam memenuhi kewajiban-kewajiban agamanya.

Adapun definisi islam menurut istilah selain dari yang disebutkan dimuka, ialah menurut harun nasution, bahwa islam adalah agama yang diwahyukan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad saw, sebagai rasul.

Namun ada sekelompok orang yang mengartikan bahwa islam itu bukan agama tetapi islam adalah hukum, karena agama itu berasal dari bahasa sangsakerta, A=tidak GAMA=KACAU, dan adapun ayat “sesungguhnya din yang diridhoi Allah hanyalah islam” din menuruk kelompok ini (an-nadhir) adalah hukum dan islam adalah selamat, maka hukum yang selamat adalah hukum yang berlandaskan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

islam ini langsung diberikan Allah, sebagaimana firmannya:

“Hari ini telah kusempurnakan agamamu, dan telah kucukupkan ni’mat-Ku untukmu, dan aku rela islam sebagai agamamu.”

Pada era globalisasi ini, banyak manusia tidak memperhatikan dasar, prinsip, dan syari’at agama. Hidup mereka hanya terukur oleh materi belaka. Mereka anggap bahwa agama itu sudah kuno, warisan tempo dulu. Perhatian mereka hanya tertuju pada uang, jabatan, dan kekayaan. Padahal pada fitrahnya manusia itu membutuhkan agama. Ada beberapa alasan mengapa manusia membutuhkan agama:

· Latar belakang fitrah manusia.

Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia adalah melatarbelakangi terhadap kebutuhan manusia terhadap agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan itu memang amat sejalan dengan fitrahnya. Dalam konteks ini Allah berfirman:

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetapkanlah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya itu.” (QS. AL-Rum: 30)

Sejalan dengan itu, istilah insan yang digunakan al-Qur’an untuk menunjukan manusia, mengacu kepada informasi yang diberikan al-Qur’an, menurut Musa Aay’ari, insane adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya.. insane adalah ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dibandingkan makhluq ciptaan Tuhan yang lainnya, seperti; binatang, tumbuh-tumbuhan, malaikat, dan lain sebagainya., isnsan juga dilengkapi dengan kemampuan mengenali dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya. Musa Asy’ari mengatakan bahwa pengertian manusia yang disebut insan karena menunjukan lapangan manusia kegiatan manusia yang luas adalah terletak pada kemampuan menggunakan akalnya dan mewujudkan pengetahuannya dalam kehidupan kongkret. Berbeda dengan kata basher yang digunakan al-Qur’an untuk menyebut manusia dalam pengertian lahiriahnya yang membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, hidup, kemudian mati.

Jadi, seandainya ada manusia yang tidak beragama dan tidak mempercayai adanya tuhan, maka ia telah menentang fitrahnya sebagai manusia.

Bukti bahwa manusia memiliki potensi untuk beragama ini dapat dilihat dari segi historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitive yang kepadanya tidak pernah datang risalah mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan.

· Kelemahan dan kekurangan manusia

Disamping manusia memiliki kesempurnaan, manusia juga memiliki banyak kekurangan. Dalam al-Qur’an nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi untuk melakukan kebaikan dan keburukan.

“Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketaqwaan.” (QS. Al-Syams: 7-8)

Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Walaupun al-Qur’an menegaskan bahwa nafs berpotensi positifr dan negatif, namun pada hakekatnya potensi positif manusia lebih kuat, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Beberapa keburukan yang cenderung ada pada manusia, dzalim, melampaui batas, sombong, ingkar, dan khianat. Karena itu manusia harus bisa menjaga kesucian nafs, untuk menjaganya ini manusia harus mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan bimbingan agama,n maka disinilah letaknya kebutuhan manusia terhadap agama.

· Tantangan manusia

Manusia dalam hidupnya selalu menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam seperti syetan dan hawa nafsu, ataupun dari luar yang berupa rekayasa-rekayasa dan upaya manusia yang sengaja ingin menjauhkan manusia dari Tuhan. mereka mengeluarkan biaya yang banyak agar orang mengikuti keinginannya, berbagai bentuk budaya, hiburan, dan sebagainya. Guna menjauhkan manusia dari Tuhannya. Untuk itu, metode atau upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat dalam menjalankan agama.

Agama adalah kebutuhan vital bagi manusia. Karena agama sanggup menciptakan hubungan harmonis antara makhluq dengan penciptanya, dan antara makhluq dengan makhluq. Agama pula yang mampu membersihkan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia seperti membunuh, berzina, memakan yang bukan haknya. Disini agama bukan berarti mengekang fitrah manusia , misalnya: memerlukan makan dan minum, memerlukan hubungan biologis, dan sebagainya, tetapi agama itu mengaturnya. Agar manusia merealisasikan fitrahnya itu untuk mencapai keridhoan Tuhan.

Agama pula yang menanamkan cinta keadilan dan kebenaran. Serta saling mencintai. Sebagaimana yang disbutkan dalam sebuah hadits “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hadits ini menggambarkan bahwa islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan bukan hal-hal lain, sehingga betul-betul merupakan persaudaraan yang murni.

Begitu banyak keutamaan agama yang sanggup menciptakan setiap individu bermoral, keluarga harmonis, masyarakat adil dan makmur, dan kemajuan yang pesat.

Namun yang jadi soal, agama apakah yang mampu membuktikan itu semua? Agama itu adalah islam.

Islam datang dengan membawa aqidah dan syari’at sebagai pedoman hidup untuk manusia. Dari bidang akidah, islam berbicara tentang:

· Allah. Dia adalah Tuhan yang Maha Hidup, tiada sekutu bagi-Nya, dia tak pernah beristirahat sekejap mata pun dan tak pernah tidur. Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwasanya nabi Musa pernah bertanya kepada Allah “Ya Allah, kenapa engkau tidak pernah tidur?” maka Allah menyuruh nabi Musa memegang sebuah mangkok sambil berdiri, dan jangan tidur sekejap mata pun. Maka nabi Musa melaksanakan perintah Allah, ketika nabi Musa memegang mangkok itu nabi Musa tertidur, dan akhirnya mangkok itu pecah. Maka Allah berfirman: “Hai Musa seandainya Aku tidur, maka dunia ini akan hancur seperti mangkok itu.”.

Adapun sifat Allah itu ada 20, salah satunya adalah wujud (ada), qidam (terdahulu), qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri) dan lain sebagainya. Sifat –sifat ini tidak dimiliki oleh manusia dan manusia tidak bisa untuk mengikutinya. Berbeda dengan af’al-Nya Allah yang harus kita ikuti seperti ar-Rahman (Maha pengasih), dengan memberikan kasih sayang kepada manusia yang lalai, yaitu dengan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah dengan cara memberikan nasihat dan wejangan dengan cara lemah lembut. Nama Allah yang lain seperti ar-Rahim (Maha Penyayang), kita harus mengikuti akhlaq Allah ini dengan tidak meninggalkan orang yang membutuhkan pertolongan kecuali ia memberikan bantuan kepadanya sebatas kemampuannya.

· Wahyu dan proses penurunannya. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secara berangsur-angsur. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah secara mutawatir agar mudah dimengerti oleh manusia. jika Allah menurunkannya langsung, maka manusia akan susah untuk menerimanya, dikarenakan al-Qur’an adalah perkara yang baru bagi mereka (bangsa arab).

· Nabi-nabi dan rasul. Nabi dan rasul itu berbeda, jika nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah namun tidak diwajibkan untuk menyebarkannya, jika rasul wajib untuk menyebarkannya. Seperti nabi Muhammad saw. Beliau ditugaskan oleh Allah untuk menyampaikan ajaran-Nya seperti nabi dan rasul sebelumnya, tapi perlu ditegaskan disini, nabi Muhammad itu bukan pendiri islam dan bukan pengarang agama islam serta islam itu bukan pendapat nabi Muhammad, akan tetapi nabi Muhammad hanyalah seorang rasul, pembawa dan penyampai agama islam, dimana agama islam itu adalah wahyu dari Tuhan

“Muhammad itu hanyalah seorang rasul (utusan), sungguh telah lalu sebelumnya beberapa orang rasul” (QS. Ali Imran:144)

“Dan dia (Muhammad) tiada berkata menurut kemauan hawa nafsunya. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm:3-5)

Namun ada suatu kekeliruan di barat, mereka menyebut islam dengan “Muhammadanisme” dan “Muhammedan”. Hal ini terdapat, seperti judul buku “Muhammadanism” yang dikarang oleh H.A.R. Gibb.

Pemilihan nama ini, bukan saja tidak tepat tapi juga secara prinsipil, telah dapat mengubah pengertian, bahwa agama islam adalah paham Muhammad, dan lebih dari itu mengandung arti pemujaan terhadap Muhammad. Mereka mengambil pengertian dari agama lain, sebagaiamana perkataan “Kristen” dan kekeristenan yang mengandung pemujaan terhadap Yesus Kristus.

· Malaikat dan masalah Ruh. Malaikat adalah makhluq Allah yang terbuat dari cahaya. sifat malaikat itu tunduk dan patuh kepada segala perintah Allah. Jumlah malaikat itu sangat banyak, namun yang wajib kita ketahui ada 10 yaitu: Jibril, Mika’il, Izrail, Israfil, Munkar, Nakir, Rakib, Atid, Malik, Ridwan. 10 malaikat ini memiliki tugas yang berbeda. Seperti Jibril tugasnya adalah menurunkan wahyu, atau Izra’il bertugas untuk mencabut nyawa. Dan seterusnya.

Adapun Ruh saya serahkan kepada Allah.

Dan adapun batasan-batasan yang mengarahkan pada pembentukan moral mulia dan keharmonisan manusia, Islam sangat perhatian sekali terhadap pembinaan moral ini, Dalam sebuah hadits disebutkan “agama (islam) itu ialah budi pekerti yang baik.”. menurut ajaran islam, akhlaq itu adalah agama. Akhlaqul karimah, budi pekerti terpuji, menjadi sifat dan perangai para nabi, shadiqin, dan para shalihin. Bagaimana mereka mempraktekannya kepada manusia seperti saling menghormati, saling menyayangi, dan saling menghargai. Ataupun kepada binatang,dan tumbuh-tumbuhan mereka menjaganya, dan memeliharanya.

Islam mengajarkan kepada kita agar memiliki budi pekerti yang baik, guna menciptakan ketenangan jiwa. Dalam Riyadlus Shalihin, terdapat pengertian tentang akhlaq

“ kebaikan itu merupakan akhlaq yang baik. Dan kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat mendatangkan ketenangan jiwa, dan menenangkan hati. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang dapat menimbulkan keraguan dan kebimbangan jiwa, dan dapat menimbulkan kegoncangan dalam hati.”

Perbuatan baik, sebagian daripada akhlaq. Dan kebaikan itu dapat menenangkan hati, menyejukan jiwa. Jiwa tenang berarti jiwa yang sehat. Sebaliknya perbuatan yang tidak baik, dapat menggangu jiwa dan meragukan hati. Hati yang senantiasa ragu, berarti hati yang tidak sehat. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik. Sabdanya: “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.”

Banyak ahlaq terpuji yang diajarkan oleh agama islam, antara lain:

* Keberanian dalam kebenaran.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang kafir yang mnyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Allah dan tempatnya ialah neraka jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.”(al-Anfal:15-16)

* Pemurah

Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”(Ali Imran:92)

Rasulullah bersabda: “Berinfaklah kamu dan jangan menghitung-hitung, maka Allah akan menghitung-hitung pula terhadapmu, dan janganlah kamu bakhil, sebab jika kamu bakhil Allah akan bakhil terhadapmu.

* Adil

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah kamu karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(al-Maidah:8)

Rasulullah bersabda: “ada tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga lagi membinasakan, yang menyelamatkan adalah: berlaku adil padawaktu marah dan waktu suka. Dan takut kepada Allah baik dalam waktu sendirian maupun dikhalayak ramai, dan berlaku sederhana di waktu miskin dan pada waktu kaya.”

* Benar

Allah memberika pahala kepada orang-orang yang benar, sebagaimana firman-Nya:

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendakinya, atau menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(al-Ahzab:24)

Rasullullah bersabda: “usahakanlah supaya kamu benar walaupun dalam anggapanmu dalam sikap benar itu ada kebinasaan, sesungguhnya pada sikap benar itu ada keselamatan. Dan jauhilah sikap berdusta walaupun dalam anggapanmu dalam berdusta itu ada keselamatan, sesungguhnya kebinasaan itu terdapat dalam berdusta.”

* Menjaga amanat

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil, sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(an-Nisa:58)

Rasulullah bersabda: “Sampaikanlah amanat kepada orang yang mengamanatkan kepadamu, dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang khianat kepadamu,”

* Pemaaf

Allah berfirman: “Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan sesungguhnya perbuatan itu termasuk urusan-urusan yang diutamakan.” (asy-Syura:43)

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memberi maaf ketika ia mampu membalas, maka Allah akan mengampuni ia di saat kesukaran”

* Kasih sayang

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kamu sendiri, berat rasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayang”

* Tawadhu/tidak sombong

Allah berfirman: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku.” (al-a’raf:146)

Rasulullah bersabda: “sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kamu semua bertawadhu’ sehingga tidak ada yang sombong terhadap lainnya dan seorang tidak menganiaya yang lainnya.”

Inilah antara lain daripada akhlaq yang diajarkan oleh islam yang langsung dicontohkan oleh nabi Muhammad.

Adapun pada masalah sosial, islam mencurahkannya dalam beberapa aspek:

· Aspek keluarga

Menurut ajaran islam, keluarga itu erat sekali hubungannya dengan perkawinan. Dan karena perkawinan maka terbentuklah keluarga. Jelasnya, dasar utama terbentuknya keluarga karena ada ikatan perkawinan Allah berfirman dalam surat ar-Rum ayat 71:

“Dan diantara kekuasaan-Nya. Ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.”

Dari firman Allah itu dapat diambil kesimpulan bahwa perkawinan menurut islam bertujuan.

1. Membina kehidupan yang tentram, tenang, dan bahagia.

2. Membina sikap yang rukun, damai, penuh rasa cinta mencintai dan penuh kasih sayang.

3. Supaya memperoleh keturunan yang sah, untuk melanjutkan generasi.

Namun secara garis besarnya, islam menuntunkan agar dapat dibina keluarga yang penuh tanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap diri masing-masing, bertanggung jawab terhadap keluarga, dan bertanggung jawab terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Untuk memberikan garis-garis kepemimpinan dalam keluarga, dan cara-cara memimpinannya, telah ada garis-garis di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“laki-laki menjadi pemimpin kaum wanita, karena karunia Tuhan melebihkan yang satu dari yang lain. Dan karena mereka (Laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri, di balik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka.”(an-Nisa:34)

Dijelaskan dalam hadits: “Laki-laki yang paling baik adalah yang amat baik kepada istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku. Tidak ada yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang menghina wanita kecuali orang yang hina pula.”

· Aspek kemasyarakatan.

Agama islam adalah agama yang universal dan lengkap. Bukan saja mengatur urusan ubudiyah, hubungan manusia dengan Tuhannya, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, dan mengatur pula penguasaan alam seisinya untuk dipergunakan dan dimanfa’atkan untuk kepentingan maslahat umat.

Islam juga mengatur kehidupan seimbang antara kepentingan jasmaniah dan rohaniah, antara dunia dan ukhrowi, dan antara kehidupan sekarang dan hari esok.

Untuk mencapai itu semua, maka oleh Islam, kehidupan ini diatur dalam bidang-bidang, dan masing-masing bidang hendaknya dihadapi oleh ahlinya. Garis-garis pembidangan itu, telah diberikan oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Ketika kamu berada dalam daerah urusan agama, maka serahkanlah kepadaku. Dan ketika kamu berada dalam daerah urusan duniawimu, kamu lebih tahu tentang duniawimu.”(HR. Muslim)

.tetapi urusan duniawi itu tidak bertantangan dengan ajaran islam. Dan islam menyerahkannya kepada manusia, seperti dalam bertani dang sebagainya.

Diantara etika kemasyarakatan dalam ajaran islam adalah soal sopan santun, adab masuk rumah, serta upaya mencegah kemungkinan terjadinya zinah.

Alangkah indahnya agama yang di bawa Rasulullah ini, agama yang mengajarkan manusia saling berkasih sayang, agama yang mengajarkan manusia saling menghormati, dan agama yang menjunjung tinggi akhlaqul karimah.

Adapun masalah dunia, manusia berbeda pandangan, ada sebagian manusia memandang bahwa bahagia itu kenikmatan materi dan penguasaan harta benda semata. Sementara kelompok lain ada yang mengasingkan diri dari kenikmatan materi dan memutuskan hubungan dengan dunia.

Kedua pandangan diatas jelas salah, dan nyata tidak sesuai dengan pembawaan manusia, serta menentang dedikasinya sebagai makhluk pembuat kebaikan di muka bumi. Pandangan pertama yang terfokos pada kenikmatan materi, amatlah bertentangan dengan eksistensi dirinya sebagai manusia. Karena dunia ini hanyalah sementara dan akan rusak karena hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat kelak. Adapun kelompok yang ke dua, karena mereka lari dari kenyataan dalam artian meniggalkan jalur hidup wajar dan memotong kebutuhan hidup. Padahal dunia ini adalah jalan untuk menuju akhirat.

Adapun kenahagiaan menurut pandangan islam, ketika dia mencapai kesuksesan yang hakiki yakni “ketika kita ridho terhadap diri kita, ketika orang lain ridho terhadap diri kita, dan Allah pun ridho terhadap diri kita”.

Ngaji Tina Pawayangan

(1)

DEWALA & CEPOT

(B. SUNDA)

Cepot: lamun maneh ngaku ajengan, dewek rek nanyakeun pertanyaan ka silaing..!

Dewala: nanyakeun naon?

Cepot: aya nunyaritakeun euy.. tentang Bid’ah, yen sakabeh Bid’ah etateh dholalah, (finnar) jadi pinarakaeun.

Dewala: heueuh..ari kitu?

Cepot: naha etateh heueuh..?

Dewala: nya heueuh..! bid’ah mah dholalah, pinarakaeun.

Cepot: sakabeh?

Dewala: pikir ku urang, naon anu bakal pidorakaeun tina sakabeh, eta Bid’ah. Tanyakeun heula ari Bid’ah teh naon?

Cepot: naon Bid’ah teh?

Dewala: ngurangan atawa ngaleuwihan kana hiji perkara nu geus ditangtukeun ku pangeran jeung ku rasul-Na.

Cepot: oh.. jadi Bid’ah teh kitu?

Dewala: heueuh..bid’ah teh kitu.

Cepot: pinarakaeun etateh?

Dewala: pinarakaeun.

Cepot: kumaha etateh?

Dewala: urang nyokot garis besarna weh.. urang cokot globalna. Heulaanan ulah waka nuduh kanu jauh, ulah nyawang kanu anggang, ulah waka mikiran batur.

Cepot: naon?

Dewala: yeuh bid’ah nu aya dina diri sorangan heula

Cepot: diantarana?

Dewala: ulah dileuwihan jeung ulah dikurangan. Dina diri urang aya hate, tah ari hate teh wadah.

Cepot: wadah naon? Wadah ci kopi?

Dewala: lain..! na.. kanu hakaneun wae iyemah..

Cepot: dewek mah inget ka babaturan euy.. ngomongnateh kana hakaneun weh…! Jadi ari hate teh wadah? Wadah naon?

Dewala: wadah sagala rupa, ngan tidieu geus ditangtukeun, hate teh kudu diisian ku welas asih, ridho ikhlas, jeung ku sumerah pasrah.

Cepot: hate teh kudu diisian ku welas asih, ridho ikhlas. Jeung ku sumerah pasrah.

Dewala: heueuh.. lahaulaa katerangannana. Daya jeung upaya, anging gusti nu kagungannana. Jadi urang mah kudu tetep, eta hate teh diisian ku ridho ikhlas jeung sumerah pasrah. Tah lamun aya jelema nu ngaleuwihan ridho ikhlas tina hatena.. eta Bid’ah.!

Cepot: bid’ah kumaha?

Dewala: heueuh lewih..

Cepot: jadi?

Dewala: contona: ieu ikhlas ridho, derr weh diancikan ku ngewa, sirik pidik ka batur, tah eta finnar, pinarakauen. Sakabeh eta Bakal jadi ka naraka, ceulina, pangdengena,panempona, Contona kieu lah, seperti aa jeung kuring, aa teh jorojoy weh aya ngewa dina hate, ka kuring..! tah lamun eta hate aa geus kaancikan ngewa ka kuring, dimana kuring ngomong, teu sudi ngadenge omongan kuring, berate geus nyilakakeun kana ceuli aa, dimana ningali rupa kuring, aa geus embung nempo kana pangrupa kuring, berate geus nyilakakeun kana panon aa. Najan kuring make minyak seungit nu pangseungitna, aa moal daek ngambe kuring, berarti geus nyilakakeun kana pangambe aa. Jadi eta anggota badan anu aya dina awak aa,kabeh bakal ngasaan panasna seuneu naraka.

Cepot: eleuh..euleuh..!

Dewala: tah kitu.

Cepot: jadi lamun nyaci kabaturteh..

Dewala: geus bid’ah, geus ngaleuwihan tina ridho ikhlas, sedengkeun ka batur kudu muji, ngahormat, handap asor, tawadho tea. ayeuna dileuwihan ku dirina, ngewaan jeung syirik pidik.

Cepot: heueuh nya euy…!

Dewala: helaanan dina diri sorangan, tuluy kaituna.

Cepot: naon euy?

Dewala: pokonamah sakur nu bid’ah eta pinarakaeun.

Cepot: apan aya bid’ah hasanah?

Dewala: ah da kuringmah keur ngomongkeun bid’ah dholalah, lamun bid’ah hasanah beda deui jalurna.

Cepot: oh kitu nya euy..

Dewala: tah lamun urang ridho ikhlas, sumerah pasrah kanu pengabdian ka pangeran, ulah kaancikan ku sirik, pidik, jail, kaniaya, iren, pangasten, dudupak, rurumpat, ngumpat, simuat, ujub, takabur, nyaci, maki, jeung pedit.

Cepot: o..oh

Dewala: tah kuring inget kana hiji riwayat, aya hiji Nabi nu haying guguru ka Nabi Khidir.

Cepot: Nabi Musa kitu?

Dewala: heueuh.. tah saur nabi khidir, ‘heug guguru ka kami, ngan ulah loba nu ditanyakeun, jeung ulah loba nu dinahakeun.’ Hiji mangsa aya budak nu keur ulin, eta ku nabi Khidir budak the dipaehan, eta nabi Musa teh naroskeun ‘naha budakteh dipaehan?’ ‘cicing, apan tadi oge ulah loba nganahakeun..cicing weh guguru ka kami mah.!’ ceuk nabi khidir teh.

Cepot: uluh..uluh.. maenya budak dipaehan euy?

Dewala: tah aa ge nanyakeun gening, cicing dengekeun heula weh da can ngarti. Tuluy aya kapal nu geus loba muatannana, tah eta kapal teh di tibrosan ku nabi khidir neupi ka ngelelep, atuh muatan teh sing garajleng.

Cepot: disisi kapalna?

Dewala: heueuh disisi, rek indit. Tah didieu piker ku aa..! ceuk nabi khidir bieu, ulah loba maenyakeun jeung ulah loba nganahakeun, sing horeng nitah mikir. Ulah maenya jeung dinahakeun ieu kaagungan pangeran teh, tapi kudu mikir urang

Cepot: mikir the lebah nu manana tah?

Dewala: heueuh mikir, tapakur tea.

Cepot: ari eta budak nu dipaehan tea?

Dewala: ieu budak geus gedena bakal jadi jalma nu kafir, tuluy bakal maehan indung bapana, matak mening dipaehan weh ayeuna..

Cepot: atuh etamah elmu ka ma’rifatan euy, jadi nabi khidir mah waspada kanu bakal datang?

Dewala: kahiji kitu.

Cepot: ari eta kapal nu di tobrosan?

Dewala: tah ieu kapal teh, engke di tengah laut bakal aya nu ngabajak, jeung bakal dikelelepkeun, matak mening ayena weh ditobrosan. Ameh teu cilaka.

Cepot: oh jadi nabi khidir mah apal kana kajadian nu bakal datang? Atuh ngaramal kitu mah? Nujum tea.

Dewala: lain..! tah eta teh sing jadi elmu keur urang.

Cepot: elmu kumaha?

Dewala: kieu. Budak pangna dipaehan bakal ngaruksak. Tah dina wujud urang oge aya lampah bubudakeun, geuwat eta laku lampah bubudakeun teh geura bunuh..!

Cepot: oh kudu dipaehan?

Dewala: ganti ku kadewasaan. Sabab lamun urang tutuluyan bubudakeun, bakal cilaka.

Cepot: oh……jadi urang teh kudu geus dewasa

Dewala: kudu geus dewasa, kudu geus dibunuh eta laku lampah bubudakeun teh.

Cepot: jadi ulah bubudakeun.

Dewala: kahiji.. kaduana hirup ulah di perbudak ku dunya.

Cepot: jadi ulah diperbudak ku dunya?

Dewala: ulah..! malah aya katerangan, ceuk pangeran ‘ya dunya… geura perbudak kumaneh, eta manusa-manusa nu salilana sujud kamaneh!’ nu matak loba jelma nu diperbudak ku dunya, jeung dulur neupi ka teu akur, jeung baraya neupi kaparasea, loba nu papisah alatan rizki, sieun teu kabagean hakaneun, sieun teu kabagean rizki.

Cepot: alatan diperbudak ku dunya?

Dewala: heueuh.. matak aya katerangan hiji deui, ‘ya dunya..geura ngabakti meneh ka manusa-manusa, anu salilana ngabakti ka kami!’ kitu dawuhan pangeran

Cepot: jadi dunya bakal sujud ka urang teh lamun urang?

Dewala: lamun urang geus bakti ka pangeran.

Cepot: ah rek bakti atuh ah ayeunamah..

Dewala: syukur… ngan ulah kapaksa. Matak ancikan eta hate teh ku ridho ikhlas, jiga ceuk dewek tadi. Ulah dileuwihan! Bid’ah tea.

Cepot: heueuh. Terus aya deui, soal kapal tea.

Dewala: tah.. supaya salamet engke ditengah, ditengah-tengah gonjlang-ganjlingna dunya, supaya istiqomah, geuwat eta muatanteh geura laloncatan ti ayeuna keneh, eta muatan anu aya dina diri urangteh.

Cepot: diantarana?

Dewala: geura tobroskeun eta liang-liangna, geura bere jalan eta muatan sina laluncatan.

Cepot: diantarana?

Dewala: nyaeta nafsu sarakah, jeung jiga nu ceuk kuring bieu: sirik, pidik, jail, kaniaya, iren, pangasten, dudupak, rurumpat, ngumpat, simuat, ujub, takabur, nyaci, maki, jeung pedit. Tah kitu, geura kencarkeun muatan nusakirana bakal ngaburatkeun ka urang teh.

Cepot: nyaan nya euy, Jadi riwayat-riwayat para nabi teh merupakan komitmen moral keur urang.

Dewala: heueuh.

Cepot: paingan.. aya katerangan “inna dina indallahil islam” agama nu dipikaridho ku Allah teh anging Islam. Islam teh salamet nya euy? Salamet dirina, bisa nyalameutkeun ka batur, numatak lamun urang islam dordar parasea silih siku silih sigeung alatan tina beda paham teh?

Dewala: etateh sumogol.. ulah dipaseakeun, dalain keur pasea, da agama mah lain keur pipaseaeun, tapi keur gaweeun.

Cepot: jadi urang teh ulah diperbudak ku dunya, ulah bubudakeun, geus kudu dewasa, jeung ulah pinuh muatan tina awak, nyaeta nafsu nu bakal picilakaeun.

Dewala: tah kitu.

(2)

SEMAR, CEPOT & DAWALA

Semar: sacanggih-canggihna jaman kiwari moal leuwih canggih tibatan pangeran. Naon geuning nu bisa ngobrol tina jarak jauh?

Cepot: HP.

Semar: tah eta…!. Make bisa mindahkeun program, tina HP ieu kana HP nulain ngaliwatan dibukana blutooth. Apal silaing blutooth?

Cepot: apal..!

Semar: naon?

Cepot: ari panon gede teuing..

Semar: bolotot atuh eta mah…!. Blutooth teh bisa mindahkeun program, tina HP ieu kanu HP lain tanpa ngaliwatan kabel. ku silaing dianggap canggih…? Da dewekmah seuri..

Cepot: naha?

Semar: milyaran tahun pangeranmah geus kitu..!

Cepot: iraha..? ayana ge karek ayeuna

Semar: heueuh jelemamah.

Cepot: ngan karek panggih ayeuna, padahal pangeran mah geus tibaheula..?

Semar: heueuh.!

Cepot: contona?

Semar: contona: hiji indung jeung bapa mapatahan budakna, ceuk indung teh ‘jang.. tah ieu hayam, jang.. tah ieu meuri’, pindah weh kana otak budak, tah make kabel naon?

Cepot: eh… enya..nya..!

Semar: sok siyah canggih mana?

Cepot: cetek geuning jaman canggih kiwari mah, dibandingkeun tanda-tanda kaagungan jeung kakawasaan Allah?

Semar: nya..?

Cepot: muhun.. bapa..! ari baheulamah geuning urang kampung, lamun anakna jauh teh, misalna di Sumatra, ari nelpon teh make seeng, ‘jang geura balik..!’

Semar: balik budakna?

Cepot: maot..!

Semar: jurig siyah..!

Cepot: tapi naha geuning jalma teh loba nu hubbuddunya ieu teh, jadi poho kana kaakheratan, samarukna bakal langgeng manehna hirup di dunya teh. Sabab pangarti nu jadi ciri, kagagahan anu rongkah, kapangkatan nu dipiwegah, geuning percuma tanpa dibarengan ku kaimanan jeung kataqwaan kanu kawasa..

Semar: ha..ha..ha..

Cepot: lain seuri..!

Semar: hiss..! sia mah dipujiteh.

Cepot: sakapeung abdi sok ngalamun, yen hayang jadi pagawe tetap teh he..se.., malahan panglamar mah panglamar kaditu kadieu, hayang digawe teh kudu nyogok heula geuning jaman kiwari mah, kadang sogokan asup.. digawemah teu tulus. Ripuh.. pa hayang jadi pegawe tetap teh.

Semar: hayang teu ripuh?

Cepot: kumaha?

Semar: ulah hayang jadi pegawe tetap..!

Cepot: tapi?

Semar: kudu tetap digawe..!

Cepot: anjir…

Semar: aya buruan kararotor bersihan, usum halodo runtah-runtah durukan, keun disebut nugelo ge..! terus..bekerja, terus pengabdian. Bisana makmur ieu Negara, lamun manusa-manusana berkualitas. Ari manusa nu berkualitas teh nyaeta anu tetap digawe. Tetap dina pengabdian.. tah eta aral… tah eta subaha.. jeung loba teuing ku lamunan.

Cepot: jadi kudu tetap digawe hirup mah?

Semar: heueuh..! tingali tina al-fatihah, saacan “iyyakanasta’in” naon heula?

Cepot: iyyaakana’budu.

Semar: pengabdian heula ujang..! ujug-ujug menta weh ka pangeran..! ibadah tara, digawe embung, shalat teu daek, da kandel kulit beungeut etateh. Ari menta terus ka pangeran. Ari digawe embung. Ari memeh ka dunya, sia heula mana jeung sampe?

Cepot: rek nanya weh ka bapa, ari saencan kuring ka dunya, sampe geus aya?

Semar: enggeus..!

Cepot: berati heulaan sampe..

Semar: naha atuh menta deui, menta deui ka pangeran? Kari melak..!

Cepot: ari tanahna teu boga?

Semar: di tanah batur..! lamun hayang beunghar, deukeutan nu beunghar..!

Cepot: da nu beungharna pedit..

Semar: bongan siana pedit..!

Cepot: ari kuring pedit naon?

Semar: pedit ku tanaga..

Cepot: eh.. heueuhnya..

Semar: ulah waka nyebut pedit kabatur, lamun sia can bageur.

Cepot: eh..

Semar: ulah aral…! Ayeuna urang udag ka raja, raja maot, bawa ku sia mayitna ka pasar, heug tawar-tawarkeun, ‘bilih aya nu bade mayit raja, kanggo kenang-kenangan’ bakal aya nu meuli?

Cepot: moal.

Semar: tah ayeuna bandingkeun jeung bangke teri, hargaan mana? Bari lauk pangleutikna.

Cepot: hargaan teri..!

Semar: tah gening..!

Cepot: alah… neupi eta pikiran kolot kadinya. Nuhun pa ah.. ditampi ku boncel hiji, kumaha yeuh boncel dua? Meuni euweuh komentar..

Dewala: ah kuringmah narima papatah weh.. ti kolot. Cirina manusa teh anu daek di papatahan, jeug daek mapatahan, lamun teu kitu, rametuk…!

Cepot: tah ayeuna kieu yeuh nyonya igun.!

Semar: coba…. Ka kolot nyebut nyonya igun sia mah..

Cepot: ayeuna kumaha yeuh mikiran diri.

Semar: naon?

Cepot: BBM naek. Eukeurmah bencana alam tiditu-tidieu, di wetan keur diomean, beledug di kulon. di kulon can beres, geus bijl deui di kidul. Can di timpa ku BBM naek. Ripuh kuring the, jadi kudu kumaha atuh..?

Semar: tah eta nu matak nyusahkeun diri the “kumaha”

Cepot: asa harengheng kudedengean.

Semar: yeuh.. sakur anu datang.

Cepot: sakur anu datang.

Semar: kana diri.

Cepot: kana diri.

Semar: eta ibadaheun teh deuleu…!

Cepot: kumaha?

Semar: BBM naek, tingkatkeun gawe silaing..! jalma iman jeung taqwa, dimana datang rugi iobar, dimana datang untung syukur. Setiap datang perkara, eta pigaweeun. Contona: ceuk katerangan, ari sungut anjing teh najis, dimana urang kaletak ku anjing maka kudu dikumbah ku cai 7x dicampur ku taneuh

Cepot: najis mugholadhoh tea?

Semar: heueuh.! Ieumah diletak ku anjing, ngadon dipaehan anjingna, apan ceuk katerangan, kumbah ku cai 7x make taneuh. Tah lamun dikumbah, artina gawe, meunang ganjaran. Coba lamun teu diletak, aya pigaweeun?

Cepot: euweuh..!

Semar: euweuh deuleu…

Cepot: anjir…! Aya kitu aki-aki, paingan montok wae. Jadi singhoreng, sakur perkara nu datang, eta pigaweeun teh..?

Semar: heueuh.

Cepot: eta di Negara Indonesia, ri..but weh jeung rebut. Demo dimana-mana.

Dewala: eh..alus. da demokrasi. Emang kuduna.

Cepot: apal aing ge demokrasi, ngan demokrasina, demokrasi kiriman, ada yang menunggangi.

Semar: pek vocal, pek nyarita, ngan kudu demokratis jeung pancasilais, ameh dilindungi ku undang-undang. Lamun tindakana anarkis, tah eta tingali ayat, “Allah teu beukieun ka jalma nu nyieun karusakan di muka bumi”.

Dewala: atuh si cepot mah deer.. maen langlayangan make kawat kupling, jeprut weh pegat, ngait weh kana tihang listrik. Bledug teh..! tah etateh geus ngarugikeun ka bangsa jeung ka Negara. Bola weh…bola..!

Cepot: da hayang puas..!

Dewala: heueuh eta… kaleuleuwihi teh… Allah teu beuki ka jalma nu kaleuleuwihi, sakur nu rek ngarugikeun ka batur, cegah ku diri sorangan, ari enyamah daek ngaji..

Cepot: geuleuh atuh da ka batur..!

Dewala: tah eta.. geuleuh. Nu nyilakakeunmah.

Semar: sok tingkatkeun, lain aral.!. apan tadi ge: bi idznilah, bi qudrotilah, bi irodatilah, bi fadhlilah. Bi, bi, bi, bi, kalayan, kalayan, kalayan. Ari ieu di aku..! matak salametna jelma di dunya jeung di akhirat, dimana eta jalma geus boga ajian ngalengit..!

Cepot: ngaleungit dirina?

Semar: nu kitumah bangsat..

Cepot: naon atuh?

Semar: nyaeta jalma nu geus bisa ngaleungitkeun pengakuan tina dirina. ‘diri sasampiran, awak sasampaian, umur ukur gagaduhan, saliring-liring dumadi, satingkah jeung sapari pola, urangmah teu ngaboga-boga, lahaulaa walaquwwata illabillahil’aliyiladzim..

Cepot: heueuh ku jararauh wae, lahaula teh diartikeuna jadi nekat.

Semar: nekat kumaha?

Cepot: contona abi ngadupak batur, abi teu wani, ‘awas siah peuting, dikadek ku aing, lahaulaa weh aingmah.’ Tuh.. jadi nekat. Alhamdulilah jadi nuhun, assalamualaikum jadi punten. Da teu nyararambung..

Semar: salah kaprah eta teh, alatan ku teudaek mikir.

Cepot: Alhamdulillah pa ah.... nuntut elmu teh geuning teu kudu jauh.

Dawala: matak ceuk kolot baheula mah, “ulah nuduh kanu jauh, ulah nyawang kanu aggang, nu caket geura rakeutan, nu deukeut geura deueusan, moal jauh tina wujud, moal anggang tina awak, tingali aya naon jeung aya saha, tina diri sorangan, cirina satangtung diri, pek geura panggihan silaturahim the jeung diri sorangan, asyhaduanla angfusakum, saksian diri maneh , kumaneh weh. Sorangan”

(3)

BAMBANG JAYA SENTIKA & KYAI AJAR PADANG

Kyai: wilujeng sumping menak..!

Bambang: pangersa.. nampi nuhun, ditampi ku kaula.

Kyai: bade tumaros ieuteh, saha nami teh?

Bambang: kaula teh, Bambang Jaya Sentika.

Kyai: dimana linggih?

Bambang: justru kaula teh teu gaduh tempat.

Kyai: ah teu mungkin..!

Bambang: naha aki nyebut teu mungkin?

Kyai: biasana ari ditaroskeun tempatmah, aya weh…unggal jelema ge.

Bambang: kaula bieu nyebut teh teu boga tempat?

Kyai: muhun..!

Bambang: bujeng hingga kaula boga tempat, da kaula ge lain nu kaula, istuning ‘diri sasampiran, awak sasampaian, umur ukur gagaduhan, saliring-liring dumadi, saringkak jeung sapari-pola, kaulateh kagungan gusti’

Kyai: ee..e..e..! mawa ka jero yeuh budakteh.

Bambang: ari aki saha kakasihteh?

Kyai: ari katelahmah, ngaran aki teh Kyai ajar padang.

Bambang: oh Kyai ajar padang..!

Kyai: ari maksad menak kadieu teh aya naon?

Bambang: maksad kaula teh, bade naroskeun bab elmu nu teu acan kaharti ku kaula.

Kyai: oh..kitu

Bambang: kaula teh nuju haus ku elmu, lapar ku pangabisa.

Kyai: sae.. budak ngora mah kudu kitu.

Bambang: kaula the mendak katerangan.

Kyai: katerangan naon?

Bambang: ieu kateranganteh, sabda na kanjeng Rasul.

Kyai: kumaha eta dawuhanana?

Bambang: saur kanjeng Rasul “umat kami bakal jadi sababaraha golongan, anu katarima ku pangeranteh ngan hiji.”

Kyai: da enya..

Bambang: tah kaula teh rek naroskeun, golongan mana nu bakal katarima teh?

Kyai: katarima kusaha?

bambang: ku pangeran.

Kyai: sakitu?

Bambang: nu kadua, jalma nu iman jeung nu taqwa teh nu kumaha?

Kyai: jero hungkul ieu pertanyaan teh.

Bambang: katilu, naon hartosna iman, jeung naon hartosna taqwa? Sabab nu ku kaula didenge-denge ku kaula, ngan kudu i..man weh jeung taqwa, tapi bari teu dibejakeun naon eta iman, jeung kudu kumaha?

Kyai: jadi teu dibejakeun eta iman jeung taqwa teh?

Bambang: muhun.

Kyai: atuh boroning nu ngadenge eta katerangan, jigana nu nersngkeunage biheung apaleun, sabab karek sabatas maca hungkul.

Bambang: kaopat, naon pangna agama di ka kamanusakeun?

Kyai: ngan punten bilih salah.

Bambang: ah ulah bilih salah, sing jentre weh ki..!

Kyai: da aki teh sarua weh jelema, teu cicing dina sifat langgeng, teu cicing dina hiji martabat, entong boro ayeuna jeung isuk, ayeuna jeung jam hareup, jelemamah moal apal.

Bambang: cing atuh ki..! naha golongan mana nu bakal katarima teh?

Kyai: katarima kusaha?

Bambang: ku pangeran.

Kyai: da pangeranmah moal narima golongan.

Bambang: naha?

Kyai: tadi ceuk katerangan? kumaha cing sakali deui..!

Bambang: umat kami..

Kyai: umat kami..

Bambang: bakal jadi..

Kyai: bakal jadi..

Bambang: sababaraha golongan.

Kyai: keun neupi eta weh heula, ‘umat kami bakal jadi sababaraha golongan’

Bambang: enya..

Kyai: tah nu sababaraha golongan teh umatna.. eta the.!

Bambang: oh..umatna?

Kyai: umatna keneh etateh.

Bambang: ‘nu katarima ku pangeran ngan hiji’

Kyai: aya bahasa golongan didinya?

Bambang: teu aya..!

Kyai: berarti nu katarima the lain golongan.

Bambang: jadi nu kumaha atuh nu ditarima ku pangeran teh?

Kyai: nu iman weh.. jeung nu taqwa.

Bambang: enya..atuh ari kitumah carana.

Kyai: kahartos?

Bambang: kahartos.

Kyai: ieu mah misalna..

Bambang: kumaha?

Kyai: ayeuna golongan, misalna jadi 73 golongan nu katarima ngan hiji..! sabaraha hiji nu teu katarima?

Bambang: 72..!

Kyai: tuh geuning..salah

Bambang: naha?

Kyai: angger weh.. 73 nu teu katarimamah, sabab tadi ge lain golongan nu ditarimamah, tapi nu iman jeung nu taqwa. Ngan ieu iman jeung taqwa teh teuing aya digolongan mana..!

Bambang: ari jalma nu iman jeung nu taqwa teh nu kumaha?

Kyai: jelema nu salilana migawe kana parentah pangeran, jeung anu salilana ngajauhan larangan pangeran.

Bambang: oh..kitu

Kyai: enya.

Bambang: nu katilu. Naon hartosna iman jeung taqwa?

Kyai: hartosna iman teh percaya.. ngan percaya dimana geus nyaho jeung apal.

Bambang: percaya teh?

Kyai: percaya the dimana geus nyaho, geus apal, jeung geus nyata. Kakara percaya, ari can yakin mah ulah waka percaya,sabab bisi dibobodo kubatur.

Bambang: contona?

Kyai: “alhamdulillahi rabbil ‘aalamin” naon hartosna?

Bambang: “sadayana puji kagungan Allah, nu ngurus sadaya alam.”

Kyai: saha nu ngurus teh?

Bambang: nya Allah..

Kyai: tuh da salah..!

Bambang: naha emang ceuk anjeun saha?

Kyai: naha rek dikamanakeun kecap “kun fayakun” lamun pangeran kudu ngurus keneh mah?

Bambang: kan ceuk katerangan ge kitu. “sagala puji bagi Allah nu ngurus sadaya alam”

Kyai: ‘sadayana puji kagungan Allah, nu ngurus sadaya alam’

Bambang: enya..

Kyai: kumaha upami urang contohan..?

Bambang: kumaha contona?

Kyai: eta topi, kagungan bambang. Nu nutupan kana sirah” saha nu nutupan teh?

Bambang: nya topi..

Kyai: topi.?

Bambang: enya.

Kyai: yakin?

Bambang: yakin.

Kyai: tah “sadaya puji kagungan Allah, nu ngurus sadaya alam” jadi saha nu ngurus teh?

Bambang: nya Allah..!

Kyai: tuh geuning… singhoreng anjeun manusa nu goblog teh…!!

Bambang: eh.. naha kasar kitu geuning ki..?

Kyai: punten…! Goblog aki mah beda jeung goblog budak ngora,

Bambang: goblog aki emang kumaha?

Kyai: lain goblog kasar, jeung nyarekan, tapi aki mah goblog ieu ngandung harti lir ibarat ngaput baju teu make ukuran, kadang-kadanag sereg, kadang-kadang logor. Ari logor goblog tea, ari gobog teu mejehna, jadi anjeun jelema nu can meujeuhna. Bongan teu daek dikotektak, bongan da nuduhna kanu jauh.. bongan da nyawangna kanu anggang.. padahal ceuk katerangan “jelema dimana ngaji ulah kaluar tina dirina, lamun manusa ngaji kaluar tina dirina, maka bakal sasar eta manusa, mun di dunya geus sasar, bakal linglung ke di akhirat.”

Bambang: naha anu mana atuh nungurus teh?

Kyai: sategesna lain Allah tapi “puji” nu ngurus teh..

Bambang: puji?

Kyai: puji.

Bambang: kumaha kanyataannana?

Kyai: geura pek lamun anjeun ayeuna muji tangkal sampe, heug seukeutan, tuluy cecebkeun, tah bakal ngurus ka urang, geus sataun ala..!

Bambang: oh kitu nya..!

Kyai: puji dimana urang keur lempang, aya nu nangkring di jalan, carana muji teh ‘punten..’ ceuk nu nangkring teh ‘mangga wilujeng..!’ maka bakal ngurus eta jelema ka urang. Coba lamun teu nyebut ‘punten’, derr weh nu nangkring the jelemana geureuhan ‘eh siyah..jiga hayam wae, teu punten-punten acan lempangteh’. Nu leumpang babari kasinggung ‘ngomong naon siyah bieu teh?’, tungtungna pasea..weh..! tah eta ngaruksak sadaya alam.

Bambang: aduh..! le..res ari kitumah.

Kyai: ari carana muji, urang kudu ngahormat ka sasama manusa. hormateun teh aya tilu: kasaluhureun, kasapantareun, jeung kasahandapeun. ngahormat ka kasaluhureun.. keur tanyakeuneun jeung pentaeun,ngahormat ka sapantareun.. keur batur keueung jeung batur pakumaha, ngahormat ka sahandapeun.. keur bereeun jeung titaheun.

Bambang: leres pisan nya ki..?

Kyai: boroning muji ka sasama manusa..! ti kotok kudu di puji.

Bambang: naha ki?

Kyai: cing aki rek nanya..!

Bambang: naon?

Kyai: ti kotok nu kumaha nu geuleuh the?

Bambang: nu bau..?

Kyai: lain..

Bambang: nu medok?

Kyai: lain..

Bambang: nu kumaha atuh?

kyai: nu saeutik..! coba lamun tilu treuk? bakal jadi pupuk di sawah.

Bambang: leres pisan nya aki..!

Kyai: matak ulah ngewaan urangmah cu..! ulah geureuhan, ulah syirikan, pidik, dengki, kaniaya, jail, angguran geura prak geura hormat.

Bambang: leres ki..

Kyai: nu matak dordarna golongan ieu jeung itu, dilantarkeun parebut paham, parebut bener. Ari bener can kapimilik, eri pasea diheuleakeun.!

Bambang: leres pisan aki..

Kyai: contona:ceuk golongan ieu haram ngukus teh (meuleum menyan), ceuk golongan ieu heunteu. Bari padahal tiu kitu wae dipaseakeun..

Bambang: da enya atuh, ngukusmah haram..!

Kyai: haram?

Bambang: enya.

Kyai: ceuk saha?

Bambang: da puguh teu aya dina katerangan..!

Kyai: euweuh..?

Bambang: enya..!

Kyai: ari dina katerangan aya dawuhan kieu,

Bambang: kumaha?

Kyai: “hei manusa-manusa, teu meunang maneh ngukus, sabab ngukus teh haram” aya katerangan kitu?

Bambang: teu aya..!

Kyai: naha atuh pangeran teu ngaharamkeun tapi manusa ngaharamkeun?

Bambang: aduh.. enya atuh.

Kyai: jadi yakin.. ieu teh manusa na anu goblog.

Bambang: timbalan aki..! jadi ngukus the teu haram?

Kyai: heunteu.! Tah lamun aya jelema nu ngaharamkeun kanu ngukus, eta jelema teh jelema sasar.

Bambang? Etateh.?

Kyai: ari pangeran teu ngaharamkeun, ari manusa ngaharamkeun.

Bambang: ari nu sok ngukus?

Kyai: lamun nu sok ngukus (meuleum menyan), tapi niatna menta disalametkeun ku pangeran, menta dibere rizki ku pangeran, menta dibere rizki ka karuhun, menta disalametkeun ka karuhun. eta nu ngukus teh linglung..!

Bambang: naha nu ngukus disebut linglung?

Kyai: lamun niatna nu bieu..!

Bambang: apan aya kateranganana.. menta ka pangeran.

Kyai: naon?

Bambang: “prak araranjeun geura menta ka kaula.!”

Kyai: menta naon?

Bambang: nya menta rizki..!

Kyai: saha nu geus dibere ku pangeran?

Bambang: geuning batur ge barareunghar? Matak kitu ge geus dibere ku pangeran

Kyai: tanyakeun kanu beunghar, ‘ieu teh dibere ku pangeran, atawa meunang ikhtiar?’. Lamun enyamah dibere ku pangeran, tanyakeun, ‘sagede kumaha panangana pangeran teh?’. Sabab ari hukumna dibere teh: hiji nu mikeun, dua nu mere, tilu barangna. Jadi kudu kasaksi. Sabab kanyataanana, urang ka dunya the teu mawa nanaon..! cing ari anjeun jeung sampe, ka dunya heula mana?

Bambang: heula sampeu..

Kyai: heula sampeu?

Bambang: enya..!

Kyai: yakin?

Bambang: yakin.

Kyai: naha atuh menta deui ka pangeran..?

Bambang: na kumaha atuh?

Kyai: carana menta teh, geura pigawe parentahna, jeung geura jauhan laranganna. Sapertina urang haying boga sampeu, geura pelak sampeu, tuluy urus, ameh jadina alus. Jadi cara menta ka pangeran teh kudu daek ikhtiar.

Bambang: kumaha lamun urang menta disalametkeun ka pangeran?

Kyai: menta disalametkeun ka pangeran?

Bambang: enya..!

Kyai: kumaha lamun ceuk pangeran, “lamun maneh haying salamet, kudu bener weh hirup.!’ Sedengkeun geus aya pituduhnateh nyaeta al-Quran jeung as-Sunnah.

Bambang: ari eta menta rejeki ka karuhun?

Kyai: ari ceuk pamadeugan anjeun, saha karuhun the?

Bambang: jelema nu geus paeh..

Kyai: boroning menta rejeki kanu paeh, kanu hirup ge geus hese.

Bambang: lamun menta disalametkeun ka karuhun?

Kyai: kumaha lamun karuhuna baheulana urut jelema doraka, ‘boroning nyalametkeun sia, aing ge keur ripuh..!’ ceuk karuhun teh.

Bambang: naha kudu kumaha atuh tekadna dimana urang ngukus?

Kyai: tekadna ngukus teh, baca ku anjeun..! eta the simbul kana wujud, siloka kana awak, silib kana diri. Jeung ngukus the lan agama, tapi adat. Ngan tina adat kudu jadi pamadeugan.

Bambang: contona?

Kyai: ari rupa haseup?

Bambang: bodas.

Kyai: ari rupa areng?

Bambang: hideung.

Kyai: ari rupa seuneu?

Bambang: koneng.

Kyai: ari rupa ruhak?

Bambang: beureum.

Kyai: aya leuwihna ti eta?

Bambang: teu aya..!

Kyai: tuh geus opat rupa, nandakeun: amarah, lawamah, sawiyah, jeung muthma’inah.

Bambang: leres pisan atuh ki.

Kyai: Ari menyan the seungit.

Bambang: ari ceuk kaula mah bau jurig deuih..!

Kyai: geus panggih jeung jurig?

Bambang: encan.!

Kyai: tuh geus nipu maneh.. anjeun..! ari jeung jurig can panggih, ari ngambeuna eunggeus. Eta mah lain bau jurig, tapi kadorong tina rasa kangewa anjeun, ka manusa nu sok ngukus. Ari ngewa teh salah cu..!

Bambang: leres ki..!

Kyai: aya nu meuleum menyan, kaambeunateh seungit. Ari seungit teh karesep ghaib..

Bambang: karuhun?

Kyai: lain..! tapi karesep ghaib ‘ambeu’ nu aya tina irung urang. Cing ari ngambeu ti kotok bakal kumaha?

Bambang: bakal dipempet..!

Kyai: tuh.. ari nu bau mah teu beukieun geuning.! maksudna urang kudu saling seungitan, jeung saling majukaeun.

Bambang: muhun pisan atuh ki.!

Kyai: jeung jelema nu ngaharamkeun ngukus, etateh jelema sasar.

Bambang: naha nu ngaharamkeun ngukus disebut sasar?

Kyai: heueuh ari pangeran teu ngaharamkeun, tapi manusa ngaharamkeun?

Bambang: enya ceuk kaula ge pedah euweu katerangannana.

Kyai: euweuh?

Bambang: teu aya.

Kyai: cing aya katerangan kieu:

Bambang: kumaha?

Kyai: “hei manusa-manusa, geura arudud anjeun.!”

Bambang: teu aya..!

Kyai: naha atuh manusa beut ararudud?.meureun sarua weh..eta ge bid’ah. Geus ulah udud-udud acan, geus ulah dibaju-baju acan, lamun jelema loba kangewa.

Bambang: enya atuh..

Kyai: jadi urang iman the percaya dimana geus nyaho. Ari ngkus the adat karuhun urang. Karuhun teh mere bacaeun keur diri urang. Nu pentingmah, nu sok ngukus keunbae.. da moal nanaon.

Bambang: ari nu tara ngukus?

Kyai: nu tara ngukus? Keun bae.. da moal nanaon. Nu pentingmah nu sok ngukus jeung nu tara ngukus jelemana sing akur..! kapan pemerintahan ge geus nganjurkeun, yen urang the kudu ngahiji antara kasatuan jeung persatuan. Matak urang hijikeun.

Bambang: naon nu kudu dihijikeun?

Kyai: tekadna, ucapna, lampahna. Tah nu tilu ieu teh ulah pakia-kia tah nu tilu teh, kudu babarengan, ameh kaditunage runtut raut.

Bambang: enya..!

Kyai: nu matak didieu.. ceuk dina katerangan urang kudu ngucapkeun “Mahasuci Allah” 33x.

Bambang: enya..?

Kyai: subhanallah, subhanallah, maha suci Allah, maha suci Allah. Tuluy weh urang nyebutkeun kitu..!. kumaha lamun urang ngucapkeun “maha suci Allah” ku Allah dijawab, “heueuh sia nu kotorna”

Bambang: na kumaha contona?

Kyai: nu matak didinya ge 33, ari 33 the direndengkeun 3 jeung 3. Sabab dina wujud urang ge kabeh 33: 1 irung 2 ambeu 3 nungambeu, 1 panon 2 awas 3 nu awas, 1 ceuli 2 denge 3 nu ngadenge. Singkatnamah: 1 ucap 1 tekad 1 lampah. Hijikeun kabeh tah.. suikeun kabeh, kakara kaditunage ngaguluyur.

Bambang: ari hartosna taqwa?

Kyai: hartina taqwa teh, milih kana jalan anu hiji, nu lempeng turta bener.

Bambang: enya ki..!

Kyai: kahartos?

Bambang: karasa..

Kyai: nya sukur weh.. ari geus karasamah.

Bambang: tah ayeuna nu ka opat, naon pangna agama di kamanusa keun?

Kyai sabab manusa mah makhluq anu dibedakeun jeung makhluq nu lain. Diancikan akal, budi, pikiran, rasa, jeung perasaan. Sabab manusa mah kabeh sampurna. Benerna manusa the leuwih ti sato, jeung salahna manusa ge leuwih ti sato.

Bambang: naha jahatna manusa leuwih ti sato?

Kyai: leuwih..

Bambang: naha?

Kyai: cing nyatakeun..! ayeuna aya domba dimana maling sampeu, nya beuti na ongkoh, nya daun ongkoh, nya pagerna dirusak. Aya domba nu kitu?

Bambang: teu aya.!

Kyai: domba mah dimana maling sampeu ngan saukur daunna hungkul. Tapi jelema can beutina, tuluy daunna, jaba pagerna diruksak. Tuh jelema mah leuwih jahat ti batan sampeu.

Bambang: enya..nya.!

Kyai: ayeuna aya, boh sapi atawa munding nyokel jandela, tuluy maok tv jeung radio, neupikeun maehan nu boga imah?

Bambang: teu aya.

Kyai: jelema mah aya nya?

Bambang: aya.

Kyai: tuh jelema mah jahatna leuwih ti sato, jeung benerna oge leuwih ti sato.

Bambang: leres ki..!

Kyai: kaharti?

Bambang: kahartos pisan aki..

Kyai: matak ulah sasar, ulah linglung. Anu pentingmah taluktik diri ti kiwari, kotektak awak ti ayeuna. Sahubungan jeung katerangan, dimana manusa geus apal kana dirina, maka eta jelema bakal apal ka pangeran. Dimana jelema geus apal ka pangeran, maka baka ngarasa diri bodo. Lain bodo teu bias maca nuis, tapi bodonateh teu umakau, teu umaing, teu guminter, teu jumago, teu boga rasa ieu aing uyah kidul. Salilana sumerah jeung pasrah.

Bambang: enya?

Kyai: cing kaula rek nanyakeun, ari sumerah jeung pasrah kudu kasaha?

Bambang: nya kudu ka pangeran.

Kyai: ka pangeran?

Bambang: enya.

Kyai: pangeran the nu kagungan.

Bambang: enya.

Kyai: maenya ayeuna masrahkeun kanu kagunganana?

Bambang: jadi kudu kasaha atuh?

Kyai: apan matak itu di bikeun ka urang the, da geus teu butuheun..

bambang: naha kudu kasaha atuh?

Kyai: kudu kana hukum-hukum anjeuna.

Bambang: oh enya..!

Kyai: sumerah jeung pasrahteh kudu kana hukumna. Ayeuna lamun urang sumerah jeung pasrah ka pangeran, kumaha lamun pangeran ngajawab, “manehteh tong boro tina sumerahna, tina heunteuna ge da nu aing.!” Jadi pasrah mah kanu hukumna.

Bambang: hatur nuhun aki. Dina semet ayeuna kaula rek ngaku guru lahir jeung bathin.

Kyai: nuhun jang..!

SEMAR & SANGHIANG JAGAL RASA

Sanghiang: kaula rek nanya ka anjeun bapa semar?

Semar: nanya naon?

Sanghiang: ari manusa dijieuna tina naon?

Semar: manusa the tina mani nu ngajadi, matak di sebut manusa teh ma=mani nu ngajadi nusa= nu sarasa jeung nusa bakat



 
Powered by Blogger