KH. Abdullah bin Nuh

Kiai Haji Abdullah bin Nuh (Cianjur, Jawa Barat, 30 Juni 1905-Bogor, 26 Oktober 1987) adalah seorang ulama terkenal, sastrawan, penulis, pendidik, dan pejuang. Sejak kecil Abdullah bin Nuh memperoleh pendidikan agama Islam dari ayahnya, KH. Raden Nuh, seorang ulama di kota Cianjur. Di samping itu, ia masuk sekolah I’anat at-Thalib al-Miskin yang didirikan oleh ayahnya. Dengan pendidikan tersebut ia mampu berbicara dalam bahasa Arab. Pada usia yang relatif muda ia sudah menghafal kitab Nahwu Alfiah (nahwu/tata bahasa berbait seribu) di luar kepala. ia juga mempelajari sendiri bahasa Inggris.
Pada masa mudanya Abdullah bin Nuh aktif mengajar di Hadramaut School, sekaligus menjadi redaktur Hadramaut, majalah mingguan edisi bahasa Arab di Surabaya (1922-1926). Karena kemampuannya dalam berbahasa Arab, pada tahun 1926 ia dikirim belajar ke Fakultas Syariah Universitas al-Azhar (Cairo) selama dua tahun. Sekembali dari Cairo ia mengajar di Cianjur dan Bogor (1928-1943).
Ketika perjuangan kemerdekaan Indonesia memuncak, Abdullah bin Nuh terjun langsung ke kancah perjuangan. Dia menjadi anggota Pembela Tanah Air atau Peta (1943-1945) untuk wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Sekitar tahun 1945-1946 dia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tahun 1948-1950 dia menjadi anggota Komite Nasional Pusat (KNIP) di Yogyakarta, di samping sebagai kepala seksi siaran berbahasa Arab pada Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan dosen luar biasa pada Universitas Islam Indonesia (UII).
Pada tahun 1950-1964 Abdullah bin Nuh memegang jabatan sebagai kepala siaran bahasa Arab pada RRI Jakarta. Kemudian dia menjabat Lektor Kepala Fakultas sastra Universitas Indonesia (1964-1967). Tahun 1969 dia mendirikan majlis al-Ghazali dan Pesantren al-Ihya di Bogor. Di kedua tempat pendidikan ini ia berfungsi sebagai sesepuh.
Di Bogor, Abdullah bin Nuh aktif melaksanakan kegiatan dakwah Islamiah dan mendidik kader-kader ulama. Dia juga menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan dan seminar-seminar tentang Islam di beberapa negara, antara lain di Arab Saudi, Yordania, India, Irak, Iran, Australia, Thailan, Singapura, dan Malaysia. Ia juga ikut serta dalam Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) sebagai anggota panitia dan juru penerang yang terampil dan dinamis.
Keistimewaan Abdullah bin Nuh sebagai ulama adalah kemampuannya menciptakan syair Arab dalam berbagai bentuk dan tujuan, seperti syair pujian dan ratapan. Syair-syairnya telah dihimpun dalam Diwan Ibn Nuh, berupa qasidah (118 qasidah) yang terdiri dari 2.731 bait. Semuanya digubah dalam bahasa Arab fusha (fasih) yang bernilai tinggi.
Karya tulis Abdullah bin Nuh yang terkenal adalah Kamus Indonesia-Arab-Inggris yang disusun bersama Oemar Bakry. Karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab antara lain adalah al-Alam al-Islami (Dunia Islam), Fi Zilal al-Ka’bah al-Bait al-Haram (Di Bawah Lindungan Ka’bah), La Taifiyata fi al-Islam (Tidak Ada Kesukuan Dalam Islam), Ana Muslim Sunniyyun Syafi’iyyun (Saya Seorang Islam Sunni Pengikut Syafi’i), Mu’allimu al-‘Arabi (Guru Bahasa Arab), dan al-Lu’lu’ al-Mansur (Permata yang bertebaran). Adapun karangannya yang ditulis dalam bahasa Indonesia adalah Cinta dan Bahagia, Zakat Modern, Keutamaan Keluarga Rasulullah Saw., dan Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten serta sebuah buku berbahasa Sunda Lenyepaneun (Bahan Telaah Mendalam). Adapun karya terjemahan dari kitab Imam al-Ghazali adalah Minhaj al-Abidin (Jalan Bagi Ahli Ibadah), Al-Munqiz Min al-Dalal (Pembebas dari Kesesatan), dan al-Mustafa li ManLahu Ilm al-Ushul (Penjernihan bagi Orang yang Memiliki Pengetahuan Ushul).***



KH. Zaenal Musthafa


Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedi Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.

Hudaeni memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Dalam bidang agama, ia belajar mengaji dari guru agama di kampungnya. Kemampuan ekonomis keluarga memungkinkannya untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi. Pertama kali ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Gunung Pari di bawah bimbingan Dimyati, kakak sepupunya, yang dikenal dengan nama KH. Zainal Muhsin. Dari Gunung Pari, ia kemudian mondok di Pesantren Cilenga, Leuwisari, dan di Pesantren Sukamiskin, Bandung. Selama kurang lebih 17 tahun ia terus menggeluti ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Karena itulah ia mahir berbahasa Arab dan memiliki pengetahuan keagamaan yang luas.

Lewat ibadah haji, ia berkenalan dengan ulama-ulama terkemuka. Ia pun mengadakan tukar pikiran soal keagamaan dan berkesempatan melihat pusat pendidikan keagamaan di Tanah Suci. Kontak dengan dunia luar itu mendorongnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka sekembalinya dari ibadah haji, tahun 1927, ia mendirikan pesantren di Kampung Cikembang dengan nama Sukamanah. Sebelumnya, di Kampung Bageur tahun 1922 telah berdiri pula Pesantren Sukahideng yang didirikan KH. Zainal Muhsin. Melalui pesantren ini ia menyebarluaskan agama Islam, terutama paham Syafi’i yang dianut oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam Jawa Barat pada khususnya.

Di samping itu, ia juga mengadakan beberapa kegiatan keagamaan ke pelosok-pelosok desa di Tasikmalaya dengan cara mengadakan ceramah-ceramah agama. Maka sebutan kiai pun menjadi melekat dengan namanya. KH. Zaenal Mustofa terus tumbuh menjadi pemimpin dan anutan yang karismatik, patriotik, dan berpandangan jauh ke depan. Tahun 1933, ia masuk Jamiyyah Nahdhatul Ulama (NU) dan diangkat sebagai wakil ro’is Syuriah NU Cabang Tasikmalaya.

Sejak tahun 1940, KH. Zaenal Mustofa secara terang-terangan mengadakan kegiatan yang membangkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhadap pendudukan penjajah. Beliau selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Atas perbuatannya ini, ia selalu mendapat peringatan, dan bahkan, tak jarang diturunkan paksa dari mimbar oleh kiai yang pro Belanda.

Setelah Perang Dunia II, tepatnya pada 17 November 1941, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat (dari Pesantren Cipasung), Haji Syirod, dan Hambali Syafei ditangkap Belanda dengan tuduhan telah menghasut rakyat untuk memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka ditahan di Penjara Tasikmalaya dan sehari kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung, dan baru bebas 10 Januari 1942.

Kendati sudah pernah ditahan, aktivitas perlawanannya terhadap penjajah tidak surut. Akhir Februari 1942, KH. Zaenal Mustofa bersama Kiai Rukhiyat kembali ditangkap dan dimasukkan ke penjara Ciamis. Kedua ulama ini menghadapi tuduhan yang sama dengan penangkapannya yang pertama. Hingga pada waktu Belanda menyerah kepada Jepang, ia masih mendekam di penjara.

Pada tanggal 8 Maret 1942 kekuasaan Hindia Belanda berakhir dan Indonesia diduduki Pemerintah Militer Jepang. Oleh penjajah yang baru ini, KH. Zaenal Mustofa dibebaskan dari penjara, dengan harapan ia akan mau membantu Jepang dalam mewujudkan ambisi fasisnya, yaitu menciptakan Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Akan tetapi, apa yang menjadi harapan Jepang tidak pernah terwujud karena KH. Zaenal Mustofa dengan tegas menolaknya. Dalam pidato singkatnya, pada upacara penyambutan kembali di Pesantren, ia memperingatkan para pengikut dan santrinya agar tetap percaya pada diri sendiri dan tidak mudah termakan oleh propaganda asing. Ia malah memperingatkan bahwa fasisme Jepang itu lebih berbahaya dari imperialisme Belanda.

Begitulah, pasca perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, sikap dan pandangannya itu tidak pernah berubah. Bahkan, kebenciannya semakin memuncak saja manakala menyaksikan sendiri kezaliman penjajah terhadap rakyat.

Pada masa pemerintahan Jepang ini, ia menentang pelaksanaan seikeirei, cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Ia menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat. Sikap ini pernah ia tunjukkan secara terang-terangan di muka Jepang. Pada waktu itu, semua alim ulama Singaparna harus berkumpul di alun-alun dan semua diwajibkan melakukan seikerei. Di bawah todongan senjata, semua ulama terpaksa melakukan perintah itu, hanya KH. Zaenal Mustofa yang tetap membangkang. Ia juga mengatakan kepada Kiai Rukhiyat, yang hadir pada waktu itu, bahwa perbuatan tersebut termasuk musyrik.

Menurutnya, orang-orang musyrik itu tidak perlu ditakuti, apalagi diikuti perintahnya. Sebaliknya, mereka justeru harus diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi. Ia yakin bahwa dalam Islam hanya Allah Swt lah yang patut ditakuti dan dituruti; Allah Swt selalu bersama-sama orang yang mau dekat kepada-Nya dan selalu memberikan pertolongan dan kekuatan kepada orang-orang yang mau berjuang membela agamanya. Ia berprinsip lebih baik mati ketimbang menuruti perintah Jepang. Keyakinan seperti ini senantiasa ditanamkan kepada para santrinya dan masyarakat Islam sekitarnya. Ia juga menentang dan mengecam romusha, pengerahan tenaga rakyat untuk bekerja dengan paksa.

Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustofa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H). Mula-mula ia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat-kawat telefon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi, dan terakhir, membebaskan tahanan-tahanan politik. Untuk melaksanakan rencana ini, KH. Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat. Kiai juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur, dan membaca wirid-wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Persiapan para santri ini tercium Jepang. Segera mereka mengirim camat Singaparna disertai 11 orang staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. Usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH. Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH. Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. Yang satu orang ini kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Pebruari 1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir.

Setelah kejadian tersebut, menjelang waktu salat Asar (sekitar pukul 16.00) datang beberapa buah truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri. Rupanya Jepang telah mempergunakan taktik adu domba. Melihat yang datang menyerang adalah bangsa sendiri, Zaenal Mustofa memerintahkan para santrinya untuk tidak melakukan perlawanan sebelum musuh masuk jarak perkelahian. Setelah musuh mendekat, barulah para santri menjawab serangan mereka. Namun, dengan jumlah kekuatan lebih besar, ditambah peralatan lebih lengkap, akhirnya pasukan Jepang berhasil menerobos dan memorak-porandakan pasukan Sukamanah. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan Singaparna.

Para santri yang gugur dalam pertempuran itu berjumlah 86 orang. Meninggal di Singaparna karena disiksa sebanyak 4 orang. Meninggal di penjara Tasikmalaya karena disiksa sebanyak 2 orang. Meninggal di Penjara Sukamiskin Bandung sebanyak 38 orang, dan yang mengalami cacat (kehilangan mata atau ingatan) sebanyak 10 orang.

Pun, sehari setelah peristiwa itu, antara 700-900 orang ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara di Tasikmalaya. Sementara itu, KH. Zaenal Mustofa sempat memberi instruksi secara rahasia kepada para santri dan seluruh pengikutnya yang ditahan agar tidak mengaku terlibat dalam pertempuran melawan Jepang, termasuk dalam kematian para opsir Jepang, dan pertanggungjawaban tentang pemberontakan Singaparna dipikul sepenuhnya oleh KH. Zaenal Mustofa. Akibatnya, sebanyak 23 orang yang dianggap bersalah, termasuk KH. Zaenal Mustofa sendiri, dibawa ke Jakarta untuk diadili. Namun mereka hilang tak tentu rimbanya.

Besarnya pengaruh KH Zaenal Mustofa dalam pembentukan mental para santri dan masyarakat serta peranan pesantrennya sebagai lembaga pendidikan dan pembinaan umat membuat pemerintah Jepang merasa tidak bebas jika membiarkan pesantren ini tetap berjalan. Maka, setelah peristiwa pemberontakan tersebut, pesantren ini ditutup oleh Jepang dan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan apapun.

Belakangan, Kepala Erevele Belanda Ancol, Jakarta memberi kabar bahwa KH. Zaenal Mustofa telah dieksekusi pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Belanda Ancol, Jakarta. Melalui penelusuran salah seorang santrinya, Kolonel Syarif Hidayat, pada tahun 1973 keberadaan makamnya itu ditemukan di daerah Ancol, Jakarta Utara, bersama makam-makam para santrinya yang berada di antara makam-makam tentara Belanda. Lalu, pada 25 Agustus 1973, semua makam itu dipindahkan ke Sukamanah, Tasikmalaya.

Pada tanggal 6 Nopember 1972, KH. Zaenal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.***



KH. Ahmad Sanusi

Ahmad Sanusi (Sukabumi, Jawa Barat, 1888-Sukabumi, 1950) adalah tokoh Partai Sarekat Islam (SI) dan pendiri al-Ittihadiat al-Islamiyah. Ayahnya, Haji Abdurrahman, adalah tokoh masyarakat dan pengasuh pesantren di desanya. Ahmad Sanusi memperoleh pelajaran agama dari orang tuanya sampai ia berusia lima belas tahun. Setelah dewasa ia lalu belajar ke beberapa pondok pesantren di Jawa Barat selama kurang lebih enam tahun.
Seusai pelajarannya, Ahmad Sanusi kembali ke kampung halamannya untuk membantu mengajar di pesantren ayahnya. Tahun 1908 ia menikah dan pergi haji ke Mekah bersama istrinya serta bermukim di sana beberapa waktu lamanya. Dalam kesempatan itu ia telah mengenal tulisan para pembaru, seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Ia tetap berpegang pada madzhab Syafi’i yang beraliran Ahlusunnah waljama’ah.
Pada tahun 1915 Ahmad Sanusi kembali mengajar di pesantren ayahnya selama kurang lebih tiga tahun. Kemudian ia membangun pesantren baru sebagai pengembangan dari pesantren ayahnya di kaki gunung Rumphin, sebelah barat kota Sukabumi. Di tempat ini Ahmad Sanusi berhasil mengembangkan pengetahuan agamanya secara mandiri, sehingga pesantrennya cepat berkembang. Santrinya tidak hanya berasal dari Sukabumi, tetapi juga dari luar daerah dan luar Pulau Jawa.
Ahmad Sanusi sebagai tokoh SI aktif dalam usaha mengusir kolonial Belanda dari tanah air. Akibatnya, ia menjadi tahanan politik selama tujuh tahun di Batavia. Selama di pengungsian, ia menulis buku dan membentuk suatu organisasi yang bernama al-Ittihadiat al-Islamiyah pada tahun 1931.
Setahun kemudian, ia kembali ke Sukabumi, menangani organisasi al-Ittihadiat al-Islamiyah, dan pada tanggal 5 Februari 1933 mendirikan lembaga pendidikan Syams al-‘Ulum yang lebih dikenal dengan Pesantren Gunung Puyuh. Selain itu Ahmad Sanusi juga menerbitkan majalah al-Hidayah al-Islamiyah (Petunjuk Islam) dan majalah at-Tabligh al-Islami (Dakwah Islam) sebagai bahan bacaan dalam rangka da’wah bi al-lisan (dakwah yang disampaikan secara lisan).
Al-Ittihadiat al-Islamiyah akhirnya dibubarkan oleh penguasa Jepang. Namun ia mengadakan konsolidasi dan mengubah nama organisasi tersebut menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).
Ahmad Sanusi diangkat menjadi salah seorang instruktur latihan yang diselenggarakan untuk mengadakan konsolidasi politik Jepang terhadap umat islam. Pada tahun 1944, ia diangkat oleh Jepang sebagai wakil residen di Bogor.
Secara resmi Ahmad Sanusi mewakili PUI dalam Masyumi. Sampai menjelang kemerdekaan republik Indonesia, dia tercatat sebagai anggota panitia Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPIPKI). Namanya dicoret dari keanggotaan BPUPKI karena ia dianggap terlalu banyak memihak Islam. Hal ini dilakukannya dengan tujuan agar kelak Indonesia merdeka menjalankan peraturan yang berdasarkan syariat Islam. Kemudian Ahmad Sanusi kembali menulis. Tidak kurang 75 buku telah ditulisnya, antara lain kitab Tamsyiah al-Muslimin fi Kalam Rabb al-Alamin (Perjalanan Muslimin dalam Firman Tuhan Seru Sekalian Alam), dan Raudah al-Irfan (Taman Ilmu Pengetahuan). Ia juga menulis buku-buku yang membahas ilmu tauhid dan fikih.***



KH. Abdul Halim

Abdul Halim, KH. (Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, 4 Syawal 1304/26 Juni 1887-Desa Pasirayu, Kecamatan Sukahaji, Majalengka, 1381 H/1962 M). Ulama besar dan tokoh pembaharuan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan kemasyarakatan, yang memiliki corak khas di masanya. Nama aslinya adalah Otong Syatori. Kemudian setelah menunaikan ibadah haji ia berganti nama menjadi Abdul Halim. Ayahnya bernama KH. Muhammad Iskandar, penghulu Kewedanan Jatiwangi, dan ibunya Hajjah Siti Mutmainah binti Imam Safari. Abdul Halim adalah anak terakhir dari delapan bersaudara. Ia menikah dengan Siti Murbiyah, putri KH. Mohammad Ilyas, pejabat Hoofd Penghulu Landraad Majalengka (sebanding dengan kepala Kandepag Kapubaten sekarang).
Ia mendapat pendidikan agama sejak kecil. Pada usia 10 tahun ia sudah belajar membaca al Qur’an, kemudian menjadi santri pada beberapa orang kiaki di berbagai daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah sampai mencapai usia 22 tahun. Kiai yang pertama kali didatangi ialah KH. Anwar di Pondok Pesantren Ranji Wetan, Majalengka , kemudian berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Ia menjalani setiap pesantren antara 1 sampai dengan 3 tahun. Tercatat beberapa kiai yang menjadi gurunya, antara lain KH. Abdullah di Pesantren Lontangjaya, desa Penjalin, Kecamatan Leuwimunding, Majalengka; KH. Sijak di Pesantren Bobos, Kecamatan Sumber, Cirebon; KH. Ahmad Sobari di Pesantren Ciwedas, Cilimus, Kuningan; KH. Agus di Pesantren Kedungwangi, Pekalongan, Jawa Tengah; kemudian kembali lagi ke Pesantren Ciwedus. Di sela-sela kehidupan pesantren, Abdul Halim menyempatkan diri berdagang, seperti berjualan batik, minyak wangi, dan kitab-kitab pelajaran agama. Pengalaman dagangnya ini mempengaruhi langkah-langkahnya kelak dalam upaya mebaharui sistem ekonomi masyarakat pribumi.
Pada usia 22 tahun Abdul Halim berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan mendalami ilmu agama. Ia bermukim di sana selama 3 tahun. Pada kesempatan ini ia mengenal dan mepelajari tulisan-tulisan Sayid Jamaluddin al-Afgani dan Syeikh Muhammad Abduh. Untuk mendalami pengetahuan agama di sana, ia belajar kepada Syeikh Ahmad Khatib, imam dan kahtib Masjidil haram, dan Syeikh Ahmad Khayyat, ketika di sana pula ia bertemu dengan KH. Mas Mansyur dari Surabaya (tokoh Muhammadiyah) dan KH. Abdul Wahab Hasbullah (tokoh Nahdatul Ulama). Pada tahun 1328 H/1911 M ia kembali ke Indonesia.
Di samping menguasai bahasa Arab, ia juga mempelajari bahasa Belanda dari Van Houven (salah seorang dari Zending Kristen di Cideres) dan bahasa Cina dari orang Cina yang bermukim di Mekah. Dengan pengalaman pendidikan dan tukar pikirannya dengan para tokoh besar, baik di luar maupun dalam negri, Abdul Halim semakin mantap dan teguh dalam prinsip. Ia tidak mau bekerja sama dengan pihak kolonial. Ketika oleh mertuanya ditawari menjadi pegawai pemerintah, ia menolaknya.
Dengan berbekal semangat juang dan tekad yang kuat, sekembalinya dari Mekah, ia mulai melakukan perbaikan untuk mengangkat derajat masyarakat, sesuai dengan hasil pengamatan dan konsultasinya dengan beberapa tokoh di Jawa. Usaha perbaikan ini ditempuhnya melalui jalur pendidikan (at-tarbiyah) dan penataan ekonomi (al-iqtisadiyah).
Dalam merealisasi cita-citanya untuk pertama kalinya Abdul Halim mendirikan Majlis Ilmu (1911) sebagai tempat pendidikan agama dalam bentuk yang sangat sederhana pada sebuah surau yang terbuat dari bambu. Pada majlis ini ia meberikan pengetahuan agama kepada para santrinya. Dengan bantuan mertuanya, KH. Muhammad Ilyas, serta dukungan masyarakat Abdul Halim dapat terus mengembangkan idenya. Pada perkembangan berikutnya, di atas tanah mertuanya ia dapat membangun tempat pendidikan yang dilengkapi dengan asrama sebagai tempat tinggal para santri.
Untuk memantapkan langkah-langkahnya pada tahun 1912 ia mendirikan suatu perkumpulan atau organisasi bernama “Hayatul Qulub. Melalui lembaga ini ia mengembangkan ide pembaruan pendidikan, juga aktif dalam bidang sosialo ekonomi dan kemasyarakatan. Anggota perkumpulan ini terdiri atas para tokoh masyarakat , santri, pedagang, dan petani.
Langkah-langkah perbaikannya meliputi delapan bidang perbaikan yng disebut dengan Islah as-Samaniyah, yaitu islah al-aqidah (perbaikan bidang aqidah), islah al-ibadah (perbaikan bidang ibadah), islah at-tarbiyah (perbaikan bidang pendidikan), islah al-ailah (perbaikan bidang keluarga), islah al-adah (perbaikan bidang kebiasaan), islah al-mujtama (perbaikan masyarakat), islah al-iqtisad (perbaikan bidang perekonomian), dan islah al-ummah (perbaikan bidang hubungan umat dan tolong-menolong).
Secara bertahap, organisasi yang dipimpinnya dapat memperbaiki keadaan masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Melihat kemajuan dan hasil yang telah dicapainya, pemerintah kolonial Belanda mulai menaruh curiga. Secara diam-diam pemerintah kolonial mengutus polisi rahasia (yang disebut Politiek Inlichtingn Dienst/PID) untuk mengawasi pergerakan Abdul Halim dan setiap orang yang dicurigai. Pada tahun 1915 organisasi yang dipimpinnya ini dibubarkan sebab dinilai oleh pemerintah sebagai penyebab terjadinya beberapa kerusuhan (terutama antara pribumi dan Cina). Sejak itu Hayatul Qulub secara resmi dibubarkan namun kegiatannya terus berjalan.
Pada tanggal 16 Mei 1916 Abdul Halim mendirikan Jam’iyah I’anah al-Muta’alimin sebagai upaya untuk terus mengembangkan bidang pendidikan. Untuk ini ia menjalin hubungan dengan Jam’iyat Khair dan al-Irsyad di Jakarta. Melihat sambutan yang cukup tinggi, yang dinilai oleh pihak kolonial dapat merongrong pemerintahan, maka pada tahun 1917 organisasi ini pun dibubarkan. Dengan dorongan dari sahabatnya, HOS. Tjokroaminoto (Presiden Sarekat Islam pada waktu itu), pada tahun itu juga ia mendirikan Persyarikatan Ulama. Organisasi ini diakui oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tanggal 21 Desember 1917. Pada tahun 1924 daerah operasi organisasi ini sampai ke seluruh Jawa dan Madura, dan pada tahun 1937 terus disebarkan ke seluruh Indonesia.
Untuk mendukung organisasi ini, terutama pada sektor keuangan/dana, Abdul Halim mengembangkan usaha bidang pertanian dengan membeli tanah seluas 2,5 ha pada tahun 1927, kemudian mendirikan percetakan pada tahun 1930. Pada tahun 1939 ia mendirikan perusahaan tenun dan beberapa perusahaan lainnya, yang langsung di bawah pengawasannya. Untuk mendukung lajunya perusahaan di atas, kepada para guru diwajibkan menanam saham sesuai dengan kemampuan masing-masing. Abdul Halim juga mendirikan sebuah yayasan yatim piatu yang dikelola oleh persyarikatan wanitanya, Fatimiyah.
Abdul Halim juga memandang perlu memberikan bekal keterampilan kepada anak didik agar kelak hidup mandiri tanpa harus tergantung pada orang lain atau menjadi pegawai pemerintah. Ide ini direalisasinya dengan mendirikan sekolah /pesantren kerja bersama bernama Santi Asromo pada bulan April 1942, yang bertempat di Desa Pasirayu, Kecamatan Sukahaji, Majalengka. Di samping mengembangkan bidang pendidikan, Abdul Halim juga memperluas usaha bidang dakwah. Ia selalu menjalin hubungan dengan beberapa organisasi lainnya di Indonesia, seperti dengan Muhammadiyah di Yogyakarta, Sarekat Islam, dan Ittihad al-Islamiyah (AII) di Sukabumi. Inti dakwahnya adalah mengukuhkan ukhuwah Islamiah (kerukunan Islam) dengan penuh cinta kasih, sebagai usaha menampakkan syiar Islam, guna mengusir penjajahan. Dalam bidang aqidah dan ibadah amaliah Abdul Halim menganut paham ahlussunnah waljama’ah, yang dalam fikihnya mengikuti paham Syafi’iyah. Pada tahun 1942 ia mengubah Persyarikatan Ulama menjadi Perikatan Umat Islam yang (kemudian) pada tahun 1952 melakukan fusi dengan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII), menjadi “Persatuan Umat Islam” (PUI), yang berkedudukan di Bandung.
Selain aktivitasnya membina organisasi PUI, ia aktif berperan dalam berbagai kegiatan politik menentang pemerintahan kolonial. Pada tahun 1912 ia menjadi pimpinan Sarekat Islam cabang Majalengka. Pada tahun 1928 ia diangkat menjadi pengurus Majelis Ulama yang didirikan Sarekat Islam bersama-sama dengan KH. M. Anwaruddin dari Rembang dan KH. Abdullah Siradj dari Yogyakarta. Ia juga menjadi anggota pengurus MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) yang didirikan pada tahun 1937 di Surabaya. Pada tahun 1943, setelah MIAI diganti dengan Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia), ia menjadi salah seorang pengurusnya. Ia juga termasuk salah seorang anggota Badap Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI/Dokurotzu Zyunbi Tyoosakai) pada tahun 1945, anggota Komite Nasional indonesia Pusat (KNIP), dan anggota Konstituante pada tahun 1955. Di kalangan kawan-kawannya ia dikenal sebagai orang yang sederhana, pengasih, dan mengutamakan jalan damai dalam menyelesaikan persoalan daripada melalui kekerasan.
Pada tahun 1940, ia bersama KH. A. Ambari menghadap Adviseur Voor Indische Zaken, Dr. GF. Pijper, di Jakarta untuk mengajukan beberapa tuntutan yang menyangkut kepentingan umat Islam. Ketika terjadi agresi Belanda pada tahun 1947, ia bersama rakyat dan tentara mundur ke pedalaman untuk menyusun strategi melawan Belanda. Ia juga menentang keras berdirinya negara Pasundan yang didirikan pada tahun 1948 oleh Belanda.***(Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, cet-11, 2003, hal. 12-14)



Haji Hasan Mustofa

Haji Hasan Mustafa (Garut, Jawa Barat, 1268 H/3 Juni 1852 M – Bandung, 1348 H/13 Januari 1930) adalah seorang ulama dan pujangga Islam yang banyak menulis masalah agama dan tasawuf dalam bentuk guritan (pusisi yang berirama dalam bahasa Sunda), pernah menjadi kepala penghulu di Aceh pada zaman Hindia Belanda.
Haji Hasan Mustafa lahir dan hidup dalam lingkungan menak (bangsawan Sunda), tetapi berorientasi pada pesantren. [Ayahnya, Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, camat perkebunan.] Karena kekerasan hati ayahnya ia tidak dididik melalui bangku sekolah yang akan membukakan dunia menak bagi masa depannya, melainkan dimasukkan ke pesantren. Pertama-tama ia belajar mengaji dari orang tuanya, kemudian belajar qiraah (membaca al-Qur’an dengan baik) dari Kiai Hasan Basri, seorang ulama dari Kiarakoneng, Garut, dan dari seorang qari yang masih berkerabat dengan ibunya.
Ketika berusia 8 tahun, ia dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji untuk pertama kali. Di Mekah ia bermukim selama setahun dan belajar bahasa Arab dan membaca al-Qur’an. Sepulangnya dari Mekah di masukkan ke berbagai pesantren di Garut dan Sumedang. Ia belajar dasar-dasar ilmu syaraf dan nahwu (tata bahasa Arab) kepada Rd. H Yahya, seorang pensiunan penghulu di Garut. Kemudian ia pindah ke Abdul Hasan, seorang kiai dari Sawahdadap, Sumedang. Dari Sumedang ia kembali lagi ke Garut untuk belajar kepada Kiai Muhammad Irja, murid Kiai Abdul Kahar, seorang kiai terkenal dari Surabaya dan murid dari Kiai Khalil Madura, pemimpin Pesantren Bangkalan, Madura. Pada tahun 1874, ia berangkat untuk kedua kalinya ke Mekah guna memperdalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Kali ini ia bermukim di Mekah selama 8 tahun. Ketika berada di Mekah ia berkenalan dengan Christiaan Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang sedang meneliti masyarakat Islam di Mekah. Pertemuan itu membuat hubungan keduanya akrab sampai Haji Hasan Mustafa meninggal dunia dan Snouck Hurgronje kembali ke negerinya setelah menunaikan tugas pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia.
Menurut data yang diperoleh dari P.S. van Koningsveld, seorang ahli bahasa Arab dan agama Islam di Belanda, melalui naskah asli Abu Bakar Djajadiningrat, seorang ulama Indonesia, yang dianggap sebagai sumber utama Snouck Hurgronje tentang Mekah, diperoleh informasi bahwa Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama terkemuka dari Jawa yang berada di Mekah menjelang akhir abad ke-19. Ia dianggap setingkat dengan Haji Ahmad Banten, putra Syekh Nawawi al-Jawi (Nawawi al-Bantani). Dalam urutan nama ulama Jawa terkemuka di Mekah saat itu, Haji Hasan Mustafa ditempatkan dalam urutan keenam. Ia mengajar di Masjidil Haram dan mempunyai 30 orang murid. Haji Hasan Mustafa menulis buku dalam bahasa Arab, Fath al-Mu’in (Kunci Penolong), yang diterbitkan di Mesir.
Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang menguasai berbagai macam ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di Mekah. Selain kepada Syekh Nawawi al-Bantani, ia juga berguru pada Syekh Mustafa al-Afifi, Syekh Abdullah az-Zawawi, Hasballah, dan Syekh Bakar as-Satha, semuanya adalah orang Arab.
Haji Hasan Mustafa meninggalkan Mekah pada tahun 1882, karena dipanggil oleh RH. Muhammad Musa, penghulu Garut pada masa itu. Ia dipanggil pulang untuk meredakan ketegangan akibat perbedaan paham di antara para ulama di Garut. Berkat usaha Haji Hasan Mustafa dan bantuan RH. Muhammad Musa, perselisihan itu dapat diredakan. Selama 7 tahun ia memberikan pelajaran agama siang dan malam, terutama di Masjid Agung Garut.
Karena pengetahuan agamanya yang luas, Snouck Hurgronje pada tahun 1889 memintanya untuk mendampinginya dalam perjalanan keliling Jawa dan Madura. Ketika itu Snouck Hurgronje adalah penasihat pemerintah Hindia Belanda tentang masalah Bumiputra dan Arab. Ia menjadi pembantu Snouck Hurgronje selama 7 tahun. Atas usul Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda mengangkat Haji Hasan Mustafa menjadi kepala penghulu di Aceh pada tanggal 25 Agustus 1893.
Jabatan kepala penghulu di Aceh dipegangnya selama 2 tahun (1893-1895). Kemudian pada tahun 1895 ia kembali ke Bandung dan menjadi penghulu Bandung selama 23 tahun. Akhirnya pada tahun 1918, atas permintaannya sendiri ia memperoleh pensiun.
Haji Hasan Mustafa adalah seorang ulama yang sabar, berpendirian teguh dan berani mengemukakan pendapat serta pendirian. Ia mengembangkan ajaran islam melalui tugas sebagai penghulu dan kegiatannya sebagai pengajaran agama dan tasawuf dalam pertemuan-pertemuan informal. Di antara muridnya terdapat Kiai Kurdi dari Singaparna, Tasikmalaya, yang mempunyai sebuah pesantren.
Ajaran Islam ditulis dan diajarkannya dengan menggunakan lambang-lambang yang terdapat dalam pantun serta wayang tradisional Sunda. Metafora yang dipergunakan sering bersifat khas Sunda. Penyampaian ajaran agama Islam begitu dekat dengan kebudayaan setempat (Sunda). Ia memetik 104 ayat al-Qur’an untuk orang Sunda. Jumlah itu dianggap cukup dan sesuai dengan kemampuan orang Sunda dalam memahami ajaran islam.
Aliran mengenai tasawuf yang dianut dan diajarkan kepada muridnya tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi beberapa orang menyebutkan bahwa ia menganut aliran Syattariah, suatu tarekat yang berasal dari India, didirikan oleh Syekh Abdullah Asy-Syattar, dikembangkan di Indonesia mula-mula oleh Syekh Abdur Rauf Singkel, dan menyebar ke Jawa Barat karena peranan Syekh Haji Abdul Muhyi, salah seorang murid Syekh Abdur Rauf Singkel. Dalam karyanya ia sering menyebut nama al-Ghazali sebagai sufi yang dikaguminya.
Haji Hasan Mustafa menyebarkan ajaran Islam melalui karya-karya seninya yang sangat berlainan dengan karya-karya seni Sunda pada masa itu. Umumnya yang dibahas adalah maslah-masalah ketuhanan (tasawuf). Bentuk formalnya mirip dengan kitab-kitab suluk dalam bahasa Jawa, tetapi isinya lebih dekat dengan tradisi puisi tasawuf. Karya-karya itu merupakan perpaduan atas tanggapan, renungan, dan pendapat Haji Hasan Mustafa terhadap bermacam-macam pengetahuan yang dikuasainya, yakni agama Islam, tasawuf, kebudayaan Sunda, dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Hampir semua karyanya ditulis dalam huruf pegon (tulisan menggunakan huruf Arab tetapi kata-kata dalam bahasa Jawa atau Sunda).
[Sekitar tahun 1900 ia menulis lebih dari 10.000 bait dangding yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengeritik sastra Sunda. Karya tersebut umumnya membahas masalah suluk, terutama membahas hubungan antara hamba (kaula) dengan Tuhan (Gusti). Metafora yang sering digunakannya untuk menggambarkan hubungan itu ialah seperti rebung dengan bambu, seperti pohon aren dengan caruluk (bahan aren), yang menyebabkan sebagian ulama menuduhnya pengikut mazhab wahdatul-wujud. Terhadap tuduhan itu, ia sempat membuat bantahan Injaz al-Wa'd, fi Ithfa al-Ra'd (membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar) dalam bahasa Arab yang salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]
Karya-karyanya yang pernah dicetak dan dijual kepada umum adalah Bab Adat-Adat Urang Sunda Jeung Priangan Liana ti Éta (1913), esei tentang suku Sunda, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Belanda (1977); Leutik Jadi Patélaan Adatna Jalma-Jalma di Pasundan (1916); Pakumpulan Atawa Susuratanana Antara Juragan Haji Hasan Mustafa Sareng Kyai Kurdi (1925); Buku Pengapungan (Hadis Mikraj, tahun 1928); dan Syekh Nurjaman (1958).
Di samping itu terdapat pula buku-bukunya yang hanya dicetak dan diedarkan di kalangan terbatas, seperti Buku Pusaka Kanaga Wara, Pamalatén, Wawarisan, dan Kasauran Panungtungan. Semua buku tersebut tidak diketahui tahun terbitnya.
Karya-karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk stensilan ialah Petikan Qur’an Katut Abad Padikana (1937) dan Galaran Sasaka di Kaislaman (1937). Masih ada karya lain yang tidak dipublikasikan dan disimpan oleh M. Wangsaatmadja (sekretarisnya, 1923-1930). Pada tahun 1960 naskah tersebut diketik ulang dan diberi judul Aji Wiwitan (17 jilid). [Selain itu, Haji Hasan Mustapa menulis naskah dalam bahasa melayu Kasful Sarair fi Hakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia Sebetulnya Aceh dan Fidi) yang sampai sekarang naskahnya tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.]
Pada tahun 1977 haji Hasan Mustafa sebagai sastrawan Sunda memperoleh hadiah seni dari presiden Republik Indonesia secara anumerta.*** (Sumber: Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid 1, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 183-184. Tulisan di dalam kurung tegak merupakan catatan tambahan dari Ensiklopedi Sunda.)



Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan

Abdul Muhyi, Syeikh Haji (Mataram, Lombok, 1071 H/1650 M-Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat 1151 H/1730 M). Ulama tarekat Syattariah, penyebar agama Islam di Jawa Barat bagian selatan. Karena dipandang sebagai wali, makmnya di Pamijahan di keramatkan orang.
Abdul Muhyi datang dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan agama Islam pertama kali diterimanya dari ayahnya sendiri dan kemudian dari para ulama yang berada di Ampel. Dalam usia 19 tahun, ia berangkat ke Kuala, Aceh, untuk melanjutkan pendidikannya dan berguru pada Syeikh Adur Rauf Singkel, seorang ulama sufi dan guru tarekat Syattariah. Syeikh Abdur Rauf Singkel adalah ulama Aceh yang berupaya mendamaikan ajaran martabat alam tujuh -yang dikenal di Aceh sebagai paham wahdatul wujud atau wujudiyyah (panteisme dalam Islam)-dengan paham sunah. Meskipun begitu Syeikh Abdur Rauf Singkel tetap menolak paham wujudiyyah yang menganggap adanya penyatuan antara Tuhan dan hamba. Ajaran inilah yang kemudian dibawa Syeikh Abdul Muhyi ke Jawa.
Masa studinya di Aceh dihabiskannya dalam tempo enam tahun (1090 H/1669 M-1096 H/1675 M). Setelah itu bersama teman-teman seperguruannya, ia dibawa oleh gurunya ke Baghdad dan kemudian ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan agama dan menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Syeikh Haji Abdul Muhyi kembali ke Ampel. Setelah menikah, ia meninggalkan Ampel dan mulai melakukan pengembaraan ke arah barat bersama isteri dan orang tuanya. Mereka kemudian tiba di Darma, termasuk daerah Kuningan, Jawa Barat. Atas permintaan masyarakat muslim setempat, ia menetap di sana selama tujuh tahun (1678-1685) untuk mendidik masyarakat dengan ajaran Islam. Setelah itu ia kembali mengembara dan sampai ke daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Ia mentap di Pameungpeuk slama 1 tahun (1685-1686) untuk menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk yang ketika itu masih menganut agama Hindu. Pada tahun 1986 ayahnya meninggal dunia dan dimakamkan di kampung Dukuh, di tepi Kali Cikangan. Beberapa hari setelah pemakaman ayahnya, ia melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi. Ia bermukim beberapa waktu di sana atas permintaan masyarakat. Setelah itu ia ke Lebaksiuh, tidak jauh dari Batuwangi. Lagi-lagi atas permintaan masyarakat ia bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690). Pada masa empat tahun itu ia berjasa mengislamkan penduduk yang sebelumnya menganut agama Hindu. Menurut cerita rakyat, keberhasilannya dalam melakukan dakwah Islam terutama karena kekeramatannya yang mampu mengalahkan aliran hitam. Di sini Syeikh Haji Abdul Muhyi mendirikan masjid tempat ia memberikan pengajian untuk mendidik para kader yang dapat membantunya menyebarkan agama Islam lebih jauh ke bagian selatan Jawa Barat. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia lebih memilih bermukim di dalam gua yang sekarang dikenal sebagai Gua Safar Wadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Menurut salah satu tradisi lisan, kehadirannya di Gua Safar Wadi itu adalah atas undangan bupati Sukapura yang meminta bantuannya untuk menumpas aji-aji hitam Batara Karang di Pamijahan. Di sana terdapat sebuah gua tempat pertapaan orang-orang yang menuntut aji-aji hitam itu. Syeikh Haji Abdul Muhyi memenangkan pertarungan melawan orang-orang tersebut hingga ia dapat menguasai gua itu. Ia menjadikan gua itu sebagai tempat pemukiman bagi keluarga dan pengikutnya, di samping tempat ia memberikan pengajian agama dan mendidik kader-kader dakhwah Islam. Gua tersebut sangat sesuai baginya dan para pengikutnya untuk melakukan semadi menurut ajaran tarekat Syattariah. Sekarang gua tersebut banyak diziarahi orang sebagai tempat mendapatkan “berkah”. Syeikh Haji Abdul Muhyi juga bertindak sebagai guru agama Islam bagi keluarga bupati Sukapura, bupati Wiradadaha IV, R. Subamanggala.
Setelah sekian lama bermukim dan mendidik para santrinya di dalam gua, ia dan para pengikutnya berangkat menyebarkan agama Islam di kampung Bojong (sekitar 6 km dari gua, sekarang lebih dikenal sebagai kampung Bengkok) sambil sesekali kembali ke Gua Safar Wadi. Sekitar 2 km dari Bojong ia mendirikan perkampungan baru yang disebut kampung Safar Wadi. Di kampung itu ia mendirikan masjid (sekarang menjadi kompleks Masjid Agung Pamijahan) sebagai tempat beribadah dan pusat pendidikan Islam. Di samping masjid ia mendirikan rumah tinggalnya. Sementara itu, para pengikutnya aktif menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat bagian selatan. Melalui para pengikutnya, namanya terkenal ke berbagai penjuru jawa Barat.
Menurut tradisi lisan, Syeikh Maulana Mansur berulang kali datang ke Pamijahan untuk berdialog dengan Syeikh Haji Abdul Muhyi. Syeikh Maulana Mansur adalah putra Sultan Abdul Fattah Tirtayasa dari kesultanan Banten. Sultan Tirtayasa sendiri adalah keturunan Maulana Hasanuddin, sultan pertama kesultanan Banten yang juga putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, salah seorang Wali Songo.
Berita tentang ketinggian ilmunya itu sampai juga ke telinga sultan Mataram. Sultan kemudian mengundang Syeikh Haji Abdul Muhyi untuk menjadi guru bagi putra-putrinya di istana Mataram. Sultan Mataram Paku Buwono II (1727-1749) ketika itu bahkan menjanjikan akan memberi piagam yang memerdekakan daerah Pamijahan dan menjadikannya daerah “perdikan”, daerah yang dibebaskan dari pembayaran pajak. Undangan sultan Mataram itu tidak pernah dilaksanakannya, karena pada tahun 1151 H (1730 M) Syeikh Haji Abdul Muhyi meninggal dunia karena sakit di Pamijahan. Berdasarkan keputusan sultan Mataram itulah, oleh pemerintah kolonial Belanda, melalui keputusan residen Priangan, Pamijahan sejak tahun 1899 dijadikan daerah “pasidkah”, daerah yang dikuasai secara turun temurun dan bebas memungut zakat, pajak, dan pungutan lain untuk keperluan daerah itu sendiri.
Makam Syeikh Haji Abdul Muhyi yang terdapat di Pamijahan diurus dan dikuasai oleh keturunannya. Makamnya itu ramai diziarai orang sampai sekarang karena dikeramatkan. Sampai saat ini desa Pamijahan dipimpin oleh seorang khalifah, jabatan yang diwariskan secara turun-temurun, yang juga merangkap sebagai juru kunci makam dan mendapat penghasilan sedekah dari para peziarah.
Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh tarekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.
Ajaran “martabat alam tujuh” ini berawal dari ajaran tasawuf wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Tidak begitu jelas kapan ajaran ini pertama kali masuk ke Indonesia. Yang jelas, sebelum Syeikh Haji Abdul Muhyi, beberapa ulama sufi Indonesia sudah ada yang menulis ajaran ini, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani (tokoh sufi, w. 1630), dan Abdur Rauf Singkel, dengan variasi masing-masing. Oleh karena itu sangat lemah untuk mengatakan bahwa karya Syeikh Haji Abdul Muhyi yang berjudul Martabat Kang Pitutu ini sebagai karya orsinilnya, tetapi besar kemungkinan berupa saduran dari karya yang sudah terdapat sebelumnya dengan penafsiran tertentu darinya.
Menurut ajaran “martabat alam tujuh”, seperti yang tertuang dalam Martabat kang Pitutu, wujud yang hakiki mempunyai tujuh martabat, yaitu (1) Ahadiyyah, hakikat sejati Allah Swt., (2) Wahdah, hakikat Muhammad Saw., (3) Wahidiyyah, hakikat Adam As., (4) alam arwah, hakikat nyawa, (5) alam misal, hakikat segala bentuk, (6) alam ajsam, hakikat tubuh, dan (7) alam insan, hakikat manusia. Kesemuanya bermuara pada yang satu, yaitu Ahadiyyah, Allah Swt. Dalam menjelaskan ketujuh martabat ini Syeikh Haji Abdul Muhyi pertama-tama menggarisbawahi perbedaan antara Tuhan dan hamba, agar -sesuai dengan ajaran Syeikh Abdur Rauf Singkel-orang tidak terjebak pada identiknya alam dengan Tuhan. Ia mengatakan bahwa wujud Tuhan itu qadim (azali dan abadi), sementara keadaan hamba adalah muhdas (baru). Dari tujuh martabat itu, yang qadim itu meliputi martabat Ahadiyyah, Wahdah, dan Wahidiyyah, semuanya merupakan martabat-martabat “keesaan” Allah Swt. yang tersembunyi dari pengetahuan manusia. Inilah yang disebut sebagai wujudullah. Empat martabat lainnya termasuk dalam apa yang disebut muhdas, yaitu martabat-martabat yang serba mungkin, yang baru terwujud setelah Allah Swt. memfirmankan “kun” (jadilah).
Selanjutnya melalui martabat tujuh itu Syeikh Haji Abdul Muhyi menjelaskan konsep insan kamil (manusia sempurna). Konsep ini merupakan tujuan pencapaian aktivitas sufi yang hanya bisa diraih dengan penyempurnaan martabat manusia agar sedekat-dekatnya “mirip” dengan Allah Swt.
Melalui usaha Syeikh Haji Muhyiddin, ajaran martabat tujuh yang dikembangkan Syeikh Abdul Muhyi tersebar luas di Jawa pada abad ke-18.*** (Suplemen Ensiklopedi Islam Jilid I, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, cet-9, 2003, hal. 5-8.)



Link Sunda

Biodata Sanghyang Mughni Pancaniti


Terlahir dengan Nama Abdul Mughni Shiddiq, namun teman2 biasa memanggilku “Mama” (Manis manja). Aku dilahirkan di Bandung bersama-sama ribuan bayi seangkatanku pada Hari Minggu sore tanggal 04 Maret 1990 kalo hijriahnya 21 Rajab 1410 H.
Nama Lainku Di Dunia Maya:
  1. Hizhib Mughni as-Sundy
  2. Mama Mughni Shiddiq
  3. Sanghyang Mughni Pancaniti
  4. Mughni Ismaya Putrataryana
Riwayat pendidikanku:
  1. SDN Gumuruh II Bandung 2000
  2. Mts Ponpes al-Qur’an Al-Falah Cicalengka Bandung 2004
  3. MAK Ponpes al-Musaddadiyah Garut 2008
  4. Komunikasi Penyiaran Islam UIN SGD Bandung 2008 s/d Sekarang
pengalaman Organisasiku:
  1. ISAWIYA (Ikatan Santri Wilayah Kotamadya) al-Falah Bandung sebagai Bidang Pendidikan 2004
  2. Yayasan Pendidikan Islam dan Sosial Siti Hajar sebagai Bidang Seni dan Budaya 2007-Sekarang
  3. Mudabbirin Ponpes MAK Al-Musaddadiyah Garut sebagai Rais Am (Ketua Umum) 2007-2008
  4. HIMKAB (Himpunan Mahasiswa Kabupaten Bandung) Sebagai Bidang sosial politik, jaringan dan budaya. 2009-2010
  5. RIKSA (Riungan Ki Sunda) sebagai Sekretaris. 2010-sekarang
  6. Komunitas Sastra Senja Bandung sebagai Anggota. 2009-sekarang
  7. KLIK (Komunitas Lingkar Ilmu Komunikasi) Sebagai Anggota. 2009-sekarang
  8. Kaum Muda Lintas Agama sebagai Anggota. 2009-2010
  9. HMJ Komunikasi Penyiaran Islam UIN SGD Bandung Sebagai Bidang Nalar dan Intelektual 2010-2011
  10. PMII Rayon Dakwah dan Komunikasi Komisariat UIN Bandung sebagai Bidang Nalar dan Intelektual 2009-2011
  11. Forum Pe-SK (Penulis Se-KPI) Sebagai Kordinator 2010- Sekarang
  12. Pa’GiNa (Paguyuban Gila Wacana) Sebagai Anggota 2010-Sekarang
Buku Favorit:
  1. Negeri Yang Malang: Ensiklopedi Pemikiran Emha Ainun Nadjib (Agus Ahmad Syafe’i)
  2. Tafsir Nadjibiyah: Tafsir Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Agus Ahmad Syafe’i)
  3. Jejak Tinju Pak Kyai (Emha Ainun Nadjib)
  4. Kiai Untung, Kiai Bejo, Kiai Hoki (Emha Ainun Nadjib)
  5. Slilit Sang Kyai (Emha Ainun Nadjib)
  6. Demokrasi Laa Roiba Fiih (Emha Ainun Nadjib)
  7. Syair Asmaul Husna (Emha Ainun Nadjib)
  8. Ibu Tamparlah Mulut Anakmu Ini (Emha Ainun Nadjib)
  9. Demi Toleransi Demi Pluralisme (Dawam Rahardjo)
  10. Tuhan Tidak Perlu Dibela (KH. Abdurrahman Wahid)
  11. Tapak Sabda: Sebuah Novel Filsafat (Fauz Noor)
  12. Berfikir Seperti Nabi (Fauz Noor)
  13. Unjuk Rasa Kepada Allah (DR. Zawami Imran)
  14. Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Parennial (Komaruddin Hidayat)
  15. Sunda Pun Angkat Bicara
  16. Pergumulan Islam Dengan Kebudayaan Lokal Di Tatar Sunda
  17. Sakeupel Taneuh Ti Mekkah
  18. Mencari Sosok Manusia Sunda (Ajip Rosidi)
Film Favorit:
  1. Film Sahrukh Khan Pokona mah
  2. 3 Idiot
  3. Taree Zameen Par
  4. Alangkah Lucunya Negeri Ini
  5. Sang Pemimpi
  6. Para Pencari Tuhan
  7. Emak Ingin Naik Haji
  8. Srigala Terakhir
  9. Nagabonar 1-2
  10. King Arthur
  11. The Last Of Titans
  12. Kingdom Of  Heaven
Motto Hidup : “Bahkan Sesungguhnya Aku Tak Mengetahui Siapa Diriku.”
Phone: 085793192084
Email : mughnisanghyang@yahoo.co.id

Ki sunda siapakah dikau? dan bagaimana keadaanmu?

Oleh: H. Rahmat


Sebelum masuk kedalam materi pokok, lebih dahulu saya ingin mengajak para ksatria sunda untuk tidak berhenti dan segan terus membicarakan dan memperjuangkan Ki Sunda. Etnis Sunda bukan muncul begitu saja, melainkan sengaja diciptakan oleh Allah. Bersama etnis-etnis lainnya dengan maksud saling mengenal. Yang paling mulia diantara bangsa-bangsa itu ialah yang paling Taqwa (QS. 49:13). Orang sunda mencintai Sunda dan segala yang berkait kepadanya, merupakan tanda syukur kepada penciptanya. Karena itu, perjuangan Ki Sunda memuliakan Sunda bisa menjadi Ibadah.

Bangkitnya Sunda akan merupakan suatu peristiwa yang besar dan pasti akan berawal dari wacana. Agar wacana kita bisa menjadi kenyataan yang menguntungkan, bukan hanya merebutkan paisan kosong mari kita arahkan wacana kita kesana. Mari kita samakan sudut pandang dengan menyepakati siapa sebenarnya yang dimaksud ki Sunda?, sedang dalam keadaan bagaimana sekarang ini, dan apa yang dikehendakinya?

Disamping banyak dari kita yang sudah bisa mendengar dan menggunakan kata “Ki sunda”, banyak yang bertanya-tanya mengapa memakai gelar “Ki” dan siapa sebenarnya ki sunda itu?. “Ki” adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa, tetapi berusia lebih muda dari penyapa. Saya yakin bahwa yang memberikan sapaan ini bukan berarti merasa lebih tua tetapi dengan tujuan menghormat.

Ada yang mengatakan bahwa “Ki Sunda” adalah seluruh orang sunda, namun sebetulnya “Ki Sunda” memiliki makna khusus yaitu sekelompok urang sunda yang mencintai sunda dan memperjuangkan kemuliaan Sunda. Merekalah yang lebih pantas mendapatkan kehormatan itu, mereka adalah elitenya Urang Sunda.

Sebelum Islam masuk ke tatar Sunda, urang sunda sudah mempunyai keyakinan dan filsafat hidup (Agama Sunda) yang monoteistis seperti intinya ajaran Islam. Maka jika Ki Sunda diartikan sebagai elite urang Sunda Yang pantas dihormati karena mencintai dan memperjuangkan kemuliaan Sunda sebagai tanda bersyukur kepada sang pencipta, Itulah Ki Sunda.

Adapun keadaan ki sunda sekarang adalah hampir punah, yang punah itu bukan elitenya, tetapi orang-orangnya. Bukan karena membelakangi Allah, akan tetapi karena waktunya sudah datanga. Kaus ketat yang lebih popular dari kebaya sunda dan kurangnya pemakai bahasa sunda dikalangan orang sunda sendiri. Kita tidak akan mempermasalahkan kaus atau kebayanya, tetapi kesannya. Sebab, kalau model dan bentuknya yang akan dipermasalahkan, apa yang akan kita katakana tentang rok dan blues? Yang bukan asli pakaian sunda tetapi sudah puluhan, bahkan telah ratusan tahun telah menjadi pakaian sehari-hari mojang-mojang sunda?

Sekarang apa yang dikehendaki Ki Sunda?. Ki Sunda dengan karakterisktik seperti digambarkan diatas tidak bisa bercita-cita menjadi bangsa yang termuia diantara bangsa-bangsa, paling sedikit diantara bangsa-bangsa pemilik NKRI tercinta ini. Sekalipun belum sampai ketujuan akhir, perjuangannya sendiri akan memberikan saham yang sangat besar dalam mencapai cita-cita PEMDA Jabar yang hendak menjadikan Jawa Barat Provinsi termaju dalam tahun 2010.

Perjuangan ini tida akan selesai oleh satu generasi. Tetapi segala perolehan satu generasi akan bernilai sangat tinggi bagi generasi-generasi berikutnya, sasaran antara yang kongkrit strategi yang harus dan bisa dicapai oleh generasi sekarang adalah mencegah perang saudara sekecil dan dalam bentuk apa pun, lewat jalan menyamakan persepsi, menyatukan segenap daya dan tenaga, mengordinasikan langkah, dan masing-masing tetap aktif dibidangnya masing-masing. Dengan jiwa Ki Sunda yang sebenarnya.


BAHASA SUNDA

Saméméh asup kana materi poko, leuwih tiheula kuring hayang ngajak para Jawara sunda pikeun henteu ngandeg sarta ajrih terus ngomongkeun sarta memperjuangkeun Ki Sunda. Etnis Sunda lain mecenghul kitu waé, tapi ngahaja diciptakeun ku Allah. Babarengan etnis-etnis séjénna kalawan maksud silih mikawanoh. Anu pang mulia diantara bangsa-bangsa éta nyaeta anu pang Taqwana (QS. 49:13). Jelema sunda mitresna Sunda sarta sagala anu patula-patali pikeun manéhna, mangrupa tanda syukur ka panyiptana. Alatan éta, perjuangan Ki Sunda ngamuliakeun Sunda bisa jadi Ibadah.

Ngoréjat manéhna Sunda baris mangrupa hiji kajadian anu badag sarta pasti baris mimiti ti wacana. Ambéh wacana urang bisa jadi kanyataan anu nguntungkeun, lain ngan ngarebutkeun paisan kosong hayu urang arahkan wacana urang kaditu. Hayu urang saruakeun panempo kalawan nyatujuan saha sabenerna anu dimaksud ki Sunda?, keur dina kaayaan kumaha ayeuna ieu, sarta naon anu dipikahayangna?

Digigireun / sabeulah loba ti urang anu geus bisa ngadéngé sarta ngagunakeun kecap “Ki sunda”, loba anu nanya-nanya naha maké gelar “Ki” sarta saha sabenerna ki sunda éta?. “Ki” nyaéta sapaan hormat ka lalaki dewasa, tapi umurna leuwih ngora tinu nyapa. Kuring yakin yén anu mikeun sapaan ieu lain hartosna ngarasa leuwih kolot tapi kalawan tujuan mikahormat.

Aya anu ngomong yén “Ki Sundanyaéta sakumna jelema sunda, tapi sabenerna “Ki Sundangabogaan harti husus nyaéta sajumplukan urang sunda anu mitresna sunda sarta memperjuangkeun kamuliaan Sunda. Maranehanana anu leuwih pantes meunangkeun cahara éta, maranéhanana nyaéta elitena Urang Sunda.

Saméméh Islam asup ka tatar Sunda, urang sunda geus miboga kayakinan sarta falsafah hirup (Ageman Sunda) anu monoteistis kawas intina ajaran Islam. Mangka lamun Ki Sunda diartikeun minangka elite urang Sunda Anu pantes dipihormat alatan mitresna sarta merjuangkeun kemuliaan Sunda minangka tanda syukur kanu nyipta, Éta pisan Ki Sunda.

Sedengkeun kaayaan ki sunda ayeuna nyaéta ampir punah, anu punah éta lain elitena, tapi jalma-jalmana. Lain alatan nukangan Alloh, tapi alatan waktuna geus datang. Kaus heureut anu leuwih popular ti kabaya sunda sarta kurangna pamaké basa sunda digolongan jelema sunda sorangan. Urang moal mempermasalahkeun kaus atawa kabayana, tapi gambaranana. Sabab, lamun modél sarta bentukna anu baris dipermasalahkeun, naon anu baris urang katakana ngeunaan rok sarta blues? Anu lain pituin pakéan sunda tapi geus puluhan, komo geus ratusan warsih geus jadi pakéan sapopoé mojang-mojang sunda?

Ayeuna naon anu dipikahayang Ki Sunda?. Ki Sunda kalawan karakterisktik kawas digambarkeun diluhur henteu bisa bercita-cita jadi bangsa anu termulia diantara bangsa-bangsa, pang saeutik diantara bangsa-bangsa nu boga NKRI tercinta ieu. Sekalipun tacan nepi ka katujuan ahir, perjuangannya sorangan baris mikeun saham anu pohara badag dina ngahontal cita-cita PEMDA Jabar anu rék ngajadikeun Jawa Kulon Propinsi termaju dina warsih 2010.

Perjuangan ieu tida baris réngsé ku hiji generasi. Tapi sagala perolehan hiji generasi baris boga nilai pohara luhur pikeun generasi-generasi saterusna, sasaran antara anu kongkrit strategi anu kudu sarta bisa dihontal ku generasi ayeuna nyaéta nyegah perang baraya saleutik sarta dina wangun naon ogé, liwat jalan nyaruakeun persepsi, ngahijikeun sakabéh daya sarta tanaga, ngordinasikeun léngkah, sarta unggal tetep aktip dibidangna séwang-séwangan. Kalawan jiwa Ki Sunda anu sabenerna.


Mengapa bahasa sunda bisa mati?



Bahasa adalah sesuatu yang hidup, dan sesuatu yang hidup akan mati. Mengapa bahasa bisa mati? Dua orang sarjana Amerika, Daniel Netle dan Suzzane Romaine, membahas masalah tersebut dalam bukunya “Vanishing Voices”. Menurut penelitian para sarjana tersebut, selama dua abad terakhir ini kemusnahan bahasa kian menghebat. Menurut perkiraan mereka sekarang di dunia ini ada 5.000-6.700 bahasa, dan paling tidak setengahnya akan mati dalam abad ke-21. Sekarang kurang lebih 60% dari bahasa yang masih ada dalam kondisi penuh resiko. Menurt para sarjana bahasa, bahasa mati tidaklah secar alami. Ada sarjana yang menggunakan istilah “Bahasa dibunuh” atau “Bahasa bunuh diri”. Glanville Price dalam bukunya “The Language of Britain” menyebut bahasa inggris sebagai bahasa pembunuh. Bahasa inggris di Brtania raya telah membunuh antara lain Irlandia dan bahasa Kornisy. Dan pembunuhan oleh bahasa Inggris kemudian menyebar ke seluruh Dunia. Bahasa di kepulauan Hawaii misalnya telah musnah digantikan oleh bahasa Inggris. Demikian pula diberbagai tempat lain telah terjadi pembunuhan bahasa oleh bahasa inggris.

Suatu bahsa bisa mati mendadak dan bisa juga melalui proses yang panjang sedikit demi sedikit. Bahasa yang mati mendadak bisa terjadi karena bencana alam, seperti dialami oleh bahasa Tembora dipulau Sumbawa yang pada tahun 1815 semua pecaturnya meninggal dunia akibat letusan gunung brapi. Begitu juga bahasa Yahi, salah satu bahasa orang Indian di Amerika, semua pecaturnya dibasmi oleh bangsa Eropa. Di Australia tadinya ada 250 bahasa suku Aborigin, dan sekarang sudah tidak tersisa lagi. Sekarang bagaimana dengan bahasa sunda?

Dengan analisis Netlle dan Romaine, maka kita melihat bahwa bahasa sunda sekarang sedang dalam proses kematiannya, karena kita saksikan orang Sunda secara perlahan-lahan sedang menjalankan pembunuhan terhadap bahasa sunda sebagai bahasa ibunya. Kita saksikan kian banyak orang sunda ynag tidak mau bercakap-cakap dengan bahasa sunda, walaupun dengan sesame orang sunda. Kita juga saksikan, umumnya kalau orang sunda mau bercakap-cakap tentang hal tertentu lalu beralih kode ke bahasa Indonesia atau bahasa lain. Bahasa Sunda dianggap tidak cukup tepat atau tidak cukup terhormat untuk menyampaikan pikirannya. Mereka lebih suka memakai bahasa Indonesia yang dianggap menjanjikan kemungkinan ekonomis lebih besar atau dengan bahasa Jakarta yang merupakan bahasa metropolitan yang dibayangkan penuh gemerlapan.

Kita juga saksikan bahwa lembaga-lembaga public seperti pengadilan, sekolah, masjid-masjid, pasar, tidak lagi menggunakan bahasa Sunda, atau kian sedikit mempergunakannya. Dan kita saksian terutama d kota-kota besar, orang tua yang keduanya orang sunda, sudah tidak berbahasa sunda lagi dengan anak-anaknya, walaupun misalnya mereka sendiri bercakap-cakap dalam bahasa sunda. Artinya mereka tidak mewariskan bahasa ibunya itu kepada generasi sesudahnya. Semua gejala yang terbiasa terjadi adalah proses kematian bahasa sunda.

Keadaan demikian kalau dibiarkan saja akan berakhir dengan kematian bahasa sunda, kecuali kalau ada perubahan sikap orang sunda sendiri terhadap situasi tersebut. Perubahan sikap terhadap bahasa yang dalam proses kematian, bahkan juga terhadap bahasa yang sudah mati, tidak mustahil dapat menyehatkannya kembali. Apakah kita akan membiarkan bahasa Sunda itu mati?


BAHASA SUNDA


Basa nyaéta hiji hal anu hirup, sarta hiji hal anu hirup baris paeh. Naha basa bisa paeh? Dua urang sarjana Amérika, Daniel Netle sarta Suzzane Romaine, ngabahas masalah kasebut dina bukuna “Vanishing Voices”. Nurutkeun panalungtikan para sarjana kasebut, salila dua abad pamungkas ieu kamusnahan basa beuki hebat. Nurutkeun perkiraan maranéhanana ayeuna di dunya ieu aya 5.000-6.700 basa, sarta sahenteuna satengahna baris paeh dina abad ke-21. Ayeuna kurang leuwih 60% ti basa anu masih aya dina kaayaan pinuh resiko. ceuk para sarjana basa, basa mati teu pisan-pisan sacara alami. Aya sarjana anu ngagunakeun istilahBasa dipaehan” atawaBasa bunuh diri”. Glanville Price dina bukuna “The Language of Britain” nyebutkeun basa inggris minangka basa pembunuh. Basa inggris di Brtania raya geus maéhan antara séjén Irlandia sarta basa Kornisy. Sarta pembunuhan ku basa Inggris saterusna nyebar ka sakumna Dunya. Basa di kapuloan Hawaii contona geus musnah digantikeun ku basa Inggris. Kitu ogé disagala rupa tempat séjén geus lumangsung pembunuhan basa ku basa inggris.

Hiji bahsa bisa mati dumadakan sarta bisa ogé ngaliwatan prosés anu panjang saeutik demi saeutik. Basa anu mati dumadakan bisa lumangsung alatan musibah alam, kawas dialaman ku basa Tembora dipulo Sumbawa anu dina warsih 1815 kabéh pecaturnya maot alatan letusan gunung brapi. Kitu ogé basa Yahi, salah sahiji basa urang Indian di Amérika, kabéh pecaturnya dibasmi ku bangsa Éropa. Di Australia tadina aya 250 basa suku Aborigin, sarta ayeuna geus henteu cangkaruk deui. Ayeuna kumaha kalawan basa sunda?

Kalawan analisis Netlle sarta Romaine, mangka urang nempo yén basa sunda ayeuna keur dina prosés maotna, alatan urang saksian urang Sunda sacara perlahan-lahan keur ngajalankeun pembunuhan ka basa sunda minangka basa indungna. Urang saksian beuki loba jelema sunda nu henteu daék ngobrol kalawan basa sunda, sanajan kalawan sesame jelema sunda. Urang ogé saksian, umumna lamun jelema sunda daék ngobrol ngeunaan hal nu tangtu tuluy pindah kode ka basa Indonésia atawa basa séjén. Basa Sunda dianggap teu mahi pas atawa teu mahi dipihormat pikeun nepikeun pikiranana. Maranéhanana leuwih resep maké basa Indonésia anu dianggap ngajangjian jigana ekonomis leuwih badag atawa kalawan basa Jakarta anu mangrupa basa metropolitan anu dibayangkeun pinuh gemerlapan.

Urang ogé saksian yén lembaga-lembaga public kawas pangadilan, sakola, masjid-masjid, pasar, henteu deui ngagunakeun basa Sunda, atawa beuki saeutik mempergunakannya. Sarta urang saksian utamana d dayeuh-dayeuh badag, kolot anu duanana urang sunda, geus henteu berbahasa sunda deui kalawan barudakna, sanajan contona maranéhanana sorangan ngobrol dina basa sunda. Hartina maranéhanana henteu ngawariskeun basa indungna éta ka generasi satutasna. Kabéh gejala anu biasa lumangsung nyaéta prosés pati basa sunda.

Kaayaan kitu lamun diingkeun waé baris lekasan kalawan pati basa sunda, kajaba lamun aya parobahan dangong jelema sunda sorangan ka kaayaan kasebut. Parobahan dangong ka basa anu dina prosés pati, komo ogé ka basa anu geus mati, henteu mustahil bisa nyageurkeun manéhna balik. Naha urang baris ngantep basa Sunda éta paeh?

Budaya Sunda antara mitos dan realitas


Kebudayaan sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Kebudayaan sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebaga kebudayaan raja-raja sunda atau tokoh yang diidentian dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan orang sunda karena dianggap sebagai raja yang berhasil, dan mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Kebudayaan sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan tentang eksistensipun sering mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya?. Tentang hal tersebut, bila dikaji dengan tenang, sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa kemana kebudayaan sunda tersebut?

Tidak mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsure kebudayaan sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh yang paling jelas adalah bahasa sunda yang merupakan bahasa komunitas urang sunda, tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda sunda. Lebih memprihatinkan lagi, bahwa menggunakan bahasa sunda dalam komunitasnya sehari-hari terkadang diidentikan dengan ”keterbelakangan” atau “kampungan”, untukng saja tidak mengatakan primitive. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang sunda untuk menggunakan bahasa sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan rasa “gengsi” ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa sunda, termasuk untuk sekedar mengakui dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa sunda.

Kemampuan kebudayaan sunda untuk melakukan mpbilitas, baik vertical maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas sunda, di dalam komunitas sendiri, kebudayaan sunda seringkali terasa asing. Sebab itu kebudayaan sunda dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan sunda tidak saja jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur..

Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigm-paradigma baru, itikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Selain itu, kebudayaan sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya regenerasi. Budaya “Kumaha akang”, “teu langkung akang”, dan “Mangga tipayun”, yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang sunda, dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rntannya budaya sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya sunda gagap dengan regenerasi.


BAHASA SUNDA


Kabudayaan sunda kaasup salah sahiji kabudayaan suku bangsa di Indonésia anu umurna kolot. Kabudayaan sunda anu idéal ogé saterusna mindeng dikaitkeun jadi kabudayaan raja-raja sunda atawa inohong anu diidentikeun kalawan raja Sunda. Dina kaitan ieu maka aya sosok Prabu Siliwangi dijadikeun minangka inohong panutan sarta kebanggaan jelema sunda alatan dianggap minangka raja anu junun, sarta sanggup mikeun karaharjaan ka rahayatna.

Kabudayaan sunda kiwari loba meunang gugatan balik. Patarosan ngeunaan eksistensige mindeng ngajaul ka permukaan. Naha kabudayaan sunda masih aya? Lamun masih aya, saha téa nu bogana?. Ngeunaan hal kasebut, lamun dikaji kalawan tenang, sabenerna mangrupa patarosan anu wajar-wajar waé. Naha kitu? Jawabanna basajan, alatan kabudayaan sunda dina kanyataanana ayeuna memang kawas kaleungitan ruhna atawa sahenteuna henteu écés arah sarta tujuanana. Daék dibawa kamana kabudayaan sunda kasebut?

Henteu matak olohok lamun beuki lila beuki loba unsure kabudayaan sunda anu tergilas ku kabudayaan deungeun. Contona anu pangécésna nyaéta basa sunda anu mangrupa basa komunitas urang sunda, kasampak sacara eksplisit beuki arang dipaké ku nu bogana sorangan, hususna para generasi ngora sunda. Leuwih memprihatinkan deui, yén ngagunakeun basa sunda dina komunitasnya sapopoé sakapeung diidentikan kalawan ”katerbelakangan” atawa “kampungan”, untung waé henteu ngomong primitive. Balukarna, timbul rasa gengsi dina urang sunda pikeun ngagunakeun basa sunda dina pergaulana sapopoé. Komo rasa “gengsi” ieu sakapeung kapanggih ogé dina maranéhanana anu sabenerna mangrupa pakar di widang basa sunda, kaasup pikeun saukur ngaku dirina nyaéta pakar atawa berlatar tukang keahlian di widang basa sunda.

Pangabisa kabudayaan sunda pikeun ngalakonan mobilitas, boh vertikal boh horizontal, bisa disebutkeun pohara lemah. Ku lantaran éta, tong boro di luar komunitas sunda, di jero komunitas sorangan, kabudayaan sunda remen ogé karasaeun deungeun. Sabab éta kabudayaan sunda bisa disebutkeun pendék kénéh ku kituna kabudayaan sunda henteu waé jalan di tempat tapi ogé leumpang mundur..

Patula-patali pageuh kalawan dua pangabisa tiheula, pangabisa tumuwuh sarta ngembang kabudayaan sunda ogé bisa disebutkeun nempokeun tampilan anu henteu éléh memprihatinkeun. Tong boro nyarita paradigma-paradigma anyar, itikad pikeun ngalestarikeun naon anu geus dipiboga waé bisa disebutkeun pohara lemah. Sajaba ti éta, kabudayaan sunda ogé kasampak kurang muka rohang pikeun lumangsungna regenerasi. Budaya “Kumaha akang”, “teu langkung akang”, sarta “Mangga tipayun”, anu kitu kentel dina kahirupan sapopoé urang sunda, bisa disebutkeun jadi salah sahiji cukang lantaran mundurna budaya sunda dina prosés regenerasi. Balukarna, jadi we budaya sunda arap-ap eureup-eup kalawan regenerasi.

 
Powered by Blogger